Dari Terjaring Narkoba Hingga Final Piala Dunia: Ini Profil Wasit Argentina vs Spanyol
Slavko Vincic dipilih FIFA menjadi wasit dalam laga final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Argentina dan Spanyol di Stadion MetLife, News Jersey, Minggu malam, 19 Juli 2026. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – FIFA resmi menunjuk Slavko Vincic dari Slovenia sebagai wasit final Piala Dunia 2026. Laga puncak antara Spanyol melawan Argentina digelar di Stadion MetLife, Minggu malam, 19 Juli 2026. Penunjukan ini dilakukan setelah menyaring semua calon yang berpotensi konflik kepentingan.
Semua wasit yang berasal dari negara semifinal langsung dicoret dari daftar. Michael Oliver dan Anthony Taylor dari Inggris tidak bisa bertugas. Clement Turpin dan Francois Letexier dari Prancis juga tersisih. Facundo Tello dari Argentina ikut tidak memenuhi syarat penunjukan.
Vincic, 46 tahun, bukan nama asing di panggung sepak bola dunia. Ia sudah bertugas sebagai wasit internasional FIFA sejak tahun 2010. Sebelumnya, ia memulai karier profesional di liga Slovenia pada tahun 2007.
Di Piala Dunia 2026 saja, Vincic sudah memimpin tiga laga penting. Ia mengadili Brasil melawan Maroko di fase grup C. Lalu Yordania kontra Aljazair di grup J, serta Meksiko berhadapan dengan Ekuador di babak 32 besar.
Puncak karier klubnya terjadi di final Liga Champions 2024 di Wembley. Ia memimpin laga Real Madrid melawan Borussia Dortmund dengan tenang. Kemenangan Madrid dua gol tanpa balas berjalan mulus tanpa protes berarti.
Sebelum itu, Vincic juga dipercaya mengadili final Liga Europa 2022. Eintracht Frankfurt mengalahkan Rangers melalui adu penalti yang dramatis. Komite Wasit UEFA memberikan pujian atas ketegasan dan ketenangannya saat itu.
Di level tim nasional, ia memimpin semifinal Euro 2024 antara Spanyol dan Prancis. Laga yang diwarnai gol indah Lamine Yamal berjalan tertib dan terkontrol. Pengalaman menghadapi tim tangguh ini menjadi modal berharga untuk tugas kali ini.
Gaya memimpin pertandingan Vincic dikenal persuasif namun tegas. Ia lebih dulu memberi peringatan verbal sebelum mengeluarkan kartu kuning. Rata-rata ia mengeluarkan empat hingga empat setengah kartu per laga.
Ia membiarkan permainan mengalir dengan fisik yang kuat. Namun, pelanggaran yang berisiko melukai lawan langsung dihukum berat. Komunikasi aktif dengan kapten tim menjadi ciri khasnya meredam emosi.
Namun di balik rekam jejak cemerlang itu, ada satu babak kelam. Pada Mei 2020, nama Vincic terseret dalam penggerebekan besar di Bosnia dan Herzegovina. Polisi menyerbu sebuah kabin mewah di Bijeljina yang menjadi pusat aktivitas ilegal.
Lokasi itu diduga menjadi markas jaringan prostitusi, perjudian, narkoba, dan senjata api. Polisi menyita sembilan senjata api, puluhan butir amunisi, kokain, dan uang tunai. Sosok bernama Tijana Maksimović ditetapkan sebagai pemimpin sindikat tersebut.
Vincic berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung dan ikut diamankan. Berita ini langsung mengguncang dunia sepak bola Eropa. Asosiasi Sepak Bola Slovenia dan UEFA langsung menaruh perhatian besar pada kasus ini.
"Saya sedang duduk bersama mitra bisnis saat polisi masuk tiba-tiba," ungkap Vincic kepada media Slovenia, Večer. "Kami tidak mengenal kelompok yang ditangkap dan tidak ada hubungannya dengan mereka." Ia menyebut dirinya hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang keliru.
Hasil penyelidikan mendalam kepolisian Bosnia membenarkan keterangannya. Vincic akhirnya dinyatakan hanya sebagai saksi yang tidak sengaja terjebak. Ia dibebaskan tanpa tuntutan hukum apa pun dan diizinkan pulang ke Slovenia.
Insiden itu menjadi satu-satunya noda di luar lapangan yang pernah melekat. Di atas rumput hijau, keputusannya juga tak luput dari protes tajam. Salah satu yang paling diingat terjadi di Liga Champions 2022/2023.
Laga Inter Milan melawan Barcelona memicu kemarahan kubu Catalan. Denzel Dumfries melakukan dugaan pelanggaran tangan di dalam kotak penalti. Vincic dan tim VAR membiarkan permainan berlanjut tanpa memberi hukuman.
"Itu momen krusial, namun saya tidak bisa berkomentar banyak," kata pelatih Barcelona, Xavi. "Wasit seharusnya mengambil keputusan, dan ia seharusnya hadir menjelaskan kejadian itu." Ia menambahkan ketidakpuasan atas keputusan yang dianggap merugikan timnya.
Kini, tekanan jauh lebih berat menanti di MetLife Stadium. Vincic harus mengawal pertemuan dua kekuatan sepak bola terpanas saat ini. Spanyol bermain dengan struktur taktis rapi dan transisi kilat. Argentina mengandalkan emosi tinggi, fisik kuat, dan sentuhan magis Lionel Messi.
Perbedaan karakter kedua tim menuntut keseimbangan ketegasan dan kepekaan yang luar biasa. Satu keputusan keliru bisa mengubah arah sejarah sepak bola selamanya. Vincic membawa beban pengalaman puluhan laga besar di pundaknya yang tak terlihat.
Tim pembantu yang mendampinginya juga berasal dari negara yang sama. Asisten wasit Tomaz Klancnik dan Andraz Kovacic sama-sama dari Slovenia. Adham Makhadmeh dari Yordania bertugas sebagai wasit keempat. Mohammad Alkalaf melengkapi tim sebagai asisten cadangan.
FIFA memastikan seluruh perangkat pertandingan bebas dari benturan kepentingan. Tidak ada keterkaitan keluarga, bisnis, maupun kebangsaan dengan kedua finalis. Proses verifikasi berjalan berbulan-bulan sebelum nama Vincic diumumkan resmi.
Banyak pengamat menilai pemilihan ini sangat tepat. Vincic memiliki mental baja yang sudah teruji di badai luar lapangan. Ia tidak mudah tergoyahkan oleh tekanan 80 ribu penonton di stadion raksasa.
Masa lalu yang sempat gelap justru membentuknya menjadi pribadi yang lebih berhati-hati. Ia paham betul bagaimana satu momen bisa mengubah persepsi seluruh dunia. Di final ini, ia tidak hanya mengadili dua tim, tetapi juga membuktikan ketangguhannya.
Peluit yang pernah terdengar di Wembley dan seantero Eropa kini bersiap berkumandang di Amerika. Di ujung peluit itu tertanam harapan jutaan orang dari dua benua berbeda. Vincic berdiri di garis tengah, satu kaki di masa lalu, satu kaki di masa depan. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Piala Dunia 2026
Spanyol Bungkam Prancis 2-0, Tiket Final Dikantongi

