BPOM Ungkap Bahaya Mikroplastik, Indonesia Segera Tetapkan Batas Aman Nasional
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Badan Pengawas Obat dan Makanan mulai menyusun standar nasional batas aman paparan mikroplastik dalam berbagai produk. Langkah tersebut diambil setelah belum tersedia ketentuan internasional mengenai kandungan mikroplastik. Penyusunan standar mengacu pada riset ilmiah serta hasil kajian laboratorium nasional.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menilai belum tersedia acuan global mengenai batas aman mikroplastik. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi setiap negara. Indonesia akhirnya menyiapkan standar nasional berbasis bukti ilmiah.
Taruna menjelaskan organisasi internasional belum menetapkan angka baku kandungan mikroplastik maupun nanoplastik dalam produk. Kondisi tersebut berlaku hingga sekarang. “Secara global belum ada standar mengenai kandungan mikroplastik atau nanoplastik yang diizinkan,” ujarnya.
BPOM memulai penyusunan standar setelah berdiskusi bersama Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu. Penyusunan melibatkan pusat penelitian serta laboratorium nasional. Hasilnya diharapkan menjadi acuan perlindungan kesehatan masyarakat Indonesia.
Taruna berharap standar nasional tersebut dapat memberi kontribusi bagi penyusunan kebijakan tingkat internasional. Indonesia memiliki kesempatan menghadirkan referensi ilmiah baru. Langkah tersebut memperkuat peran riset nasional dalam isu kesehatan global.
Tim BPOM bersama Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional sedang menyusun parameter pengujian mikroplastik. Penyusunan memanfaatkan berbagai hasil penelitian terstandar. Kajian ilmiah internasional menjadi dasar penyusunan kebijakan nasional.
“Tim kami akan membuat skala berdasarkan berbagai referensi, khususnya riset terstandar,” kata Taruna. Publikasi ilmiah bereputasi menjadi rujukan utama penyusunan standar tersebut. Seluruh proses dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan penelitian terbaru.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter hasil pecahan limbah plastik lingkungan. Partikel tersebut mencemari air, tanah, udara, serta berbagai bahan pangan. Paparan mikroplastik semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai penelitian menunjukkan mikroplastik telah ditemukan pada darah, organ tubuh, hingga jaringan otak manusia. Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran dunia kesehatan. Dampak jangka panjang masih terus diteliti para ilmuwan.
Taruna mengutip hasil penelitian ilmiah mengenai kemungkinan hubungan mikroplastik dengan gangguan pembuluh darah otak. Penelitian tersebut menarik perhatian banyak peneliti kesehatan. “Ada stroke dan aterosklerosis di otak yang dipicu mikroplastik,” ujarnya.
Ia menjelaskan ilmuwan masih mempelajari jalur masuk mikroplastik menuju sistem peredaran darah manusia. Partikel berukuran nano diduga mampu menembus jaringan tubuh. Penelitian lanjutan masih diperlukan memastikan mekanisme tersebut.
Penggunaan plastik secara masif menjadi salah satu penyebab meningkatnya paparan mikroplastik pada lingkungan sekitar. BPOM berharap standar nasional segera diterapkan mendukung pengawasan produk lebih efektif. Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat menghadapi ancaman mikroplastik pada masa mendatang.(R-04)

