IHSG Rebound pada Awal Juli 2026, Sempat Merah Lalu Berbalik Hijau Dekati Level 5.700
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal semester II 2026 dengan pergerakan cepat. Setelah sempat turun saat pembukaan, IHSG langsung berbalik menguat hingga mendekati level 5.700. Pergerakan ini jadi perhatian setelah sehari sebelumnya mengalami koreksi lebih tiga persen.
Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, IHSG sempat turun sekitar 0,05 persen ke posisi 5.640. Tekanan tersebut tidak bertahan lama. Dalam waktu kurang dari 15 menit, indeks berbalik naik sekitar 0,58 persen menuju kisaran 5.675 hingga sempat menyentuh level tertinggi harian sekitar 5.705.
Aktivitas transaksi juga mulai meningkat sejak awal sesi. Volume perdagangan mencapai lebih dari dua miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp1,4 triliun. Ratusan saham bergerak menguat, sedangkan jumlah saham yang melemah lebih sedikit dibanding emiten yang berhasil naik.
Penguatan ini muncul sehari setelah IHSG mengalami salah satu koreksi terdalam sepanjang tahun. Kondisi tersebut memicu aksi beli pada sejumlah saham setelah harga dinilai sudah berada di level lebih rendah.
Meski warna hijau kembali terlihat di papan perdagangan, sejumlah analis mengingatkan tekanan belum sepenuhnya berakhir. Sentimen global masih menjadi faktor utama pergerakan pasar, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Indonesia maupun Amerika Serikat.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya menilai pelaku pasar sedang menunggu sejumlah indikator ekonomi domestik, mulai dari data inflasi, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia, hingga neraca perdagangan.
"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan support di area 5.560 dan resistance sekitar 5.735. Selama belum mampu menembus area tersebut, tekanan jual masih berpotensi muncul," tulis laporan BRI Danareksa Sekuritas. Riset tersebut juga merekomendasikan saham HMSP, ARTO, dan CPIN sebagai pilihan perdagangan jangka pendek.
Selain data ekonomi Indonesia, perhatian investor juga tertuju pada laporan tenaga kerja Amerika Serikat. Data tersebut dipandang menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
Phintraco Sekuritas ikut mengingatkan kondisi teknikal IHSG masih memerlukan kehati-hatian. Dalam analisanya, indikator MACD mulai menunjukkan pelemahan, sedangkan Stochastic RSI masih bergerak turun.
IHSG masih berpotensi menguji area 5.500 jika tekanan jual kembali meningkat. Perusahaan sekuritas tersebut memilih saham WIFI, CPIN, CMRY, PGEO, dan DATA sebagai saham pilihan pada perdagangan hari ini.
Di tengah pergerakan IHSG, mayoritas bursa saham Asia juga dibuka menguat. Bursa Jepang, Taiwan, China, Malaysia, Filipina, dan Singapura bergerak di zona hijau. Kondisi tersebut ikut membantu sentimen positif pada perdagangan domestik.
Meski begitu, tekanan eksternal belum hilang sepenuhnya. Nilai tukar rupiah masih berada dekat level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan perhatian investor hari ini tertuju pada data inflasi Indonesia serta pergerakan rupiah. "Investor masih mengamati data inflasi Indonesia dan pergerakan nilai tukar rupiah. IHSG masih memiliki area support di sekitar 5.619 dan resistance pada kisaran 5.722," katanya.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar masih bergerak fluktuatif. Penguatan Wall Street memberi sentimen positif, sedangkan arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan harga komoditas menjadi faktor penekan.
Panin Sekuritas juga menilai ruang penguatan masih terbatas. Lembaga tersebut melihat minimnya katalis domestik serta keluarnya dana asing masih menjadi tantangan pada awal semester II.
Meski demikian, perdagangan pagi memperlihatkan minat beli mulai kembali muncul. Beberapa saham bahkan mencatat kenaikan dua digit dan masuk daftar top gainers. Saham SHIP melonjak lebih dari 20 persen, disusul MGNA, BABY, PEGE, dan AYLS.
Sektor energi juga mulai bergerak menguat meski sejumlah emiten masih bergerak bervariasi. Saham PT Bukit Asam Tbk ikut mencatat kenaikan, sedangkan beberapa saham batu bara lain bergerak stagnan atau terkoreksi tipis.
Secara keseluruhan, perdagangan hari pertama Juli memberi sinyal adanya upaya pemulihan setelah tekanan besar pada akhir semester I. Pelaku pasar tetap menunggu arah baru dari data inflasi Indonesia, neraca perdagangan, PMI manufaktur, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Selama sentimen global masih berubah cepat, pergerakan IHSG diperkirakan tetap berlangsung fluktuatif. Level 5.700 menjadi area penting yang akan diuji pasar dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, peluang pemulihan semakin terbuka. Sebaliknya, tekanan jual masih berpotensi muncul apabila data ekonomi global dan domestik bergerak di bawah ekspektasi pasar. R-02

