Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Ribuan Warga Tumbang dan Tujuh Orang Meninggal
Gelombang panas ekstrem memicu lonjakan tajam kasus heatstroke di Jepang sepanjang pekan kedua Juli 2026. Foto : Ilustrasi
JEPANG, SabangMerauke News - Gelombang panas ekstrem memicu lonjakan tajam kasus heatstroke di Jepang sepanjang pekan kedua Juli 2026. Ribuan warga membutuhkan perawatan medis setelah suhu tinggi bertahan selama beberapa hari berturut-turut. Otoritas kesehatan memperingatkan risiko kematian meningkat, terutama bagi kelompok lanjut usia.
Gelombang panas ekstrem terus memperburuk situasi kesehatan masyarakat di berbagai wilayah Jepang selama pertengahan Juli 2026. Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat 4.580 warga dievakuasi menuju fasilitas kesehatan akibat heatstroke. Jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya akibat suhu tinggi berkepanjangan.
Lonjakan kasus muncul setelah musim hujan berakhir di banyak wilayah Jepang sehingga temperatur meningkat drastis. Otoritas kesehatan meminta masyarakat memperbanyak konsumsi air serta menggunakan pendingin ruangan sepanjang hari. Seorang pejabat kesehatan menegaskan, “Masyarakat harus menjaga hidrasi dan menghindari paparan panas berkepanjangan.”
Gelombang panas kali ini juga memicu korban jiwa di sejumlah prefektur dengan kondisi berbeda. Laporan terbaru menunjukkan tujuh pasien meninggal akibat serangan panas akut selama periode pemantauan tersebut. Sebanyak 1.866 pasien menjalani rawat inap karena gejala sedang hingga berat selama perawatan medis.
Sebanyak 2.652 pasien lainnya hanya mengalami gejala ringan sehingga memperoleh penanganan lebih cepat di rumah sakit. Prefektur Oita mencatat korban meninggal terbanyak dengan tiga kasus sepanjang periode pelaporan terbaru. Nagano, Shimane, Nagasaki, serta Okinawa masing-masing melaporkan satu kematian akibat heatstroke.
Kelompok lanjut usia menjadi korban terbanyak selama gelombang panas melanda berbagai daerah di Jepang. Sebanyak 2.827 pasien berusia 65 tahun ke atas membutuhkan penanganan medis setelah mengalami heatstroke. Angka tersebut menunjukkan lansia menghadapi risiko paling besar ketika suhu meningkat ekstrem.
Kelompok usia produktif juga terdampak cukup besar dengan total 1.317 pasien selama periode pelaporan tersebut. Sebanyak 403 pasien berasal dari kelompok usia tujuh hingga tujuh belas tahun selama cuaca sangat panas. Tercatat 33 anak berusia di bawah tujuh tahun turut membutuhkan penanganan medis.
Prefektur Fukuoka menjadi wilayah dengan jumlah pasien heatstroke tertinggi setelah suhu mencapai 35 derajat Celsius. Wilayah tersebut melaporkan 456 kasus selama beberapa hari terakhir ketika panas ekstrem terus berlangsung. Tokyo berada di posisi kedua dengan 255 kasus, sedangkan Osaka mencatat 230 kasus.
Data memperlihatkan sebagian besar pasien justru mengalami heatstroke ketika berada di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Sebanyak 1.733 warga dievakuasi dari rumah atau kawasan permukiman setelah mengalami gangguan kesehatan serius. Kondisi tersebut memperlihatkan ancaman suhu tinggi tetap mengintai meski masyarakat berada di dalam rumah.
Petugas ambulans juga menangani 944 pasien yang kolaps saat beraktivitas di jalan akibat cuaca ekstrem. Sebanyak 605 pasien lainnya dievakuasi dari stadion, area parkir, serta ruang terbuka selama gelombang panas berlangsung. Otoritas kesehatan menegaskan, “Pendingin ruangan tetap perlu digunakan meski berada di dalam rumah.”
Pemerintah Jepang terus mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi suhu tinggi selama musim panas masih berlangsung. Langkah sederhana seperti mencukupi kebutuhan cairan dan mengurangi aktivitas luar ruangan dinilai mampu menekan risiko heatstroke. Peringatan tersebut diharapkan mengurangi jumlah korban selama gelombang panas ekstrem belum menunjukkan tanda mereda.(R-04)

