AS dan Iran Sama-sama Tertekan, Gencatan Senjata Kini Jadi Kebutuhan Mendesak?
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak yang semakin mahal bagi kedua pihak. Setelah lima hari saling melancarkan serangan dan kesepakatan gencatan senjata resmi runtuh, tekanan ekonomi, kerugian militer, hingga beban politik kini menjadi faktor yang mendorong munculnya kembali wacana perdamaian. Pertanyaannya, siapa yang kini lebih membutuhkan gencatan senjata?
Perang terbaru antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas setelah kedua negara kembali saling menyerang selama lima hari berturut-turut. Kesepakatan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka jalur diplomasi kini dinyatakan tidak lagi berlaku.
Meski peluang dialog masih terbuka, sikap kedua pemimpin negara tetap keras. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan Washington, namun meragukan komitmen Teheran untuk mematuhi setiap perjanjian yang disepakati.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammed Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya tengah menghadapi "perang eksistensial" melawan Amerika Serikat sehingga tidak lagi memiliki alasan mempertahankan kesepakatan damai sebelumnya.
Namun di balik perang pernyataan tersebut, baik AS maupun Iran sama-sama menghadapi tekanan yang semakin berat.
Iran menjadi pihak yang paling merasakan dampak ekonomi akibat sanksi internasional yang kembali diberlakukan. Selama lebih dari satu dekade, sanksi AS membatasi ekspor minyak, menghambat akses pembiayaan internasional, hingga membekukan aset negara.
Akibatnya, produk domestik bruto (PDB) per kapita Iran turun dari sekitar US$8.000 menjadi US$5.000. Sementara ekspor minyak yang sempat mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2012 kini hanya sekitar 1,5 juta barel per hari.
Harapan sempat muncul ketika MoU pada Juni memberikan kelonggaran berupa pencabutan blokade laut, pengecualian sanksi selama 60 hari, dan rencana pencairan aset Iran yang membuat nilai tukar rial menguat sekitar 15 persen. Namun, seluruh kelonggaran itu kembali dicabut setelah konflik memanas pekan ini.
Dari sisi militer, posisi Iran juga semakin tertekan. Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut kemampuan pertahanan Iran terus melemah akibat gelombang serangan AS dan Israel.
Iran diperkirakan telah menghabiskan sekitar 30 persen stok rudalnya sebelum perang dan sekitar 60 persen persediaan drone. Berbagai fasilitas strategis seperti pelabuhan, kapal perang, industri pertahanan hingga instalasi nuklir turut menjadi sasaran serangan.
Tekanan diplomatik juga meningkat setelah sejumlah serangan terhadap aset militer AS di kawasan Teluk ikut berdampak pada wilayah negara lain dan memicu korban sipil. Kondisi tersebut mendorong negara-negara Teluk memperkuat koordinasi pertahanan dan sistem berbagi intelijen.
Meski demikian, Amerika Serikat juga tidak luput dari konsekuensi perang yang berkepanjangan.
Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia sekitar 12 persen. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat Amerika setelah harga bensin melonjak dari sekitar US$2,98 menjadi US$4,63 per galon.
Kenaikan biaya energi mulai memengaruhi opini publik. Survei YouGov menunjukkan sekitar 57 persen warga Amerika menilai keputusan pemerintahan Donald Trump melanjutkan perang merupakan langkah yang keliru. Kondisi tersebut berpotensi menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Selain tekanan politik, persediaan amunisi canggih militer AS juga mulai menipis. Menurut CSIS, sedikitnya empat dari tujuh jenis senjata utama yang digunakan telah menghabiskan sekitar separuh stok sejak fase awal konflik.
Proses pengisian kembali diperkirakan memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hingga 14 Juli, perang juga telah menyebabkan 14 personel militer AS tewas dan 414 lainnya mengalami luka-luka.
Pengamat Hubungan Internasional dari Australian National University, Alam Saleh, menilai tekanan ekonomi tidak akan cukup untuk memaksa Iran menyerah.
Menurutnya, Iran telah terbiasa hidup di bawah sanksi selama puluhan tahun sehingga hanya akan menerima kesepakatan yang benar-benar menjamin keamanan nasionalnya.
Sementara itu, pakar keamanan International Crisis Group Brian Finucane menilai Washington kini menghadapi persoalan yang lebih luas, yakni menjaga kesiapan militernya apabila harus menghadapi potensi konflik lain, termasuk dengan China.
Saleh juga menilai perang berkepanjangan sama-sama merugikan kedua negara. Namun, menurutnya, Amerika Serikat menghadapi risiko yang lebih besar dari sisi reputasi internasional apabila konflik terus berlanjut tanpa hasil yang jelas.
Dengan tekanan ekonomi yang membebani Iran dan meningkatnya biaya politik serta militer yang harus ditanggung Amerika Serikat, peluang kembali ke meja perundingan dinilai semakin terbuka. Meski demikian, selama kedua pihak masih mempertahankan sikap keras, jalan menuju gencatan senjata diperkirakan masih akan menghadapi tantangan besar. (R-05)

