Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Kuasai Pasar Saat Minyak dan Konflik Dunia Memanas
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Rupiah kembali kehilangan tenaga pada perdagangan Jumat pagi, 24 Juli 2026. Dolar Amerika Serikat terus memperlihatkan domaknya. Tekanan global belum menunjukkan tanda mereda.
Nilai tukar rupiah dibuka di Rp17.930 per dolar AS. Posisi itu melemah dibanding penutupan sebelumnya. Pelemahan terjadi sejak awal perdagangan pekan terakhir.
Pasar sebenarnya sempat melihat indeks dolar sedikit turun. Namun koreksi itu belum mengubah arah utama. Dolar tetap bertengger dekat level tertinggi tiga pekan.
Gelombang tekanan datang dari Timur Tengah. Harga minyak Brent melonjak menembus US$100 per barel. Angka itu kembali terlihat setelah terakhir muncul pada Mei lalu.
Kenaikan tersebut dipicu serangan kelompok Houthi. Dua kapal tanker Arab Saudi menjadi sasaran. Jalur energi dunia kembali terguncang.
Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman militer. Iran dan kelompok Houthi masuk dalam daftar sasaran. Pelaku pasar langsung memburu aset aman.
"Dinamika geopolitik selalu meningkatkan permintaan terhadap dolar," tulis analisis pasar Samuel Sekuritas. "Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko."
Lonjakan minyak memunculkan ancaman baru bagi Indonesia. Negara masih bergantung pada impor bahan bakar. Harga energi yang mahal meningkatkan tekanan biaya.
Rata-rata harga minyak sepanjang tahun telah mencapai sekitar US$88 per barel. Nilai itu jauh melampaui asumsi APBN. Anggaran negara menghadapi tantangan lebih berat.
Tekanan berikutnya datang dari Washington. Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif baru terhadap puluhan negara. Indonesia termasuk penerima tarif sebesar 10 persen.
Langkah tersebut memperbesar kecemasan pelaku pasar. Perdagangan global diperkirakan melambat. Aktivitas ekspor negara berkembang ikut terancam.
Kondisi itu memperkuat posisi dolar. Investor memilih memindahkan dana menuju instrumen berdenominasi dolar. Mata uang negara berkembang ikut tertekan.
Di pasar offshore, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.074 per dolar. Angka itu memperlihatkan tekanan lebih besar dibanding pasar domestik. Volatilitas meningkat sejak perdagangan malam.
Perdagangan Non-Deliverable Forward mencerminkan kegelisahan investor. Pelaku pasar menyiapkan perlindungan menghadapi gejolak berikutnya. Permintaan dolar terus meningkat.
Tidak hanya rupiah mengalami tekanan. Ringgit Malaysia ikut melemah. Baht Thailand serta dolar Singapura juga bergerak di zona merah.
Sebaliknya, won Korea Selatan dan yen Jepang mampu bertahan. Penguatannya tetap terbatas. Pasar Asia bergerak dengan arah berbeda.
Samuel Sekuritas memperingatkan risiko terhadap pembiayaan APBN. Kebutuhan pembiayaan diperkirakan semakin bergantung pada penerbitan utang. Investor akan mencermati disiplin fiskal pemerintah.
"Pasar akan mengukur kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap terkendali," tulis Samuel Sekuritas. "Kepercayaan investor sangat menentukan."
Tekanan global juga meningkatkan peluang arus modal keluar. Dana asing berpotensi meninggalkan pasar berkembang. Rupiah menghadapi ujian tambahan.
Bank Indonesia masih memiliki berbagai instrumen stabilisasi. Namun ruang kebijakan semakin sempit. Inflasi domestik berada dekat batas atas sasaran.
Kondisi tersebut mempersempit peluang pelonggaran moneter. Suku bunga acuan bahkan berpotensi kembali naik. Langkah itu dilakukan jika tekanan inflasi impor membesar.
"Risiko imported inflation perlu diwaspadai," tulis Samuel Sekuritas. "Kenaikan suku bunga tetap menjadi opsi."
Secara teknikal, tekanan terhadap rupiah belum selesai. Level Rp17.950 menjadi batas pertama. Selanjutnya pasar mengincar Rp18.000 per dolar.
Jika tekanan semakin besar, pelemahan dapat berlanjut menuju Rp18.100. Level tersebut dipandang sebagai area pertahanan berikutnya. Investor terus memantau volume transaksi.
Sebaliknya, peluang penguatan masih tersedia. Rupiah harus mampu kembali menembus Rp17.900. Target berikutnya berada di sekitar Rp17.800 per dolar.
Pergerakan hari ini memperlihatkan satu pesan penting. Rupiah tidak hanya menghadapi tekanan domestik. Geopolitik, minyak, dan kebijakan dagang dunia kini bergerak dalam satu irama.
Selama konflik Timur Tengah belum mereda, harga energi tetap tinggi. Selama dolar tetap diburu, tekanan terhadap rupiah sulit menghilang. Pasar pun memilih berhitung sebelum mengambil risiko. R-02

