Waspada! Mi Instan Rasa Ayam Dikaitkan dengan Wabah Salmonella, Puluhan Korban Dirawat di Rumah Sakit
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News - Otoritas keamanan pangan Eropa mengeluarkan peringatan serius setelah mi instan rasa ayam diduga menjadi pemicu wabah infeksi Salmonella yang telah menyebar ke 14 negara. Sebanyak 106 orang dilaporkan terinfeksi, sementara puluhan lainnya harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mengungkapkan hasil investigasi awal menunjukkan produk mi instan berperisa, terutama varian rasa ayam, memiliki kaitan kuat dengan penyebaran wabah tersebut.
Dalam pernyataan bersama, kedua lembaga menyebut produk mi instan dari merek yang sama kemungkinan besar menjadi sumber infeksi yang hingga kini masih berlangsung di berbagai negara.
"Produk mi instan berperisa kemungkinan besar merupakan sumber wabah infeksi yang sedang berlangsung di berbagai negara, dengan bukti yang menghubungkan kasus-kasus tersebut dengan produk dari merek yang sama," demikian pernyataan EFSA dan ECDC.
Kasus pertama wabah ini terdeteksi pada November tahun lalu. Hingga kini, sebanyak 106 kasus telah tercatat, dengan sedikitnya 49 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit. Mayoritas penderita merupakan anak-anak dan dewasa muda.
Meski telah menemukan keterkaitan antara produk mi instan dan wabah tersebut, otoritas belum mengungkapkan nama merek yang dimaksud. Mereka hanya menyebut kasus berkaitan dengan bakteri Salmonella Stanley yang ditelusuri berasal dari produsen di Ukraina.
Perusahaan Reeva Foods sebelumnya mengumumkan penarikan satu batch mi instan yang dipasarkan di kawasan Baltik setelah ditemukan dugaan kontaminasi Salmonella Stanley.
Produk tersebut diproduksi oleh Euro Food Service, perusahaan manufaktur asal Ukraina yang memproduksi mi instan untuk Reeva Foods.
Pihak perusahaan mengaku telah melakukan investigasi internal, menarik seluruh produk terkait dari peredaran, memperketat pengujian laboratorium independen, meningkatkan audit regulasi, serta memperkuat pemantauan lingkungan produksi guna mencegah kejadian serupa.
Reeva Foods menegaskan bahwa keselamatan konsumen menjadi prioritas utama perusahaan dalam menangani dugaan kontaminasi tersebut.
Menurut data otoritas kesehatan, kasus infeksi telah ditemukan di Austria, Inggris, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Prancis, Jerman, Hungaria, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, dan Swedia.
Bukti mikrobiologi menunjukkan strain wabah yang ditemukan di Jerman dan Lithuania terdeteksi pada produk mi instan rasa ayam serta rasa ayam pedas. Namun, penyelidikan masih terus dilakukan untuk memastikan sumber pasti kontaminasi.
Salmonella sendiri merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Selain produk olahan, bakteri ini juga kerap ditemukan pada daging, unggas, telur mentah atau kurang matang, serta susu yang tidak dipasteurisasi.
Gejala infeksi biasanya muncul dalam waktu enam jam hingga enam hari setelah seseorang terpapar bakteri. Penderitanya dapat mengalami diare, demam, kram perut, mual, muntah, menggigil, sakit kepala, hingga tinja berdarah. Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius sehingga membutuhkan perawatan medis. (R-05)

