Desa Alai Sulap Ikan Lomek Jadi Produk UMKM Bernilai Ekonomi Tinggi, Siap Tembus Pasar Lebih Luas
Produk pangan berbahan ikan hasil UMKM Desa Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti. Foto: Istimewa
KEPULAUAN MERANTI - Desa Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, menjadi salah satu contoh desa yang berhasil mengembangkan potensi sumber daya laut menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Melalui inovasi masyarakat, ikan lomek (Harpodon nehereus) yang selama ini hanya dikonsumsi segar atau diolah menjadi ikan asin, kini telah disulap menjadi berbagai produk pangan modern seperti nugget, bakso, keripik, otak-otak hingga abon.
Keberhasilan tersebut menjadikan Desa Alai sejak lama dinilai layak sebagai Cluster Produk Makanan Berbasis Ikan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Berbagai inovasi yang lahir dari masyarakat membuktikan bahwa komoditas lokal mampu memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga pesisir.
Salah satu tokoh yang berperan besar dalam pengembangan produk olahan ikan lomek adalah Ruslan. Ia mengatakan, gagasan tersebut muncul dari keprihatinannya melihat melimpahnya hasil tangkapan ikan lomek yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurutnya, setiap hari nelayan hanya menjual ikan lomek berukuran besar, sementara ikan berukuran kecil umumnya dijadikan ikan asin atau bahkan terbuang karena tidak memiliki nilai jual.
"Melihat kondisi itu, kami berpikir bagaimana caranya agar ikan lomek bisa diolah menjadi produk hilir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," ujar Ruslan.
Upaya tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai percobaan bersama kelompok masyarakat. Momentum penting terjadi pada 2013 ketika mahasiswa Universitas Riau yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) ditempatkan di Desa Alai.
Ruslan menceritakan, kepada para mahasiswa itulah masyarakat menyampaikan potensi besar sumber daya ikan lomek yang belum dimanfaatkan secara optimal. Berangkat dari diskusi tersebut, dilakukan berbagai uji coba hingga berhasil menghasilkan bakso berbahan dasar ikan lomek.
"Mahasiswa Kukerta ikut membantu melakukan berbagai percobaan sampai akhirnya lahirlah bakso ikan lomek," katanya.
Tidak hanya itu, Ruslan bersama istrinya juga pernah mengikuti pelatihan pengolahan hasil perikanan yang diselenggarakan Dinas Perikanan Provinsi Riau. Dari pelatihan tersebut, mereka memperoleh pengetahuan membuat nugget berbahan ikan.
Inspirasi itu kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan ikan lomek sebagai bahan baku utama. Setelah berhasil memproduksi nugget, inovasi kembali berlanjut dengan menciptakan produk otak-otak ikan lomek serta berbagai olahan lainnya.
Seluruh pengetahuan tersebut kemudian ditularkan kepada masyarakat melalui kelompok usaha Dapur Pesisir, yang hingga kini menjadi motor pengembangan produk olahan berbasis ikan lomek di Desa Alai.
"Kami meminta mahasiswa untuk mengajarkan masyarakat cara mengolah ikan lomek menjadi bakso dan produk lainnya. Sekarang kami sudah memiliki kelompok Dapur Pesisir yang terus mengembangkan usaha ini," jelas Ruslan.
Melalui kelompok tersebut, pemasaran produk tidak lagi hanya terbatas di Desa Alai. Produk olahan ikan lomek kini telah dipasarkan ke Selatpanjang dan beberapa daerah lain berdasarkan pesanan.
Dalam kondisi permintaan tinggi, kelompok Dapur Pesisir bahkan mampu mengolah sekitar 30 kilogram ikan lomek bersih setiap hari. Dari jumlah tersebut dapat dihasilkan sekitar 60 kilogram nugget maupun bakso yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram.
"Alhamdulillah, peminatnya cukup banyak. Namun kami masih menghadapi kendala pada pemasaran, pengemasan, modal usaha, hingga ketersediaan bahan baku yang mulai berkurang dan harganya semakin tinggi," ungkap Ruslan.
Ia berharap adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar produk olahan ikan lomek asal Kepulauan Meranti semakin dikenal masyarakat luas dan mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.
Menurutnya, selama ini pemasaran masih dilakukan secara terbatas melalui rumah produksi, gerai oleh-oleh di Selatpanjang, serta beberapa swalayan.
"Kami sebenarnya ingin membuka kedai khusus di Selatpanjang. Namun karena berbagai keterbatasan, rencana tersebut belum dapat direalisasikan," ujarnya.
Secara kualitas, nugget ikan lomek memiliki tekstur yang tidak kalah dengan nugget berbahan ayam. Rasanya yang gurih serta kandungan protein yang tinggi menjadi nilai tambah tersendiri sehingga diyakini memiliki daya saing yang kuat di pasaran.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.
Menurutnya, kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan legalitas menjadi faktor utama dalam pengembangan usaha.
"Pelaku UMKM harus siap mengembangkan usahanya dan memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan agar produknya dapat dipasarkan lebih luas," kata Eko.
Ia menjelaskan, selain memiliki sertifikat halal dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), produk yang akan masuk ke minimarket maupun pasar modern juga memerlukan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pemerintah daerah, lanjutnya, siap memfasilitasi proses perizinan tersebut, termasuk melalui program sertifikasi halal gratis bagi pelaku UMKM.
Eko menambahkan, salah satu tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM di Kepulauan Meranti adalah standar tempat produksi yang harus memenuhi persyaratan higienitas dan terpisah dari aktivitas rumah tangga.
"Kalau seluruh legalitas sudah terpenuhi, produk tidak hanya dipasarkan di Meranti, tetapi juga berpeluang menembus pasar regional, nasional hingga luar negeri," ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan UMKM, Dinas Koperasi juga mendorong Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar berperan sebagai mitra pemasaran sekaligus inkubator bagi produk-produk unggulan daerah.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai inovasi masyarakat Desa Alai dalam mengolah ikan lomek menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi.
Menurutnya, inovasi tersebut mampu meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat pesisir.
Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan pendampingan secara berkelanjutan, baik melalui pelatihan, bantuan perizinan maupun promosi produk.
"Potensi seperti ini harus kita dukung bersama. Kalau kualitas produknya terus ditingkatkan dan pemerintah daerah memberikan dukungan kepada pelaku usaha, kami di legislatif siap mendukung setiap upaya meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal," ujar Lianita.
Melimpahnya sumber daya laut yang dimiliki Kepulauan Meranti menjadi modal besar dalam mengembangkan industri pengolahan hasil perikanan. Inovasi yang dilakukan masyarakat Desa Alai membuktikan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, sekaligus membuka peluang bagi UMKM untuk tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi masyarakat pesisir. (Adv)

