Karhutla Kembali Melanda Pekanbaru! Lahan Gambut 1 Hektare di Air Hitam Terbakar, Pemadaman Masih Berlangsung
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kota Pekanbaru. Foto: Dok SM News
RIAU, SabangMerauke News – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kota Pekanbaru. Kali ini, api melalap lahan gambut seluas sekitar satu hektare di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, Rabu (8/7/2026). Hingga Rabu malam, proses pemadaman masih terus berlangsung karena api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Kebakaran yang terjadi di kawasan areal penggunaan lain (APL) tersebut menjadi perhatian serius petugas lantaran api membakar lahan gambut yang dikenal sulit dipadamkan. Selain membakar permukaan, api juga menjalar hingga ke bawah lapisan tanah sehingga membutuhkan penanganan intensif.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Pada hari pertama penanganan, petugas baru berhasil memadamkan sekitar 0,3 hektare.
"Status kebakaran hingga sore hari masih belum padam. Proses pemadaman akan terus dilanjutkan sampai api benar-benar berhasil dipadamkan," ujar Ferdian.
Menurutnya, vegetasi yang terbakar didominasi pakisan, semak belukar, serta tanaman kelapa sawit yang tumbuh di atas lahan gambut. Kondisi tersebut membuat bara api terus bertahan meski bagian permukaan terlihat mulai padam.
Untuk mengendalikan kebakaran, tim gabungan mengerahkan personel dari Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, dan Polri.
Operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 17.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Petugas menggunakan satu unit mesin pompa Mini Striker dengan pola satu jalur pemadaman untuk mengejar titik api agar tidak meluas ke kawasan sekitar.
Ferdian menjelaskan, sumber air diperoleh dari kanal yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran. Kanal tersebut memiliki lebar sekitar dua meter dengan kedalaman sekitar satu meter sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber pasokan air selama operasi berlangsung.
Namun demikian, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan pembasahan secara menyeluruh.
"Karena kebakaran terjadi pada lahan gambut dengan tipe kebakaran bawah permukaan dan permukaan, proses pemadaman menjadi lebih sulit sehingga membutuhkan penanganan lanjutan," jelasnya.
Dalam operasi tersebut, tim juga mengerahkan berbagai peralatan pendukung, di antaranya satu unit mobil angkut Strada, satu unit mesin induk ZS Power, dua selang hisap, 13 selang buang, tiga nozzle, serta satu konektor Y untuk mempercepat distribusi air ke titik api.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi cuaca saat pemadaman berlangsung relatif cerah hingga cerah berawan dengan kecepatan angin sekitar 4 kilometer per jam. Meski angin tergolong rendah, petugas tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi kemungkinan api merambat ke area lain.
Tim gabungan memastikan pemantauan dan pemadaman akan terus dilakukan hingga seluruh bara api benar-benar padam. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
Ferdian juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat musim kemarau mulai berlangsung. Menurutnya, lahan gambut sangat rentan terbakar dan api dapat menyebar dengan cepat jika tidak segera ditangani.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Saat musim kering, api sangat mudah menyebar, terlebih pada lahan gambut. Pencegahan merupakan langkah paling efektif agar kebakaran tidak semakin meluas," tegasnya. (R-05)

