IHSG Ditutup Menguat 1,10 Persen Meski Bursa Asia Mengalami Koreksi Tajam
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen menuju level 6.175,535 pada Jumat. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen menuju level 6.175,535 pada Jumat. Nilai transaksi mencapai Rp16,16 triliun dengan 29,04 miliar saham diperdagangkan selama 2,02 juta transaksi. Kinerja positif tersebut berbanding terbalik dengan pelemahan mayoritas bursa saham Asia sepanjang perdagangan.
Data RTI Business memperlihatkan aktivitas perdagangan berlangsung tinggi sepanjang sesi kedua hari tersebut. Penguatan indeks didukung kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar lintas sektor domestik. Sentimen internal berhasil meredam tekanan pasar keuangan internasional sepanjang perdagangan berlangsung.
Data Stockbit mencatat sektor keuangan memimpin penguatan dengan kenaikan mencapai 2,34 persen sepanjang perdagangan. Sektor siklikal mengikuti kenaikan sebesar 0,80 persen disusul kesehatan 0,67 persen serta properti 0,38 persen. Pergerakan tersebut memperlihatkan minat investor masih terfokus pada saham berfundamental kuat.
“Sektor keuangan mencatatkan kenaikan tertinggi mencapai 2,34 persen,” tulis data perdagangan Stockbit pada penutupan pasar. Kinerja sektor tersebut menjadi penopang utama penguatan IHSG sepanjang sesi perdagangan berlangsung. Investor memanfaatkan momentum akumulasi saat pasar regional mengalami tekanan cukup dalam.
Berbeda dengan Indonesia, bursa saham Asia menghadapi tekanan besar sepanjang perdagangan akhir pekan tersebut. Indeks acuan Taiwan memimpin pelemahan setelah anjlok 6,47 persen menuju level 42.671,27. Bursa Korea Selatan tidak melakukan perdagangan karena bertepatan dengan libur nasional.
Pasar saham Tiongkok juga gagal keluar dari tekanan aksi jual investor sepanjang perdagangan Jumat tersebut. Indeks Shenzhen turun 5,40 persen menuju level 13.706,88 selama perdagangan berlangsung. Indeks Shanghai ikut melemah 3,05 persen hingga ditutup pada level 3.764,15.
Tekanan juga melanda pasar saham Jepang sepanjang perdagangan akhir pekan tersebut dengan penurunan tajam. Indeks Nikkei berakhir melemah 4,03 persen menuju level 64.141,12 setelah sempat merosot lebih enam persen. Pelemahan tersebut memperlihatkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap sektor teknologi global.
Indeks Hang Seng Hong Kong menutup perdagangan pada level 24.562,24 setelah melemah sebesar 1,78 persen. Pelemahan terjadi seiring meningkatnya aksi jual investor terhadap saham teknologi kawasan Asia. Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap mayoritas indeks regional sepanjang hari.
CNBC melaporkan gelombang aksi jual dipicu pelemahan saham produsen chip serta perusahaan teknologi dunia. Tekanan tersebut kemudian menyebar menuju pasar Eropa sejak awal perdagangan pagi waktu London. Saham perusahaan semikonduktor besar mengalami penurunan signifikan selama sesi perdagangan berlangsung.
“Saham-saham produsen chip memperpanjang tren koreksi,” tulis CNBC mengulas kondisi pasar global terbaru. Perusahaan semikonduktor ASMI, ASML, STMicroelectronics, Infineon, serta BE Semiconductor sama-sama mengalami tekanan. Pelemahan sektor teknologi menjadi sentimen dominan sepanjang perdagangan internasional hari tersebut.
Meski pasar global bergejolak, pasar saham Amerika Serikat masih bertahan dekat rekor tertinggi sebelumnya. Indeks S&P 500 tercatat hanya sekitar satu persen dari posisi puncak awal Juni. Kondisi tersebut memperlihatkan optimisme investor global belum sepenuhnya menghilang meski tekanan meningkat.(R-03)

