Dibuka Merosot, Rupiah Tiba-tiba Balik Menyalip Mata Uang Asia
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah menunjukkan gerakan tak terduga pada Jumat pagi, 17 Juli 2026. Dibuka melemah 0,26 persen ke angka Rp18.031 per dolar AS, namun berbalik arah cepat. Pukul 09.14 WIB, rupiah tercatat menguat 0,09 persen ke posisi Rp17.969 per dolar.
Pergerakan ini sangat kontras dibandingkan mata uang negara tetangga. Sebagian besar mata uang Asia justru tergelincir ke zona merah pagi ini. Baht Thailand turun 0,24 persen dan ringgit Malaysia merosot 0,18 persen.
Hanya rupiah dan peso Filipina yang mampu mencatat penguatan terbatas. Di pasar non-deliverable forwards, rupiah juga bergerak lebih baik. Dibuka di Rp18.003 per dolar, kini naik tipis ke Rp17.998 per dolar AS.
Indeks dolar AS sedikit turun 0,05 persen ke level 100,71. Sementara harga minyak mentah Brent kembali melesat naik 1,01 persen. Angka menetap di 85,08 dolar AS per barel akibat ketegangan Timur Tengah.
Kabar terbaru menyebut ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih memuncak. Hal ini terus mendorong harga energi dunia bergerak naik tak menentu. Pasar menjadi sangat sensitif terhadap setiap perkembangan berita dari kawasan itu.
Perhatian pelaku pasar kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Pertemuan penting itu akan digelar pada pekan depan. Bank sentral diprediksi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Kenaikan itu akan mendorong BI Rate menjadi level 6 persen. Langkah ini merupakan kelanjutan pengetatan moneter yang sudah dimulai sejak Mei. Bloomberg Economics menilai langkah ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan.
"Pengetatan moneter lebih lanjut menjadi langkah yang tepat," ungkap analis Bloomberg Economics. "Kebijakan ini bertahan guna menekan persepsi risiko investasi pasar." Ia menambahkan volatilitas rupiah masih menjadi tantangan utama saat ini.
Lionel Priyadi, ahli strategi makro dari Mega Capital Sekuritas, sependapat. Kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga rentang pergerakan rupiah. Kisaran aman saat ini berada di antara Rp17.700 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Namun nasib rupiah tak semata ditentukan oleh kebijakan dalam negeri. Harga minyak, ketegangan geopolitik, dan kebijakan The Fed turut berperan besar. Selama ketiga hal itu belum stabil, tekanan terhadap rupiah masih akan terasa.
Bank Indonesia diprediksi harus mempertahankan sikap tegas dalam waktu lebih lama. Hal ini demi menjaga stabilitas di tengah gelombang ketidakpastian global. Inflasi dalam negeri sebenarnya masih aman di kisaran target 1,5 hingga 3,5 persen.
Faktor pendukung datang dari realisasi investasi kuartal kedua tahun ini. Nilai investasi tumbuh 7,1 persen secara tahunan mencapai Rp511,8 triliun. Penanaman modal asing menyumbang sebesar Rp257,7 triliun dari angka tersebut.
Secara kumulatif semester pertama, total investasi tembus Rp1.010,6 triliun. Angka ini naik 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. PMA mencapai Rp507,6 triliun dan menjadi bukti kepercayaan investor asing.
Aliran investasi langsung dikenal lebih stabil dibandingkan aliran portofolio. Masuknya dana ini menjadi bantalan alami bagi nilai tukar rupiah. Meski demikian, pasar tetap peka terhadap perubahan kebijakan moneter luar negeri.
Secara teknikal, rupiah masih memiliki peluang menguat lebih jauh hari ini. Target penguatan terdekat berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.900 per dolar. Jika tembus hambatan sebelumnya, ada potensi menuju Rp17.800 per dolar.
Sebaliknya jika tekanan kembali datang, dukungan terdekat ada di Rp18.000. Rentang aman jika terjadi pelemahan berada di angka Rp18.050 sampai Rp18.100. Pergerakan akan sangat bergantung pada sentimen yang muncul sepanjang hari.
Pelaku pasar disarankan tetap waspada menyikapi setiap berita baru. Keseimbangan antara kebijakan dalam dan luar negeri sedang diuji. Rupiah berjuang menemukan pijakan paling kokoh di tengah badai pasar. R-02

