Bursa Hijau di Tengah Ancaman Perang, IHSG Tutup Menguat 0,67 Persen
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, dengan senyum tipis. IHSG menguat 39,07 poin atau 0,67 persen. Penutupan berada di level 5.912,44.
Kenaikan itu hadir ketika pasar global masih dipenuhi ketidakpastian. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanaskan sentimen. Investor dunia terus menghitung risiko baru.
Warna hijau di Bursa Efek Indonesia bukan sekadar angka. Aktivitas perdagangan ikut meningkat cukup tajam. Nilai transaksi mencapai Rp12,08 triliun sepanjang perdagangan.
Nilai itu lebih tinggi dibandingkan transaksi sehari sebelumnya. Pada Rabu, transaksi tercatat Rp10,54 triliun. Peningkatan menunjukkan minat investor masih terjaga.
Sebanyak 327 saham berhasil menguat. Sementara 275 saham melemah sepanjang perdagangan. Sebanyak 190 saham lainnya berakhir tanpa perubahan harga.
Frekuensi transaksi mencapai 2,24 juta kali. Sebanyak 27,11 miliar lembar saham berpindah tangan. Aktivitas pasar berlangsung cukup ramai hingga penutupan.
Saham sektor barang baku menjadi motor utama penguatan. Sektor tersebut melesat sekitar 2,10 persen. Industri dan transportasi mengikuti dengan kenaikan solid.
Sektor industri naik sekitar 1,32 persen. Transportasi menguat lebih dari satu persen. Investor tampak kembali memburu saham berbasis komoditas.
Tidak semua sektor menikmati penguatan. Saham kesehatan mengalami tekanan paling dalam. Penurunannya mencapai sekitar 1,42 persen.
Sektor properti ikut terkoreksi. Infrastruktur juga ditutup di zona merah. Pergerakan sektor menunjukkan pasar masih sangat selektif.
Dua saham perbankan tetap mendominasi transaksi harian. Saham BBCA mencatat transaksi sekitar Rp1,11 triliun. Saham BBRI membukukan transaksi sekitar Rp675 miliar.
Harga BBCA berhasil menguat tipis. Sebaliknya, BBRI ditutup melemah terbatas. Perbankan tetap menjadi magnet utama investor.
Beberapa emiten mencuri perhatian melalui kenaikan fantastis. Saham PRDL melesat hingga 35 persen. JELI dan MMIX ikut melonjak lebih dari 20 persen.
Di sisi berbeda, JECX menjadi saham dengan pelemahan terdalam. BAPA dan BKDP ikut mengalami koreksi besar. Volatilitas masih membayangi saham lapis kedua.
Meski IHSG menguat, analis mengingatkan risiko belum sepenuhnya hilang. Sinyal teknikal masih memerlukan kehati-hatian. Investor diminta tidak terlena.
Analis Phintraco Sekuritas melihat penguatan mulai tertahan. Area MA5 menjadi penghambat kenaikan berikutnya. Stochastic RSI bahkan berpotensi membentuk death cross.
"Histogram MACD masih bertahan positif," tulis analis Phintraco.
Menurut mereka, kondisi tersebut belum sepenuhnya mengubah arah pasar. Pergerakan diperkirakan masih mendatar. Kisaran 5.800 hingga 6.000 dipandang cukup realistis.
Dari luar negeri, tekanan belum sepenuhnya reda. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Dampaknya menjalar ke berbagai bursa dunia.
Selat Hormuz kembali menjadi pusat kecemasan investor global. Jalur vital distribusi minyak itu mengalami perlambatan pelayaran. Pasar energi langsung bereaksi cepat.
Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas semakin menurun. Jumlah kapal merosot dibandingkan awal bulan. Kekhawatiran terhadap pasokan minyak kembali meningkat.
Harga minyak Brent kembali menembus 80 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut memperbesar risiko inflasi global. Pasar keuangan pun bergerak lebih berhati-hati.
Ahli Strategi Pasar, Ed Yardeni, mengingatkan risiko baru. Menurutnya, konflik dapat mempercepat tekanan inflasi. Dampaknya bisa memengaruhi kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
"Inflasi berpotensi kembali meningkat bila konflik berlanjut," ujar Yardeni.
Risalah rapat Federal Open Market Committee turut memperkuat kecemasan pasar. Pejabat Federal Reserve masih melihat ancaman inflasi tinggi. Peluang penurunan suku bunga semakin terbatas.
Phillip Sekuritas Indonesia menilai risiko inflasi belum mereda. Harga energi masih menjadi ancaman utama. Gangguan pasokan global memperbesar ketidakpastian ekonomi.
"Risiko terhadap prospek inflasi masih cenderung meningkat," tulis Phillip Sekuritas.
Meski demikian, pasar Indonesia memperlihatkan daya tahan cukup baik. Investor domestik tetap aktif melakukan akumulasi saham. Likuiditas pasar juga masih terjaga.
Pergerakan bursa Asia berlangsung bervariasi. Shanghai, Nikkei, Straits Times, dan SET Thailand berhasil menguat. Hang Seng, Taiwan, Malaysia, Australia, Vietnam, serta Filipina justru melemah.
Perbedaan arah tersebut menunjukkan pasar global belum memiliki pijakan kuat. Investor masih membaca perkembangan geopolitik setiap saat. Sentimen dapat berubah hanya dalam hitungan jam.
IHSG memang berhasil menutup hari dengan warna hijau. Namun perjalanan berikutnya masih dipenuhi tantangan. Arah pasar tetap bergantung pada perkembangan konflik global, harga energi, dan kebijakan Federal Reserve. R-02

