Perang Berhenti Tiba-tiba! AS dan Iran Sepakat Menahan Diri
Kapal tanker minyak di Selat Hormuz. (sumber: Reuters)
JAKARTA, SabangMerauke News – Amerika Serikat hentikan serangan ke Iran sejak Jumat lalu, 24 Juli 2026. Iran juga menyatakan menahan diri dari balasan. Oman kini memimpin perundingan di Selat Hormuz.
Jeda ini terjadi setelah 13 hari serangan terus berlanjut. Tak ada pengumuman resmi dari pihak AS. Dunia bertanya langkah apa yang diambil Donald Trump.
Militer Iran menyampaikan sikap resmi pada hari Minggu. Mereka menahan diri merespons jeda serangan AS. Harapan damai mulai terlihat di sana.
“AS mungkin punya rencana lain ke depan. Situasi kini bukan keinginan mereka. Jika perang dilanjutkan, medan tempur meluas,” ujar Mohammad Akraminia, juru bicara militer Iran, Minggu, 26 Juli 2026.
Pertemuan pejabat Iran dan Oman berlangsung akhir pekan. Upaya penyelesaian krisis pelayaran kini terbuka. Selat Hormuz adalah jalur paling vital dunia.
Konflik ini meletus sejak akhir Februari silam. AS dan Israel berhadapan langsung dengan Iran. Houthi ikut meluaskan medan perang baru.
Kelompok Houthi menyerang Arab Saudi. Kapal-kapal di Laut Merah juga jadi sasaran. Ketegangan menyebar ke banyak wilayah lain.
Harga minyak dunia langsung merespons perubahan ini. Angka per barel turun mendekati angka sembilan puluh tujuh. Pasar menanti kepastian arah kebijakan.
Beberapa analis memperkirakan harga minyak tetap tinggi. Angka bisa tembus seratus dolar akhir tahun. Ketegangan belum sepenuhnya hilang begitu saja.
“Ketenangan ini masih sangat rapuh dan belum pasti. Satu kesalahan kecil bisa memicu api kembali,” kata pengamat keamanan Lina Meilani.
Kendali jalur pelayaran masih menjadi poin utama. Ribuan kapal tanker melintas setiap harinya. Pasokan energi dunia bergantung pada jalur ini.
Iran berhak menentukan nasib perairan itu. AS mengaku menjaga kebebasan pelayaran global. Kedua belah pihak punya argumen masing-masing.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turun bicara. Teheran siap berdialog dengan jembatan Oman. Namun mereka tak akan menerima tekanan sepihak.
Pemerintah Oman berperan sebagai pihak netral. Hubungan baik dengan kedua belah pihak dimiliki. Peran ini dipercaya sejak lama oleh mereka.
Donald Trump pernah menyatakan militer siap tempur. Pernyataan itu disampaikan saat ketegangan memuncak. Kini sikapnya berubah menjadi diam saja.
Negara lain mulai mengamati situasi ini. Kawasan Asia dan Eropa ikut cemas akan dampaknya. Pasokan energi bisa terganggu sewaktu-waktu nanti.
Kapal-kapal yang tertunda mulai bergerak pelan. Namun lalu lintas belum kembali normal total. Kapten kapal masih menanti jaminan keamanan.
Ancaman dari pihak Houthi masih ada di sana. Serangan ke Laut Merah belum sepenuhnya berhenti. Situasi di sana tetap berbahaya bagi kapal.
Para ahli meminta kedua pihak bersabar. Dialog adalah jalan satu-satunya yang aman. Perang hanya merugikan semua pihak yang ada.
“Kesepakatan harus menguntungkan semua pihak. Tak boleh ada yang merasa dipaksa kalah,” tambah Lina Meilani lagi.
Kedutaan besar berbagai negara sibuk memantau. Warga negaranya diimbau waspada ke Timur Tengah. Perjalanan ke daerah konflik sebaiknya ditunda dulu.
Dunia berharap jeda ini berujung damai. Selat Hormuz kembali aman dan tenang. Pasokan energi dunia mengalir tanpa gangguan.
Namun tak ada yang bisa menjamin hasilnya. Skenario terburuk tetap harus disiapkan semua pihak. Perubahan situasi bisa terjadi sewaktu-waktu saja.
Semua mata kini tertuju pada Oman. Keberhasilan perundingan menentukan nasib dunia. Apakah perang benar-benar usai atau sekadar jeda? R-02

