Pemprov Riau dan SIIA Bahas Kerja Sama Penguatan Mitigasi Karhutla serta Green for Riau
Singapore Institute of International Affairs atau SIIA menjajaki kerja sama strategis bersama Pemerintah Provinsi Riau. Foto : Istimewa
RIAU, SabangMerauke News - Komitmen Riau menekan kebakaran hutan dan lahan kembali mendapat perhatian lembaga riset internasional dari Singapura. Singapore Institute of International Affairs atau SIIA menjajaki kerja sama strategis bersama Pemerintah Provinsi Riau. Fokus pembahasan meliputi pembangunan berkelanjutan, tata kelola lingkungan, serta penguatan mitigasi karhutla.
Pemerintah Provinsi Riau menerima kunjungan dan audiensi Singapore Institute of International Affairs di Kantor Gubernur Riau, Jumat, 17 Juli 2026. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Sekretaris Daerah bersama Asisten II Setdaprov Riau Helmi D. Agenda utama membahas strategi pengelolaan lingkungan berkelanjutan serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Ketua Singapore Institute of International Affairs, Simon Tay, menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan mempelajari kebijakan lingkungan Riau. Lembaganya ingin memahami langkah konkret pemerintah daerah menghadapi tantangan perubahan iklim dan karhutla. Hasil kajian diharapkan menjadi dasar penguatan kolaborasi lintas negara.
“Tujuan audiensi ini mengkaji langkah dan upaya Pemprov Riau menangani kebakaran hutan dan lahan,” kata Simon Tay. Ia menilai Riau memiliki posisi strategis dalam agenda pembangunan berkelanjutan kawasan Asia Tenggara. Pengalaman tersebut dinilai penting dipelajari lembaga riset internasional.
Simon menyampaikan SIIA memiliki mandat memperkuat hubungan negara-negara Asia Tenggara melalui kajian kebijakan strategis. Indonesia menjadi perhatian utama, terutama provinsi yang memiliki tantangan lingkungan besar seperti Riau dan Jambi. Riau dinilai menghadirkan pendekatan menarik melalui program Green for Riau.
Program Green for Riau atau G4RI menjadi salah satu inisiatif unggulan Pemerintah Provinsi Riau. Program tersebut mendapat dukungan standar REDD+ Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Fokus utama mencakup restorasi lahan gambut, penurunan emisi karbon, serta mitigasi kebakaran hutan.
Luas restorasi yang menjadi target program mencapai sekitar 4,9 juta hektare lahan gambut. Kawasan tersebut memiliki fungsi penting sebagai penyerap karbon sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem. Upaya tersebut diharapkan memperkuat ketahanan lingkungan menghadapi perubahan iklim global.
Simon berharap kolaborasi bersama Pemprov Riau dapat diperluas melalui edukasi dan sosialisasi lintas negara. Program tersebut juga diharapkan menarik minat investor terhadap pembangunan hijau di Provinsi Riau. Informasi positif mengenai pengelolaan lingkungan dinilai penting menjangkau masyarakat Singapura.
“Kami berharap kerja sama ini mengembangkan Green for Riau sekaligus memperkuat edukasi mengenai langkah konkret Riau,” ujar Simon Tay. Menurutnya, kolaborasi internasional mampu mempercepat implementasi pembangunan berkelanjutan. Kerja sama juga berpotensi meningkatkan kepercayaan dunia terhadap komitmen lingkungan Riau.
Asisten II Setdaprov Riau Helmi D menyambut positif perhatian lembaga riset tersebut terhadap isu lingkungan. Ia menilai kolaborasi internasional menjadi peluang memperkuat edukasi serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah Provinsi Riau siap membuka ruang komunikasi lanjutan.
“Kami menyambut baik kerja sama edukasi lingkungan dan penanggulangan kebakaran hutan bersama SIIA,” kata Helmi D. Ia berharap pembahasan tersebut segera berlanjut menuju program nyata. Sinergi lintas negara dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Helmi menjelaskan Riau memegang peran penting dalam target netral karbon Indonesia tahun 2060. Lebih dari 40 persen daratan provinsi tersebut merupakan lahan gambut dengan luas hampir lima juta hektare. Kawasan itu menyimpan cadangan karbon sekaligus keanekaragaman hayati bernilai tinggi.
Habitat tersebut menjadi tempat hidup berbagai satwa langka, termasuk harimau, gajah, serta orangutan Sumatera. Perlindungan kawasan hutan menjadi bagian penting menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya alam. Langkah tersebut memerlukan sinergi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, serta mitra internasional.
“Kajian seperti ini penting untuk memperkuat mitigasi jangka panjang demi keberlanjutan kehidupan masyarakat,” tutur Helmi. Ia optimistis kerja sama bersama SIIA mampu memperbaiki persepsi internasional terhadap komitmen Riau mengatasi karhutla. Edukasi berkelanjutan diharapkan menghasilkan dukungan lebih luas dari berbagai pihak.(R-04)

