Piala Dunia 2026
Gregor Kobel Antar Swiss Menang Adu Penalti atas Kolombia
Gregor Kobel mengamankan bola dari kejaran Luis Suarez di laga Swiss vs Kolombia, Rabu (8/7/2026) (sumber: AP Photol
KANADA, SabangMerauke News – Swiss mengamankan tiket terakhir menuju perempat final Piala Dunia 2026. Kepastian itu diraih setelah menumbangkan Kolombia melalui adu penalti. Duel panjang berakhir dengan kemenangan Swiss 4-3 dari titik putih.
Laga babak 16 besar berlangsung di BC Place, Vancouver. Kedua tim gagal mencetak gol selama 120 menit pertandingan. Adu penalti akhirnya menjadi penentu nasib keduanya.
Hasil tersebut mempertemukan Swiss dengan Argentina di perempat final. Duel itu dipastikan menjadi salah satu laga terbesar turnamen. Argentina datang membawa Lionel Messi yang sedang tajam.
Pertandingan sejak awal berjalan penuh kehati-hatian. Swiss memilih menjaga keseimbangan permainan. Kolombia juga enggan mengambil risiko berlebihan.
Dua puluh menit pertama berlangsung sangat ketat. Kedua tim kesulitan membangun serangan berbahaya. Lini tengah menjadi arena pertarungan utama.
Kolombia memperoleh peluang terbaik pada menit ke-21. Gustavo Puerta melepaskan tembakan keras dari sisi kiri. Gregor Kobel menggagalkan peluang tersebut dengan penyelamatan gemilang.
Swiss memberikan balasan beberapa menit kemudian. Fabian Rieder menguji ketangguhan Camilo Vargas. Kiper Kolombia berhasil mengamankan bola tanpa kesalahan.
Babak pertama berakhir tanpa gol tercipta. Kedua pelatih memilih mempertahankan disiplin taktik. Pertahanan menjadi senjata utama sepanjang laga.
Memasuki babak kedua, Swiss meningkatkan intensitas tekanan. Pelatih Murat Yakin memasukkan Djibril Sow untuk menambah energi. Permainan Swiss terlihat lebih agresif.
Kolombia tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Luis Diaz beberapa kali mengancam pertahanan Swiss. Namun, Kobel kembali menunjukkan refleks luar biasa.
Tempo pertandingan kembali melambat memasuki pertengahan babak kedua. Kedua tim mulai kelelahan akibat duel fisik. Kesalahan kecil bisa menentukan hasil pertandingan.
Pergantian pemain dilakukan secara bergantian. Baik Swiss maupun Kolombia mencari pembeda di bangku cadangan. Namun, tidak ada perubahan berarti hingga waktu normal usai.
Pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu. Kolombia langsung mengambil inisiatif menyerang lebih dahulu. Swiss memilih bertahan sambil menunggu kesempatan.
Peluang emas hadir melalui sundulan Jhon Lucumi. Bola menghantam mistar gawang Swiss. Stadion nyaris bergemuruh menyambut gol yang tak pernah terjadi.
Babak tambahan kedua berlangsung semakin berat. Para pemain bertarung dengan sisa tenaga yang dimiliki. Banyak tembakan berubah menjadi percobaan spekulatif.
Peluit panjang akhirnya mengakhiri 120 menit tanpa gol. Adu penalti menjadi panggung terakhir penentuan. Tekanan mental berubah menjadi lawan terbesar setiap penendang.
Kolombia kehilangan momentum lebih dahulu. Davinson Sanchez gagal menjalankan tugas sebagai algojo kedua. Bola menghantam mistar dan memberi keuntungan kepada Swiss.
Swiss juga sempat kehilangan kesempatan. Manuel Akanji gagal menaklukkan penjaga gawang lawan. Ketegangan semakin terasa di setiap eksekusi berikutnya.
Momen penentu hadir saat Cucho Hernandez mengambil tendangan. Gregor Kobel membaca arah bola dengan sempurna. Penyelamatan itu mengubah arah pertandingan.
Algojo terakhir Swiss, Vargas, menjalankan tugas tanpa kesalahan. Bola meluncur mulus ke dalam gawang Kolombia. Swiss memastikan kemenangan dramatis 4-3.
FIFA kemudian memilih Gregor Kobel sebagai pemain terbaik pertandingan. Penampilannya dianggap menjadi pembeda sepanjang laga. Ia tampil konsisten sejak menit pertama.
Kobel menggagalkan beberapa peluang berbahaya Kolombia. Ia juga menjadi pahlawan dalam adu penalti. Penyelamatan terakhirnya mengantar Swiss menuju delapan besar.
"Kami percaya kesabaran akan menghadirkan peluang terbaik," ujar Murat Yakin usai pertandingan.
Gregor Kobel memilih memuji seluruh rekan setimnya. Menurutnya, kemenangan lahir dari kerja kolektif. "Semua pemain bertahan dengan hati sepanjang pertandingan," katanya.
Pelatih Kolombia, Nestor Lorenzo, mengaku kecewa dengan hasil akhir. Namun, ia tetap mengapresiasi perjuangan anak asuhnya. "Kami memberikan segalanya sampai tendangan terakhir," ujarnya.
Swiss kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Argentina menunggu dengan kepercayaan diri tinggi. Lionel Messi menjadi ancaman terbesar bagi pertahanan Swiss.
Namun, kemenangan atas Kolombia memberi modal penting. Mental para pemain semakin teruji menghadapi tekanan. Kepercayaan diri mereka tumbuh setelah drama panjang tersebut.
Bagi Kolombia, kegagalan ini meninggalkan luka mendalam. Mereka tampil disiplin sepanjang pertandingan. Namun, keberuntungan berpihak kepada Swiss saat momen penentuan tiba.
Piala Dunia kembali membuktikan satu kenyataan sederhana. Dominasi permainan tidak selalu menghadirkan kemenangan. Terkadang, satu penyelamatan mampu mengubah sejarah sebuah bangsa. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Piala Dunia 2026
Sempat Mati Gaya, Argentina Hidup Lagi Berkat Keajaiban Messi

