Asing Borong BMRI, BBRI, ANTM, Tapi Masih Lepas Saham Besar
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat sangat tipis pada Rabu sore, 15 Juli 2026. Poin bertambah 2,45 atau setara 0,04 persen ke angka 6.041,97. Pergerakan berlangsung bergejolak sepanjang sesi perdagangan.
Sementara nilai tukar rupiah justru tampil memukau. Mata uang lokal terapresiasi 0,14 persen ke Rp18.067 per dolar AS. Ini menjadi penguatan paling tajam di antara mata uang Asia lainnya.
IHSG sempat tergelincir ke zona merah di awal pembukaan. Rentang pergerakan harian membentang dari 6.007 hingga puncak 6.081. Indeks menutup pekan dengan akumulasi kenaikan 2,87 persen.
Namun sejak awal tahun, IHSG masih mencatat penurunan 30,13 persen. Nilai transaksi bursa mencapai Rp11,69 triliun. Sebanyak 28,69 miliar saham berpindah tangan dalam 2,07 juta kali transaksi.
Pertumbuhan saham positif tercatat pada 334 emiten. Sebaliknya 267 saham tertekan turun harga. Sisa 195 saham bergerak diam di posisi semula.
Sektor barang baku menjadi lokomotif utama dengan kenaikan 0,76 persen. Disusul properti naik 0,57 persen dan konsumsi nonprimer 0,48 persen. Transportasi serta teknologi juga turut menyumbang penguatan.
Lima sektor justru membebani laju indeks. Kesehatan terpuruk paling dalam minus 1,08 persen. Sektor industri, keuangan, konsumsi primer, dan energi juga ikut melemah.
Indeks LQ45 mampu menahan indeks utama naik 0,17 persen ke 599,9. ESSA Industries memimpin lonjakan naik 5,17 persen. Aneka Tambang melonjak 4,11 persen dan Amman Mineral naik 2,74 persen.
Merdeka Battery, Indosat, dan Bank Tabungan Negara juga ikut menguat. Kenaikan saham berkapitalisasi besar menahan penurunan lebih dalam. Komposisi penguat dan penekan berimbang membuat indeks stagnan.
Pergerakan bursa Asia berlangsung beragam. Bursa Jepang, Korea, Taiwan, dan India serentak hijau. Sebaliknya indeks Vietnam, Shanghai, dan Malaysia justru tertekan merah.
Penguatan rupiah berjalan berbalik arah dari tekanan sebelumnya. Sehari sebelumnya sempat menyentuh titik terlemah Rp18.110 per dolar. Kepercayaan investor bangkit menyusun rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Data inflasi konsumen AS turun 0,4 persen pada Juni. Ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak enam tahun lalu. Angka inflasi inti juga melandai di bawah ekspektasi pasar.
“Kabar ini menjadi kelegaan besar bagi pelaku pasar,” ujar Tiffany Wilding. Ekonom Fifth Third Bill Adams menilai data jauh lebih baik proyeksi. Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini pun memudar.
Indeks kekuatan dolar AS turun ke level terendah dua minggu di 100,919. Peluang kebijakan lunak bank sentral AS makin terbuka lebar. Aset berisiko di pasar negara berkembang kembali diminati.
Sentimen domestik turut menyokong stabilitas pasar. S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia BBB dengan pandangan stabil. Status layak investasi terjaga menjaga kepercayaan dana asing.
“Pertahankan peringkat menjaga fundamental ekonomi tetap meyakinkan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas. Meski ketegangan AS-Iran masih memanas, fokus beralih data ekonomi. Harga minyak yang bergejolak belum menggeser optimisme pasar.
Meski rupiah menguat, investor asing justru mencatat penjualan bersih. Total arus keluar mencapai Rp153,02 miliar di seluruh pasar. Di pasar reguler tercatat net sell Rp160,43 miliar.
Sementara di pasar negosiasi dan tunai justru terjadi pembelian bersih. Nilai beli bersih mencapai Rp7,41 miliar rupiah. Ada perbedaan strategi antar segmen transaksi bursa.
Saham Bank Mandiri paling banyak diserap asing senilai Rp184,2 miliar. Disusul Aneka Tambang Rp132 miliar dan Bank Rakyat Indonesia Rp79,4 miliar. Sektor tambang dan perbankan masih jadi incaran utama.
Di sisi lain, Telkom Indonesia paling banyak dilepas senilai Rp112,8 miliar. Bumi Resources Minerals dan Astra International juga ikut terjual. Pergeseran portofolio asing masih berlangsung aktif di tengah ketidakpastian.
Bank Indonesia turut menopang likuiditas melalui lelang SRBI. Permintaan mencapai Rp30,66 triliun dengan penyerapan Rp15 triliun. Hasilnya imbal hasil surat utang turun di berbagai tenor.
Pelaku pasar tetap memantau perkembangan ketegangan geopolitik. Potensi gangguan pasokan energi masih membayangi pergerakan harga. Volatilitas harian masih berpeluang terjadi sewaktu-waktu.
Secara keseluruhan, pasar mencoba menyeimbangkan risiko global dan kekuatan domestik. Penguatan rupiah menjadi modal berharga menahan tekanan inflasi. Pergerakan IHSG ke depannya bergantung kelanjutan arus modal masuk. R-02

