Dua Tentara AS Tewas! Sasaran Serangan Melebar ke Infrastruktur Sipil Iran
Presiden AS, Donald Trump
JAKARTA, SabangMerauke News – Amerika Serikat melancarkan serangan militer baru terhadap Iran pada Sabtu, 18 Juli 2026. Langkah ini diambil sehari setelah serangan Iran di Yordania. Dua personel militer AS tewas dalam insiden berdarah itu.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyampaikan pernyataan resmi. Serangan bertujuan melemahkan kemampuan ancaman maritim Iran. Langkah ini juga sebagai hukuman atas serangan ke Yordania.
Serangan Iran pada Jumat, 17 Juli 2026, menewaskan dua tentara AS. Empat personel lainnya mengalami luka-luka serius. Satu prajurit lain dinyatakan hilang hingga kini.
Jumlah total korban tewas militer AS kini mencapai 16 orang. Angka ini tercatat sejak perang dimulai 28 Februari. Ketegangan terus meruncing tanpa tanda mereda.
Pemerintah Iran umumkan sikap tegas pada Sabtu. Mereka tak lagi mematuhi ketentuan perjanjian damai sementara. Keputusan diambil sebagai balasan atas serangan terbaru AS.
Iran melancarkan serangan besar-besaran ke negara Teluk. Sasaran mencakup wilayah Kuwait hingga Yordania. Ini adalah respons langsung terhadap tindakan Washington.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengeluarkan peringatan keras. Ia berjanji memberikan pelajaran tak terlupakan ke Amerika. Pernyataan resmi dipublikasikan pada Sabtu ini.
"Tanda tangan presiden AS tak bernilai dan tidak sah sama sekali," ujar Khamenei. Ia merujuk pada pelanggaran AS terhadap nota kesepahaman damai. Kesepakatan itu mengatur gencatan senjata selama 60 hari.
Perjanjian juga membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Kedua pihak sempat berunding soal pembatasan program nuklir Iran. Semua kesepakatan kini dianggap gugur oleh Teheran.
Khamenei belum tampil di depan umum sejak hari-hari awal perang. Ayahnya dan sejumlah kerabat tewas dalam serangan AS. Ia sendiri mengalami luka parah saat kejadian itu.
Saling balas serangan kini berlangsung selama sepekan terakhir. Sasaran tak lagi terbatas pada pangkalan militer semata. Jembatan, fasilitas air, dan pelabuhan pun ikut diserang.
Peluang kembali ke gencatan senjata terasa makin tipis. Perjanjian yang ditandatangani bulan lalu kini tinggal nama. Kedua pihak tak mau menurunkan ego sedikit pun.
Pihak berwenang Iran merilis data korban serangan AS. Sebanyak 50 orang tewas sejak 27 Juni lalu. Lebih dari 500 warga lainnya menderita luka-luka.
Serangan AS juga menghantam fasilitas desalinasi air. Jembatan penghubung dan ratusan menara telekomunikasi ikut rusak. CENTCOM belum memberikan tanggapan atas laporan ini.
Kuwait menjadi salah satu negara terdampak serangan Iran. Maskapai Kuwait Airways ubah jadwal sebagian besar penerbangan. Upaya evakuasi warga tetap berjalan sesuai rencana.
Kementerian Listrik dan Air Kuwait tangani kebakaran hebat. Titik api berada di pembangkit listrik utama negara. Fasilitas pengolahan air bersih juga terkena serangan.
Kementerian Luar Negeri Kuwait tegas mengecam tindakan Iran. "Serangan berulang sasaran aset sipil adalah agresi sistematis," bunyi pernyataan resmi mereka. Tindakan ini melanggar hukum internasional yang berlaku.
Iran juga menyerang fasilitas militer AS di Qatar. Kantor berita Tasnim merilis laporan kejadian ini. Radar dan pesawat militer menjadi sasaran utama serangan.
Qatar selama ini berperan sebagai perantara damai. Posisi netral negara itu kini terancam bahaya. Situasi ini membuat upaya mediasi makin sulit.
