Saat Liang Makam Dibuka, Kafan Abu Zamroh Masih Terlihat Utuh Setelah 26 Tahun
Walau sudah 26 tahun dikuburkan, jenazah Abu Zamroh yang terbalut kain kafan terlihat masih utuh ketika makamnya dibongkar. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News — Gempar terjadi saat pemindahan delapan makam di Taman Makam Jugrug. Minggu 31 Mei 2026, warga Candirejo menemukan jasad Abu Zamroh masih utuh. Padahal almarhum dikubur sejak 30 September 2000. Kain kafan membungkus rapat tanpa robek sedikit pun. Peristiwa langka ini terjadi di Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu.
Pemindahan dilakukan karena lokasi pemakaman lama rawan longsor. Delapan makam berada di lereng bukit berpasir. Sejak pukul 07.30 WIB, sekitar seratus warga bergotong royong. Mereka membongkar satu per satu liang lahat tua. Tujuh makam lain hanya menyisakan tulang belulang. Semua dipindahkan 30 meter dari titik semula.
Miyos Sarwono, anak ketiga Abu Zamroh, menyaksikan langsung pembongkaran makam. Pria 43 tahun itu sudah bertanya-tanya sejak awal. Ia penasaran terhadap kondisi jasad ayahnya setelah 26 tahun. "Awalnya seperti apa kondisinya, saya bertanya-tanya juga," ujar Miyos Sarwono, Selasa, 2 Juni 2026. Pertanyaan itu terjawab ketika cangkul menyentuh kain.
Penggali melihat hal berbeda pada liang keempat. Bagian bahu kain kafan tampak menonjol dari tanah. Mereka lanjut menggali hati-hati dari kepala sampai kaki. Ternyata balutan kafan masih utuh menyelubungi tubuh. Keluarga sudah menyiapkan kotak 1 meter kali 30 sentimeter. Kotak itu ternyata tak terpakai untuk Abu Zamroh.
"Kotak kami sediakan untuk tulang-tulang besar yang dikumpulkan," kata Miyos Sarwono. "Tapi jenazah ayah masih utuh, kepala, tangan, bahu, badan, siku, kaki." Miyos sempat mengintip dari sela kain kafan. Ia hanya melihat lapisan kafan berlapis tanpa celah. Bentuk tubuh almarhum masih jelas terlihat sempurna.
Aven Putranto, warga yang ikut menggali, ikut bersaksi. Ia menyebut penggalian langsung diubah jadi hati-hati. "Pas makam lain tinggal tulang, makam ini masih ada kain," ujar Aven Putranto. "Dicongkel sedikit demi sedikit pakai cangkul." Saat diangkat, kafan masih terselimut tanah tipis. Tali pengikat kafan juga masih lengkap terpasang.
"Ditambah kain baru, diangkat bertiga," kata Aven Putranto. "Tidak ada aroma sama sekali." Kesaksian ini diamini banyak warga di lokasi. Tak ada bau amis atau menyengat tercium. Justru suasana haru menyelimuti Bukit Jugrug siang itu. Beberapa keluarga menangis, sebagian warga terdiam takjub.
Sekretaris Desa Candirejo, Ade Putra, menjelaskan alasan pemindahan. Lokasi makam lama berdiri di tebing rawan longsor. Makam itu ada sejak 1990-an di tanah hibah 1980-an. "Dulu akses jalan belum ada, hanya daerah bukit," ujar Ade Putra SE. "Sekarang jalan dibuka, makam dirapikan lagi nanti." Total delapan makam dipindah hari itu.
Ade Putra ikut menyaksikan pembongkaran makam Abu Zamroh. Kedalaman makam sekitar dua meter dari permukaan. "Pas diangkat, kain kafan masih utuh," kata Ade Putra. "Tidak ada tulang lepas. Cuma kain menempel mulai tumbuh serabut." Kondisi itu beda jauh dengan tujuh makam lain. "Makam lain jenazahnya hancur, tinggal tulang," ujarnya.
Abu Zamroh meninggal pada 30 September 2000 pada usia 52 tahun. Ia lahir pada 5 Oktober 1948 dan hidup sederhana. Miyos mengenang ayahnya sebagai pekerja serabutan. "Bapak kerja serabutan," ucap Miyos Sarwono. Saat ayah wafat, Miyos baru lulus SMP. Ia berusia 15 tahun dengan enam saudara lain.
Rumah sederhana menjadi saksi perjuangan Abu Zamroh untuk membesarkan tujuh anak. "Alhamdulillah, sekarang kami tidak susah seperti dulu," kata Miyos Sarwono. Pesan ayahnya paling diingat: rukun dengan keluarga. "Yang saya ingat, bapak selalu berpesan supaya rukun," ujar Miyos. Warga mengenal Abu Zamroh sebagai sosok sabar.
"Seingat saya, beliau orang sederhana, sabar dan selalu mengalah," kata Miyos Sarwono. "Kalau ada yang lain, itu hanya Allah yang tahu." Aven Putranto juga mendengar cerita warga soal almarhum. "Beliau orangnya tidak neko-neko," ujar Aven Putranto. Tak ada yang tahu amalan khusus Abu Zamroh.
Tokoh masyarakat Haji Harpen Arsadi turut hadir di lokasi. Ia menyebut pemindahan demi keselamatan warga. "Lokasi pertama berada di lereng rawan longsor," kata Haji Harpen Arsadi. Soal sosok Abu Zamroh, ia serahkan pada keluarga. "Yang jelas beliau pasti orang baik," ujar Haji Harpen Arsadi.
Proses pemindahan selesai menjelang pukul 14.00 WIB. Tanah makam lama mulai dirapikan warga. Doa dipanjatkan bersama di lokasi baru. Bagi Miyos, hari itu bukan sekadar pindah makam. Momen itu menghadirkan lagi kenangan tentang ayahnya. Seorang ayah pekerja keras yang mewariskan pesan rukun.
Fenomena ini membuat warga Desa Candirejo takjub. Delapan makam dibongkar, hanya satu yang utuh. Miyos mengaku banyak ditanya soal amalan ayahnya. Namun, ia tak berani menjawab pertanyaan itu. "Sudah banyak pertanyaan dari sahabat-sahabat terkait amalan," kata Miyos Sarwono. Ia serahkan semua pada kehendak Tuhan.
Peristiwa Minggu 31 Mei 2026 itu jadi cerita warga. Setelah 26 tahun, Abu Zamroh kembali dikenang. Kesederhanaan dan kesabarannya meninggalkan kesan mendalam. Makam baru kini lebih aman dari longsor. Kisah kain kafan utuh pun tersebar cepat. Bukit Jugrug menyimpan cerita haru sekaligus takjub. R-02

