Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent dan WTI Langsung Melesat
Harga minyak dunia kembali menguat setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat menyasar Iran. Foto : Istimewa
SabangMerauke News - Harga minyak dunia kembali menguat setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat menyasar Iran. Konflik baru memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global melalui Selat Hormuz. Pasar langsung merespons dengan kenaikan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate.
Harga minyak mentah Brent diperdagangkan mencapai 79,28 dolar Amerika Serikat per barel pada Kamis. Angka tersebut meningkat dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 78,02 dolar per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate juga naik menjadi 74,76 dolar per barel.
Kenaikan harga dipicu meningkatnya ketegangan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam serangan lanjutan terhadap Iran. Trump juga menyatakan kesepakatan penghentian konflik sementara telah berakhir. Meski demikian, Trump menegaskan perang berskala penuh masih dihindari.
“Kesepakatan sementara untuk menghentikan perang telah resmi batal,” ujar Donald Trump. Trump juga memastikan konflik tidak diarahkan menuju perang skala penuh. Pernyataan tersebut langsung memicu respons pelaku pasar energi dunia.
Komando Pusat militer Amerika Serikat menyampaikan operasi terbaru bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Jalur pelayaran tersebut menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dunia selama puluhan tahun. Gangguan sekecil apa pun berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan intensitas operasi militer kali ini diperkirakan lebih besar dibanding sebelumnya. Serangan dilaporkan menyasar sejumlah kawasan strategis di wilayah Iran. Bandar Abbas, Abu Musa, serta Bushehr menjadi lokasi ledakan terbaru.
Operasi militer tersebut merupakan respons terhadap meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Ketegangan terus meningkat setelah insiden maritim beberapa hari terakhir. Risiko gangguan distribusi minyak kembali menjadi perhatian utama pasar internasional.
Otoritas maritim internasional meningkatkan status ancaman pelayaran menjadi tingkat sangat tinggi setelah serangan tanker terjadi. Kondisi tersebut memaksa perusahaan pelayaran meningkatkan kewaspadaan saat melintasi Selat Hormuz. Jalur itu selama ini menyalurkan sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia.
Pemerintah Amerika Serikat juga mencabut keringanan sanksi penjualan minyak Iran yang sebelumnya diberikan sementara. Kebijakan tersebut memperbesar tekanan terhadap ekspor minyak Iran menuju pasar internasional. Langkah itu sekaligus mempertegas sikap Washington menghadapi eskalasi konflik.
Iran kemudian mengklaim melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain serta Kuwait. Klaim tersebut langsung diikuti serangan balasan militer Amerika Serikat dalam waktu singkat. Eskalasi terbaru memperbesar kekhawatiran munculnya konflik berkepanjangan kawasan Timur Tengah.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz secara ketat. Setiap peningkatan konflik berpotensi mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi dalam perdagangan berikutnya. Ketidakpastian geopolitik diperkirakan tetap menjadi faktor utama penentu arah pasar energi global sepanjang pekan ini.(R-04)

