Anak Sekolah Kini Makin Padat Aktivitas, Ternyata Dipengaruhi Pola Asuh Concerted Cultivation
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Fenomena anak yang memiliki jadwal padat mulai dari sekolah, les, olahraga, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler semakin sering ditemui. Di balik rutinitas tersebut, terdapat pola asuh yang dikenal sebagai concerted cultivation, yakni pendekatan orang tua yang secara aktif mengarahkan perkembangan anak melalui berbagai aktivitas terstruktur.
Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Annette Lareau dan banyak diterapkan oleh keluarga dari kalangan menengah hingga atas. Tujuan utamanya adalah membekali anak dengan kemampuan akademik, sosial, serta keterampilan hidup agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Mengacu pada Sagepub, concerted cultivation merupakan pola asuh yang menempatkan orang tua sebagai pihak yang aktif mengembangkan potensi anak. Tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, orang tua juga mendorong anak mengikuti berbagai kegiatan yang dinilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir, komunikasi, rasa percaya diri, hingga keterampilan sosial.
Pola asuh ini memiliki sejumlah ciri khas. Salah satunya adalah anak mengikuti berbagai aktivitas terstruktur, seperti les matematika, kursus bahasa, musik, olahraga, maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
Selain itu, orang tua juga membangun komunikasi yang intens dengan anak. Anak didorong untuk menyampaikan pendapat, bertanya, serta terlibat dalam diskusi sebelum keputusan diambil.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan juga menjadi karakter utama pola asuh ini. Mereka aktif memantau perkembangan belajar anak, berkomunikasi dengan guru, hingga membantu menyelesaikan kesulitan akademik.
Di sisi lain, anak juga dilatih agar percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain, termasuk berbicara dengan orang dewasa, mengungkapkan kebutuhan, dan menyampaikan pendapat secara sopan.
Penerapan concerted cultivation dinilai memiliki sejumlah manfaat. Anak cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi karena terbiasa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan berbagai kalangan.
Pola asuh ini juga membantu meningkatkan kemampuan komunikasi, melatih anak berpikir kritis dalam memecahkan masalah, mendukung prestasi akademik, sekaligus memberi kesempatan bagi anak untuk menemukan minat dan bakat sejak usia dini.
Meski demikian, para orang tua tetap perlu menerapkannya secara seimbang. Jadwal yang terlalu padat dan tuntutan untuk terus berprestasi berpotensi membuat anak mengalami kelelahan, stres, bahkan kehilangan waktu bermain yang penting bagi tumbuh kembangnya.
Karena itu, para ahli menyarankan agar orang tua tetap memberikan ruang bagi anak untuk beristirahat, bermain, serta menghargai minat dan kemampuan yang dimiliki tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Dengan penerapan yang tepat, concerted cultivation dapat menjadi salah satu pola asuh yang membantu anak berkembang secara optimal, tanpa mengorbankan kebahagiaan dan keseimbangan masa kecilnya. (R-05)

