Laut Merah Memanas! Kapal Kargo Diserang Misterius, Jalur Perdagangan Dunia Terancam
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News - LAUT MERAH kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah sebuah kapal kargo diserang oleh pihak tak dikenal pada Minggu (5/7/2026). Insiden tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan dan distribusi energi global.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kapal tersebut mengirimkan sinyal darurat setelah mengalami serangan saat berlayar sekitar 30 mil laut atau sekitar 56 kilometer di barat daya Pelabuhan Al Hudaydah, Yaman.
"Dalam laporan yang kami terima, sebuah kapal kargo memicu peringatan bahaya setelah diserang oleh penyerang tak dikenal," demikian pernyataan UKMTO melalui akun resminya di X, Senin (6/7/2026).
Hingga kini, identitas pelaku maupun motif serangan masih dalam penyelidikan. UKMTO juga mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal yang melintas di kawasan Laut Merah agar meningkatkan kewaspadaan selama berlayar.
Serangan ini terjadi di tengah kondisi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang masih dinilai rapuh. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat kembali memicu gangguan terhadap jalur perdagangan internasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Houthi yang didukung Iran diketahui beberapa kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina dalam konflik Gaza. Namun, hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru tersebut.
Perhatian dunia kini juga bergeser ke Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab. Kawasan ini menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, terutama ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz mengalami gangguan.
Sebelumnya, meningkatnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sempat membuat Arab Saudi mengalihkan sebagian besar pengiriman minyak melalui Jalur Pipa Timur-Barat menuju Laut Merah sebelum diteruskan ke pasar Asia melalui Selat Bab el-Mandeb. Jalur tersebut berperan penting menjaga pasokan energi ke negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan.
Situasi sempat membaik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026 yang membuka kembali Selat Hormuz serta memulai perundingan damai selama 60 hari.
Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan sejak pembukaan kembali Selat Hormuz, Arab Saudi telah menyalurkan sekitar 34 juta barel minyak melalui jalur tersebut hingga awal Juli. Jumlah itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Meningkatnya pasokan minyak sempat menekan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent bahkan telah turun sekitar 39 persen dari puncaknya pada Maret lalu. Namun, serangan terhadap kapal kargo di Laut Merah menjadi sinyal bahwa ancaman terhadap rantai pasok energi global masih belum berakhir dan risiko geopolitik di kawasan tetap tinggi. (R-05)

