Saat Dunia Cemas, IHSG Justru Menanjak ke Angka 6.057
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Penguatan terjadi meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar. IHSG naik 19,92 poin atau setara 0,33 persen ke posisi 6.057,76.
Sebanyak 286 saham melaju ke zona hijau, 63 saham melemah, dan 274 saham diam di tempat. Nilai transaksi mencapai Rp284,68 miliar dari 366,68 juta lembar saham. Terjadi 113.187 kali transaksi pada awal sesi perdagangan.
Emiten dengan volume perdagangan tertinggi meliputi BBCA, TPIA, BBRI, BMRI, dan BUMI. Penguatan ini disambut positif setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit. Peringkat jangka panjang tetap di BBB dengan prospek stabil.
"S&P menegaskan kepercayaan terhadap fondasi ekonomi yang terjaga," ujar analis pasar modal. Keputusan ini menjadi angin segar setelah dua lembaga lain menurunkan prospek awal tahun. Investor kini menanti rilis data makroekonomi penting hari ini.
Lima faktor utama menjadi dasar pertimbangan S&P. Pertama, pertumbuhan ekonomi diprediksi 5,1 persen pada 2026 dan stabil di kisaran 4,9 persen hingga 2029. Kedua, penerimaan negara mulai pulih berkat pajak dan pendapatan sumber daya alam.
Ketiga, program hilirisasi, Danantara, dan DSI berpotensi memperbesar pendapatan serta ekspor. Keempat, disiplin fiskal terjaga dengan defisit tetap di bawah tiga persen PDB. Kelima, stabilitas kebijakan dan kemandirian Bank Indonesia menjadi pondasi kuat.
Penerimaan negara semester I-2026 tumbuh 21,4 persen menjadi Rp1.459,4 triliun. Pemerintah juga melakukan efisiensi pada pos belanja strategis. S&P memuji langkah BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen guna menahan gejolak rupiah.
Namun S&P juga mencatat sejumlah tantangan berat. Pertama, pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 5,6 persen, namun pasar saham kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi dan rupiah melemah tujuh persen terhadap dolar. Kedua, konflik Timur Tengah dan gangguan Selat Hormuz berisiko mengganggu pasokan impor minyak.
Ketiga, kenaikan harga komoditas tak menutupi lonjakan biaya energi sehingga neraca perdagangan memburuk sejak Maret. Keempat, perubahan aturan sektor sumber daya berpotensi mengganggu minat investor. Kelima, beban pembayaran bunga utang tetap tinggi sepanjang 2026–2027. Keenam, defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar ke angka 2,1 persen PDB.
Pasar global justru bergerak sebaliknya. Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah seiring lonjakan imbal hasil obligasi AS. Investor khawatir harga minyak tinggi menahan inflasi tetap tinggi. Musim laporan keuangan perusahaan besar AS pun mulai dimulai.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,17 persen dan Topix melemah 0,51 persen. Kospi Korea Selatan anjlok 2,01 persen sementara Kosdaq turun 1,8 persen. Indeks S&P/ASX 200 Australia merosot 0,29 persen dan kontrak Hang Seng Hong Kong tertekan.
Analisis teknis memproyeksikan IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan jangka pendek menuju 6.150. Indeks harus menembus resistensi kuat di angka 6.050 terlebih dahulu. Dukungan terdekat berada di kisaran 5.970 hingga 6.000.
Batas atas pergerakan selanjutnya diprediksi di 6.100 hingga 6.150. BNI Sekuritas merilis sejumlah saham potensial untuk diperhatikan. Barito Pacific direkomendasikan beli di rentang Rp1.735–Rp1.750 dengan target Rp1.780–Rp1.800.
Chandra Asri disarankan dibeli di Rp1.870–Rp1.890 dan ditargetkan naik ke Rp1.920–Rp1.975. Bumi Resources masuk daftar beli di Rp145–Rp147 dengan sasaran Rp150–Rp152. Minna Padi Investama Sekuritas layak dikumpulkan di Rp272–Rp276 menuju Rp282–Rp292.
Amman Mineral Internasional bisa diakumulasi di Rp3.700–Rp3.780 dengan target Rp3.850–Rp3.900. Chandra Daya Investasi disarankan dibeli di Rp625–Rp635 menuju Rp645–Rp660. Setiap posisi dilengkapi batas risiko kerugian masing-masing.
Pelaku pasar kini memantau data inflasi dan neraca perdagangan AS. Angka ini akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia. Volatilitas harga minyak dan ketegangan geopolitik menjadi fokus utama pekan ini. R-02