CENTCOM merinci gelombang serangan ke Iran pada Jumat. Operasi berakhir pukul 21.30 waktu New York. Pasukan menghantam lokasi pengawasan dan pusat logistik.
Gudang senjata bawah tanah dan pangkalan maritim ikut diratakan. Serangan ini gelombang ketujuh dalam waktu singkat. Persiapan matang dilakukan agar tak ada sisa.
Sekitar 35 kapal pengangkut minyak diserang sejak Maret lalu. Pelayaran komersial di Teluk Persia terganggu parah. Biaya logistik perdagangan dunia ikut melonjak tinggi.
Perluasan sasaran ke infrastruktur sipil tanda perubahan strategi. Puncak perang Maret hingga April masih jauh lebih dahsyat. Kota-kota Iran dibombardir hebat saat masa itu.
Teheran saat itu luncurkan ribuan rudal dan drone. Sasaran menyebar ke negara Arab Teluk dan Israel. Situasi kini belum seburuk masa puncak perang.
Khamenei juga serukan persatuan seluruh rakyat Iran. Seruan ini menyusul kritik keras dari kelompok garis keras. Mereka menentang langkah pemerintah tempuh jalur damai.
"Jangan biarkan kritik merusak persatuan sosial negara," kata Khamenei. Ia minta tak ada ketidakadilan pada pihak tak bersalah. Stabilitas dalam negeri dijaga di tengah ancaman luar.
Harga minyak mentah Brent melonjak tajam pada Jumat. Kenaikan tercatat sekitar 4,6 persen dalam sehari. Harga tutup di kisaran angka US$88 per barel.
Ini adalah kenaikan mingguan terbesar sejak bulan April. Laporan Axios picu lonjakan harga komoditas ini. AS berencana kirim pesawat pengisian bahan bakar tambahan.
Langkah itu dianggap sinyal perluasan operasi militer. Pihak militer Israel mengonfirmasi rencana penambahan armada. Pesawat tambahan akan ditempatkan di wilayah Israel.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem keluarkan imbauan perjalanan. Warga diminta pertimbangkan kembali kunjungan ke Timur Tengah. Risiko eskalasi mendadak terbilang sangat tinggi.
Pelancong yang tetap berangkat diminta cek jadwal penerbangan. Maskapai penerbangan banyak ubah rute perjalanan. Beberapa jalur udara dinyatakan sementara tak aman.
Presiden AS Donald Trump klaim keberhasilan operasi militer. "Kami meraih kemenangan besar di Iran saat ini," ucapnya. Hasil nyata bakal segera terlihat dalam waktu dekat.
Ia kemudian beralih membahas isu dalam negeri AS. Tiga pekan awal perang merenggut 13 nyawa prajurit. Satu pilot tewas Juli ini akibat kecelakaan helikopter.
Kecelakaan helikopter terjadi di perairan Laut Arab. Total korban tewas AS terus bertambah seiring waktu. Data ini belum termasuk empat yang terluka parah.
China dan Pakistan sampaikan keprihatinan mendalam atas situasi. Kedua negara menyerukan penghentian segera permusuhan. Jalur dialog harus dibuka kembali tanpa syarat.
AS juga kembali berlakukan blokade ketat ke pelabuhan Iran. Pengecualian sanksi ekspor minyak dicabut sepenuhnya. Ekonomi Teheran makin tertekan di tengah gempuran.
Iran tetap bersikeras atur aturan pelayaran Selat Hormuz. Setiap kapal harus minta izin resmi sebelum melintas. Langkah ini mengancam pasokan energi dunia.
Mehran Kamrava adalah pakar politik di Georgetown Qatar. "Kedua pihak terjebak siklus balas serang sulit berhenti," kata dia. Situasi makin berbahaya karena sasaran vital ikut tersentuh.
"Ini tanda jelas kondisi jauh lebih buruk bakal datang," tambah Kamrava. Tak ada pihak benar-benar menghendaki eskalasi ini. Namun langkah mundur terasa tak mungkin dilakukan. R-02

