Inflasi AS Mereda, IHSG Melompat Tembus 6.100 Poin
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Kamis dengan penguatan gemilang. IHSG tercatat menguat 1,1 persen hingga menetap di angka 6.108. Performa ini menjadikannya salah satu indeks terbaik di kawasan Asia Pasifik.
Selama sesi perdagangan, indeks menyentuh titik terendah 6.024 dan tertinggi 6.108. Volume transaksi mencapai 30,6 miliar lembar saham. Nilai perdagangan tercatat sebesar Rp13,41 triliun dalam 2,31 juta kali transaksi.
Sebanyak 372 emiten mencatat kenaikan nilai saham. Sementara 238 saham mengalami penurunan harga dan 185 saham bergerak diam. Sektor teknologi, bahan baku, serta properti menjadi lokomotif utama penguatan.
Sektor teknologi mencatat kenaikan rata-rata 1,94 persen. Barang baku menyusul naik 1,56 persen dan properti menguat 1,31 persen. Saham First Media memimpin kenaikan tertinggi sebesar 27 persen.
Citatah menyusul melejit 25,6 persen dan Aracord Nusantara naik 24,7 persen. Saham Asia Sejahtera Mina yang baru melantai juga menguat 24,6 persen. Sebaliknya, Bekasi Asri Pemula tergelincir paling dalam 14,7 persen.
Singaraja Putra turun 9,81 persen dan Remala Abadi merosot 9,8 persen. Pergerakan ini berkebalikan dengan mayoritas pasar saham Asia lainnya. KOSPI Korea Selatan ambruk hingga 6,37 persen pada penutupan.
Nikkei 225 Jepang turun 2,79 persen dan indeks China terkoreksi lebih dari 1,5 persen. Hanya bursa Hong Kong, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand yang ikut hijau. Wall Street dini hari tadi juga kompak mencatat penguatan serentak.
Indeks Nasdaq naik 0,62 persen, S&P 500 bertambah 0,38 persen, dan Dow Jones naik 0,29 persen. Optimisme tumbuh menyusui rilis data inflasi produsen Amerika Serikat. Angka yang tercatat ternyata lebih rendah dari perkiraan ahli pasar.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan inflasi inti produsen 4,7 persen per tahun. Angka ini berada di bawah perkiraan rata-rata survei Bloomberg. Penurunan harga bensin mencapai 12 persen menjadi penyebab utama penurunan tekanan harga.
Kondisi ini memberi sinyal meredanya tekanan biaya produksi di sektor hulu. Hal ini membuat pelaku pasar percaya The Fed akan menahan laju kenaikan suku bunga. Harapan ini makin kuat setelah data inflasi konsumen juga tercatat rendah Selasa lalu.
Bloomberg Economics mencatat inflasi produsen kini berada di titik terendah sejak April lalu. Penurunan terjadi secara merata di berbagai sektor utama ekonomi. Ini membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar ke depan.
"Kemungkinan besar suku bunga akan dipertahankan pada rapat mendatang," tulis analis Bloomberg Economics. "Tekanan harga yang mereda memberi ruang napas bagi bank sentral." Ia menambahkan sentimen positif ini merambat cepat ke pasar negara berkembang.
Nilai tukar rupiah turut memperkuat posisi penutupan di Rp17.985 per dolar AS. Mata uang lokal naik 0,45 persen dibanding sesi perdagangan sebelumnya. Kestabilan nilai mata uang menjadi alas saham semakin menarik bagi investor.
Kebijakan yang lebih lunak dari The Fed biasanya mendorong aliran dana masuk ke Asia. Risiko beban bunga pinjaman perusahaan menjadi lebih ringan. Laba yang akan datang pun diproyeksikan lebih baik dari perkiraan semula.
Investor asing terlihat mulai kembali melirik aset keuangan dalam negeri. Aliran dana yang sempat keluar perlahan mulai berbalik arah. Kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih sangat terjaga kuat.
Secara teknikal, IHSG kini berada di wilayah tren kenaikan yang sehat. Pola pergerakan menunjukkan peningkatan bertahap tanpa lonjakan berlebihan. Pelaku pasar menyarankan tetap berhati-hati menyikapi pergerakan mendadak. R-02

