AI Mengubah Dunia Kerja, Anak Muda Wajib Kuasai Keterampilan Ini Sebelum Terlambat
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat anak muda dituntut memiliki keterampilan yang lebih adaptif. Tak lagi cukup mengandalkan nilai akademik, perusahaan kini lebih mencari calon pekerja yang mampu belajar cepat, beradaptasi, dan menguasai teknologi.
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) bahkan memperkirakan hampir 40 persen keterampilan kerja saat ini akan berubah atau tidak lagi relevan pada 2030. Kondisi tersebut membuat kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi modal utama untuk bertahan di dunia kerja.
Direktur Asosiasi Senior Pengembangan Karier Lulusan Universitas Columbia, Francesca Fanelli, mengatakan anak muda sebaiknya tidak hanya mengejar pekerjaan yang dianggap aman dari dampak AI.
"Anak muda harus berpikiran terbuka, fleksibel, dan mudah beradaptasi. Jangan memilih karier hanya berdasarkan anggapan bahwa pekerjaan tersebut tidak akan tergantikan AI," ujarnya, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations), Sabtu (18/7/2026).
Menurut Fanelli, anak muda justru perlu fokus mengembangkan potensi diri sekaligus membangun keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan.
Ia juga menyarankan agar generasi muda berani mengeksplorasi berbagai industri dan tidak terpaku pada satu jalur karier. Fleksibilitas dinilai menjadi kunci menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja di masa depan.
Selain kemampuan beradaptasi, penguasaan AI kini menjadi salah satu keterampilan yang paling dicari perusahaan. Bukan sekadar menggunakan aplikasi AI, tetapi juga memahami cara membuat perintah (prompt) yang tepat, memanfaatkan AI sebagai alat bantu kerja, serta mampu memverifikasi setiap informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
"AI harus digunakan sebagai asisten, bukan pengambil keputusan. Manusia tetap bertanggung jawab menyelesaikan masalah dan memastikan hasilnya benar," kata Fanelli.
AI juga dinilai dapat membantu pencari kerja dalam menyusun surat lamaran, menganalisis persyaratan pekerjaan, hingga berlatih menghadapi wawancara. Namun, ia mengingatkan agar seluruh dokumen lamaran tetap mencerminkan pengalaman dan karakter asli pelamar.
Di sisi lain, tantangan memasuki dunia kerja juga tidak ringan. Banyak lulusan baru merasa kesulitan karena belum memiliki pengalaman kerja meski telah mengantongi prestasi akademik yang baik. Kondisi ini sering membuat mereka kehilangan rasa percaya diri.
Fanelli menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak keterampilan yang sebenarnya sudah dimiliki mahasiswa selama menjalani pendidikan, seperti kemampuan bekerja sama, komunikasi, menyelesaikan proyek, hingga kerja tim.
Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan soft skill yang hampir selalu menjadi syarat utama dalam berbagai lowongan pekerjaan.
Ia menyarankan agar lulusan baru mampu menjelaskan pengalaman tersebut kepada perusahaan dengan cara yang relevan dan mudah dipahami oleh perekrut.
Selain itu, Fanelli mengingatkan agar anak muda tidak terlalu membebani diri untuk menemukan pekerjaan yang dianggap sempurna sejak awal karier.
Menurutnya, pekerjaan tidak harus memenuhi seluruh tujuan hidup seseorang. Kepuasan hidup juga dapat diperoleh melalui keluarga, pertemanan, komunitas, maupun hobi di luar pekerjaan.
"Kadang pekerjaan hanya berfungsi sebagai sumber penghasilan untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil, dan itu tidak masalah," ujarnya.
Dengan perubahan dunia kerja yang terus berlangsung, kemampuan beradaptasi, menguasai teknologi AI, komunikasi, kolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar diperkirakan akan menjadi bekal utama bagi generasi muda agar tetap kompetitif di masa depan. (R-05)

