Gempuran 90 Menit AS, Fasilitas Rudal Iran di Pulau Tunb Besar Hancur Lebur
Serangan AS terhadap fasilitas rudal Iran di Pulau Tunb Besar, Rabu, 15 Juli 2026. (sumber: Reuters)
JAKARTA, SabangMerauke News – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu (15/7). Operasi berlangsung selama 90 menit dengan sasaran fasilitas strategis di Teluk Persia. Aksi ini menjadi hari kelima berturut-turut pertempuran meletus di kawasan tersebut.
Pasukan AS menggempur lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal di Pulau Tunb Besar. Gelombang serangan kedua menyusul pada pukul 15.00 waktu AS Timur. Keterangan ini disampaikan secara resmi oleh Komando Pusat AS.
“Kami terus meningkatkan tekanan sampai jalur pelayaran aman kembali,” ujar pernyataan resmi Komando Pusat AS. “Setiap upaya menutup selat akan kami tanggapi dengan tegas.”
Kebijakan ini berjalan seiring janji Presiden Donald Trump. Ia menegaskan serangan akan berlanjut sampai Teheran menghentikan gangguan kapal. Selat Hormuz harus terbuka lebar bagi semua jalur perdagangan internasional.
Pada Selasa malam sebelumnya, serangan AS juga menghantam pangkalan militer Iran. Tindakan itu langsung memicu balasan rudal ke pangkalan AS di negara Teluk. Wilayah Kuwait dan Bahrain sempat menjadi sasaran tembakan balasan tersebut.
Kesepakatan damai sementara yang disepakati sebulan lalu kini terancam runtuh total. Kedua belah pihak berebut pengaruh atas jalur laut paling vital dunia. Selat ini menjadi jalan keluar utama ekspor energi negara-negara Teluk.
Harga minyak dunia naik drastis untuk hari ketiga berturut-turut. Jenis minyak Brent menembus angka di atas US$85 per barel. Akumulasi kenaikan dalam satu pekan mencapai angka 13 persen.
“Kami menerima telepon tepat saat saya hendak ke lokasi ini,” kata Trump dalam wawancara Fox Business. “Pihak mereka menyatakan ingin duduk bersama untuk berbicara.”
Klaim itu belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pemerintah Iran. Pejabat Teheran belum merilis pernyataan terkait niat bernegosiasi. Keterbukaan jalur diplomasi masih samar di tengah tembakan senjata.
Di tengah ketidakpastian itu, AS mengawal belasan kapal di perairan internasional. Pasukan menembakkan rudal Hellfire ke cerobong kapal tanker berbendera Curacao. Kapal itu berlayar tanpa muatan dan mencoba menuju pelabuhan Iran.
“Kapal tersebut mengabaikan beberapa kali peringatan lisan dan sinyal,” tambah pernyataan Komando Pusat AS. “Gerakan kapal kini terhenti dan tidak melanjutkan perjalanan.”
Dua kapal lain sebelumnya juga telah dipaksa berbalik arah dari perbatasan blokade. Langkah ini menjadi bagian pengamanan jalur yang diklaim AS. Sementara itu, Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengeluarkan peringatan keras.
“Selat Hormuz saat ini terlalu berbahaya bagi kapal komersial mana pun,” ujar kepala IMO kepada Bloomberg Radio. “Ini peringatan terberat sejak kesepakatan bulan Juni lalu.”
Kedua belah pihak saling tuduh melanggar isi nota kesepahaman. Setiap poin dalam perjanjian itu kini ditafsirkan berbeda oleh masing-masing pihak. Perselisihan muncul soal kecepatan akses bebas lintas kapal.
Wakil Presiden AS JD Vance menjelaskan strategi pemerintahan lewat siniar Joe Rogan. Ia menyebut pendekatan yang diambil sebagai tarian diplomatik yang rumit. Ada kombinasi tekanan ekonomi, dialog, dan tanggapan atas kekerasan.
“Kami menekan lewat ekonomi, memberi penghargaan, dan menindak kekerasan,” jelas Vance. “Semua langkah berjalan bersamaan demi mencapai kondisi yang lebih stabil.”
Ia juga menyampaikan rasa frustrasi terhadap penolakan dialog dengan Iran. Menurutnya, penolakan tanpa solusi lain tidak akan menyelesaikan gangguan pelayaran. Setiap pihak harus berani bertemu untuk mencari jalan tengah.
“Banyak pihak berkata kita tak boleh berbicara dengan Iran,” tambahnya. “Lalu solusi apa yang ditawarkan agar kapal berhenti diserang?”
Sasaran serangan terbaru AS lebih banyak menyasar fasilitas militer selatan Iran. Ada lokasi radar, pangkalan rudal, dan pusat pengendali pesawat nirawak. Tingkat kekuatan serangan masih di bawah puncak konflik bulan Maret lalu.
Sementara itu, Iran tidak menunjukkan tanda akan mengurangi tekanan. Angkatan Darat Iran menyatakan selat akan tertutup sampai tuntutan terpenuhi. Aturan pelayaran harus disesuaikan dengan kehendak hukum Iran.
“Selat Hormuz tetap tertutup sampai AS menerima sistem hukum kami,” bunyi pernyataan Angkatan Darat Iran lewat Fars News. “Mekanisme pengaturan selat harus berlandaskan kehendak Teheran.”
Korps Garda Revolusi Islam menegaskan posisi tak berubah soal distribusi hasil bumi. Ekspor minyak dan gas kawasan tersedia untuk semua atau tak tersedia bagi siapa pun. Tidak ada jalur khusus yang bisa dimanfaatkan satu pihak saja.
Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf memberi sinyal keras. Iran tak punya alasan tetap berpegang pada kesepakatan tanpa keuntungan nyata. Namun ia belum menyatakan pencabutan resmi atas perjanjian bulan lalu.
Di Washington, Partai Republik mendesak penambahan anggaran operasi militer. Langkah ini dinilai berisiko secara politik karena tidak populer di masyarakat. Kenaikan harga energi juga mulai terasa di kantong konsumen.
Pemerintahan Trump bersiap memperpanjang kebijakan pengecualian pengiriman bahan bakar. Tujuannya mencegah gangguan pasokan yang bisa memicu krisis harga dalam negeri. Dampak konflik berpotensi berlanjut dalam waktu yang cukup lama.
Regulator keselamatan penerbangan Uni Eropa menaikkan tingkat kewaspadaan tertinggi. Maskapai diminta menghindari wilayah udara Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA. Zona Teluk Oman juga masuk daftar larangan lintas sementara.
Pemerintah Iran melaporkan lebih dari 30 warga sipil tewas dalam beberapa hari terakhir. Serangan hari Rabu juga menewaskan tujuh orang di barak militer Kota Iranshahr. Wilayah tenggara itu kini menjadi lokasi sasaran terbaru.
Blokade laut yang dicabut sebulan lalu kini kembali diberlakukan AS. Langkah ini pertama kali diterapkan pada April lalu sebelum dicabut sementara. Tekanan ekonomi diperkirakan semakin berat bagi perekonomian Iran. R-02

