Dolar AS Kembali Terbang 46 poin, Hampir Sentuh Rp18.000 Lagi
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada Rabu, 22 Juli 2026. Data Bloomberg pukul 09.05 WIB catat rupiah turun 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp17.934 per dolar AS. Indeks dolar AS terpantau stabil di angka 101.171 pada sesi yang sama.
Satu hari sebelumnya, rupiah sempat mencatatkan penguatan cukup menggembirakan. Pada penutupan Selasa, 21 Juli 2026, mata uang Garuda naik 60 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp17.888 per dolar AS. Namun kekuatan itu tidak bertahan lama menghadapi tekanan global baru.
Ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia Samara Hammoud melihat pola hubungan yang jelas. "Kelanjutan konflik Timur Tengah seharusnya mendukung dolar AS. Statusnya sebagai aset aman berkorelasi positif dengan harga minyak," ujar Samara.
Tekanan Global Makin Berat
Yen Jepang tertahan di dekat level terendah hampir empat dekade pagi ini. Mata uang negara matahari terbit menyentuh angka 163,24 per dolar AS, titik terlemah sejak akhir tahun 1986. Pada awal sesi Asia, yen sedikit membaik ke posisi 163,21 namun tetap sangat lemah.
Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi pemicu utama. Kedua faktor itu secara langsung memperkuat posisi dolar AS di pasar global. Mata uang negara berkembang termasuk rupiah otomatis menerima tekanan beruntun.
Euro terakhir tercatat di angka 1,1401 dolar AS per satu unitnya. Dolar Australia bertahan di level 70 sen terhadap mata uang Amerika. Dolar Selandia Baru berada tepat di atas rata-rata pergerakan 200 hari di angka 0,5825 dolar AS.
Poundsterling Inggris jatuh menembus rata-rata pergerakan 200 hari ke posisi 1,3385 dolar AS. Pedagang sedang menimbang rencana menteri keuangan baru Inggris John Healey. Mereka mencari tahu cara pemerintah baru mendanai pengeluaran negaranya.
Di pasar Non-Deliverable Forward, rupiah menguat terbatas pada sesi Rabu. Awalnya rupiah membuka perdagangan dengan kondisi stagnan. Kemudian mendapat tenaga penguatan tipis 0,04 persen ke level Rp17.946 per dolar AS.
Penguatan terbatas itu dipicu pelemahan kecil indeks dolar AS. Indeks dolar menyusut 0,04 persen ke posisi 101,13 pada saat yang sama. Hal ini memberi ruang napas bagi sebagian mata uang kawasan Asia.
Won Korea Selatan menguat 0,2 persen menjadi yang terbaik di kawasan. Yen Jepang, yuan luar negeri, dan dolar Hong Kong juga mencatatkan penguatan lebih terbatas. Sebaliknya ringgit Malaysia melemah 0,13 persen bersama dolar Singapura.
Ancaman Minyak dan Geopolitik
Harga minyak mentah kembali melonjak menyentuh 91,59 dolar AS per barel. Kenaikan dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan merespons jika Houthi ganggu pelayaran Laut Merah.
Trump juga kembali menegaskan niat menyerang lokasi fasilitas nuklir Iran. Ancaman ini langsung memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Permintaan dolar AS sebagai aset aman pun melonjak tajam di pasar.
Rupiah tercatat melemah paling dalam hampir empat pekan terakhir. Tekanan datang dari ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Kebutuhan pembayaran impor minyak serta jual bersih asing di Surat Berharga Negara memperberat beban rupiah.
Ekspektasi Kebijakan Bank Indonesia
Pasar saat ini sedang menantikan keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Banyak ekonom memprediksi BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Langkah itu dianggap perlu demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ekonom CIMB Niaga Mika Martumpal melihat urgensi langkah tersebut. "BI Rate diperkirakan naik 25 bps ke 6,00 persen. Langkah ini pastikan stabilitas rupiah di tengah risiko geopolitik yang memanas," ujar Mika.
Chief Economist Valbury Asia Futures Fikri C Permana sependapat dengan pandangan itu. Kenaikan bunga masih dibutuhkan bukan hanya karena volatilitas rupiah. BI juga harus mengantisipasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter global lebih lanjut.
"Faktornya adalah volatilitas rupiah yang masih besar. Ekspektasi kenaikan Fed Rate tahun ini makin besar. Dorongan lain meningkatkan daya tarik aset portofolio domestik," jelas Fikri.
Jika kenaikan terealisasi dan BI beri sinyal siklus pengetatan masih berlanjut, rupiah berpotensi bertahan. Pergerakan diproyeksikan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS di pasar spot. Namun tekanan eksternal yang berat tetap membatasi ruang penguatan.
Proyeksi Jangka Pendek
Kepala Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede memiliki pandangan yang lebih hati-hati. Ia memproyeksikan pelemahan rupiah akan mencapai puncaknya pada kuartal III 2026. Mata uang Garuda bisa bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Puncak tekanan dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Dari luar, kenaikan harga minyak, permintaan dolar AS, dan ekspektasi suku bunga AS yang tinggi menjadi beban utama. Dari dalam, neraca eksternal yang mulai rapuh dan kepercayaan pasar yang belum pulih menambah beban.
Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 1,16 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama dalam lebih dari enam tahun terakhir. Lonjakan impor 22,16 persen secara tahunan menjadi penyebab utama di tengah pelemahan ekspor.
Josua menambahkan tingginya impor mencerminkan masih kuatnya aktivitas ekonomi domestik. Namun hal itu juga meningkatkan permintaan dolar AS untuk pembelian bahan baku, barang modal, dan energi. Arus modal asing sendiri belum sepenuhnya kokoh bertahan di dalam negeri.
Aliran dana masih didominasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Sementara pasar saham tetap mencatat arus keluar modal atau capital outflow. Kombinasi ini membuat posisi rupiah tetap rentan terhadap guncangan sentimen negatif.
Langkah hawkish Bank Indonesia hari ini diperkirakan hanya mampu menahan laju pelemahan rupiah. Stabilitas pasar keuangan jangka pendek bisa terjaga berkat kebijakan tersebut. Namun perbaikan berkelanjutan membutuhkan meredanya tekanan eksternal dan pulihnya kepercayaan investor.
"Pelemahan rupiah kuartal III bukan kegagalan BI. Ini fase ketika tekanan eksternal dan domestik bertemu pada waktu yang sama," sebut Josua.
Stabilisasi rupiah ke depan tidak hanya bergantung pada respons kebijakan moneter. Redanya ketegangan geopolitik dan pulihnya kepercayaan terhadap aset keuangan domestik sama pentingnya. Semua pihak harus bersabar menghadapi fase sulit ini. R-02

