Rupiah Terpeleset Lagi, Konflik Timur Tengah Ikut Mengguncang Pasar
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Nilai tukar rupiah kembali kehilangan tenaga dan ditutup di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Tekanan muncul dari berbagai arah. Peringatan S&P Dow Jones Indices, menguatnya dolar AS, konflik Timur Tengah, serta aksi jual surat utang negara membuat pasar keuangan Indonesia bergerak dalam tekanan.
Perdagangan sepanjang Rabu, 8 Juli 2026, berlangsung penuh kehati-hatian. Rupiah sempat menyentuh Rp18.018 per dolar AS sebelum ditutup di kisaran Rp18.014 di pasar spot. Kurs Jisdor juga bergerak melemah hingga Rp18.005 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi kembalinya rupiah menembus Rp18.000 setelah hampir satu bulan bertahan di bawah level itu. Pelemahan harian mencapai sekitar 0,19 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya.
Tekanan terbesar datang setelah S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan. Evaluasi itu membuka peluang perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market mulai 2027 jika sejumlah indikator belum membaik.
Informasi tersebut langsung memicu perubahan sikap investor. Arus dana bergerak lebih hati-hati. Tekanan tidak hanya menghantam pasar saham, tetapi juga menjalar menuju pasar obligasi dan nilai tukar rupiah.
Aksi jual terlihat di pasar Surat Utang Negara (SUN). Imbal hasil obligasi pemerintah hampir seluruh tenor bergerak naik. Yield obligasi tenor lima tahun naik menjadi 7,19 persen, sedangkan tenor sepuluh tahun mencapai sekitar 7,23 persen.
Kenaikan yield memperlihatkan investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang obligasi Indonesia. Situasi tersebut sering muncul saat risiko pasar meningkat.
Lembaga keuangan global UBS menilai valuasi obligasi Indonesia sebenarnya masih menarik dibandingkan catatan historis selama 15 tahun terakhir. Meski begitu, investor dinilai masih membutuhkan kepastian sebelum kembali menambah investasi.
Dalam risetnya, UBS menyebut premi risiko valuta asing cenderung meningkat saat defisit neraca dasar melebar. Kondisi tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan sentimen global.
UBS juga menyarankan investor menunggu imbal hasil obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun mendekati 7,5 persen sebelum meningkatkan eksposur pada surat utang Indonesia.
Tekanan eksternal ikut mempercepat pelemahan rupiah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai berakhirnya gencatan senjata sementara dengan Iran kembali menghidupkan kekhawatiran konflik Timur Tengah.
Pasar langsung merespons perkembangan tersebut. Harga minyak dunia melonjak. Dolar Amerika Serikat ikut menguat sebagai aset yang dinilai lebih aman saat ketidakpastian meningkat.
Indeks dolar AS sempat bertahan di kisaran 101,16 sebelum bergerak di sekitar level 101,08. Penguatan dolar membuat mata uang negara berkembang kehilangan tenaga, termasuk rupiah.
Bukan hanya Indonesia yang menghadapi tekanan. Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah sepanjang perdagangan Rabu.
Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam. Baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina, ringgit Malaysia, yuan China, hingga dolar Singapura juga bergerak di zona merah.
Di tengah tekanan kawasan, won Korea Selatan justru mencatat penguatan paling besar. Mata uang tersebut menguat setelah pemerintah Korea Selatan memperketat pengawasan pergerakan nilai tukar domestik.
Dolar Taiwan juga mulai bangkit setelah muncul sinyal masuknya kembali dana asing ke pasar keuangan negara tersebut.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum selesai. Pelaku pasar masih menunggu berbagai perkembangan global yang berpotensi mengubah arah investasi dalam waktu dekat.
Tekanan dari dalam negeri ikut memperberat langkah rupiah. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi Mei 2026.
Kondisi fiskal tersebut menjadi perhatian investor. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan beban belanja negara. Ruang fiskal juga menjadi lebih sempit saat kebutuhan pembiayaan terus meningkat.
Cadangan devisa Indonesia memang naik menjadi US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026. Kenaikan tersebut belum mampu mengubah sentimen pasar. Posisi cadangan devisa masih berada dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.
Direktur PT Trijaya Pratama Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih didominasi sentimen global. "Perhatian pasar kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee serta arah kebijakan suku bunga berikutnya," kata Ibrahim.
Ia menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga ikut memperkuat dolar AS. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang kehilangan daya tarik dalam jangka pendek.
Investor global kini menunggu petunjuk baru dari bank sentral Amerika Serikat. Arah suku bunga menjadi faktor penting bagi arus modal menuju negara berkembang.
Pasar juga mencermati perkembangan konflik Timur Tengah. Ketegangan geopolitik masih berpotensi mengerek harga minyak dunia. Situasi tersebut dapat memperbesar tekanan inflasi global.
Jika inflasi kembali meningkat, ruang penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat menjadi semakin terbatas. Kondisi itu membuat dolar AS tetap berada dalam posisi kuat.
Tekanan serupa terlihat di pasar saham Indonesia. Aksi jual terjadi hampir sepanjang perdagangan Rabu. Sentimen negatif dari evaluasi S&P Dow Jones Indices membuat investor memilih mengurangi aset berisiko.
Pergerakan rupiah juga berjalan searah dengan pelemahan pasar obligasi. Kombinasi dua tekanan tersebut memperlihatkan investor sedang menata ulang strategi investasi.
Meski begitu, sejumlah analis melihat kondisi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan perubahan fundamental ekonomi Indonesia. Sentimen global masih menjadi penggerak utama pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir.
UBS menilai obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan valuasi yang kompetitif dibanding rata-rata historis. Investor hanya membutuhkan kepastian arah pasar sebelum kembali meningkatkan kepemilikan.
Perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Pelaku pasar menunggu hasil risalah rapat Federal Reserve, perkembangan konflik Timur Tengah, serta arah pergerakan dolar Amerika Serikat.
Direktur PT Trijaya Pratama Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS. "Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal dan perkembangan ekonomi global," ujar Ibrahim.
Selama ketidakpastian global belum mereda, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi bertahan. Pergerakan pasar juga bergantung pada respons investor asing terhadap perkembangan ekonomi Indonesia dan perubahan sentimen internasional. R-02

