Sering Overthinking? Dokter Ungkap Penyebab GERD Bisa Makin Parah Saat Stres
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Kebiasaan overthinking atau terlalu banyak pikiran ternyata bukan sekadar mengganggu kesehatan mental. Kondisi ini juga dapat memperparah gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) sehingga penderita lebih sering mengalami nyeri ulu hati, dada terasa terbakar, hingga asam lambung naik ke tenggorokan.
Dokter spesialis penyakit dalam Fachrial Imam menjelaskan bahwa secara medis overthinking memang tidak menjadi penyebab langsung GERD. Namun, stres dan kecemasan yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon tubuh yang berperan penting dalam fungsi saluran pencernaan.
Menurutnya, ketika seseorang mengalami tekanan emosional, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah lebih tinggi. Kondisi ini dapat meningkatkan produksi asam lambung, memperlambat proses pengosongan lambung, serta membuat saluran cerna menjadi lebih sensitif terhadap rasa nyeri dan ketidaknyamanan.
"Akibatnya, pengidap GERD dapat merasakan gejala yang lebih berat saat sedang banyak pikiran atau mengalami tekanan emosional. Bahkan pada sebagian orang, gejala seperti dada terasa panas, sesak, atau tidak nyaman di tenggorokan dapat muncul lebih sering ketika tingkat stres meningkat," ujar Fachrial yang bertugas di Eka Hospital Cilegon, Selasa (30/6/2026).
Ia menambahkan, banyak pasien terjebak dalam siklus yang sulit diputus. Gejala GERD yang muncul membuat penderita semakin khawatir terhadap kondisi kesehatannya. Rasa cemas tersebut kemudian memicu stres yang lebih berat, sehingga gejala GERD kembali kambuh dan menjadi semakin parah.
Selain faktor psikologis, overthinking juga sering memicu perubahan gaya hidup yang justru memperbesar risiko kambuhnya GERD. Orang yang mengalami stres berkepanjangan cenderung makan tidak teratur, kurang tidur, mengonsumsi kopi secara berlebihan, hingga memilih makanan tinggi lemak atau pedas yang dapat merangsang produksi asam lambung.
Karena itu, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting dalam pengendalian GERD, selain mengatur pola makan dan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.
Fachrial mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala GERD yang muncul berulang. Penanganan sejak dini dapat mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup penderita.
Beberapa gejala GERD yang paling sering dialami antara lain sensasi terbakar di dada atau ulu hati (heartburn), rasa asam atau pahit yang naik ke tenggorokan, sering bersendawa, perut terasa penuh atau kembung, mual setelah makan, batuk kronis terutama pada malam hari, suara serak, tenggorokan terasa mengganjal, hingga gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman pada dada dan tenggorokan.
Dokter juga menyarankan masyarakat untuk mengelola stres melalui pola hidup sehat, seperti tidur yang cukup, rutin berolahraga, melakukan relaksasi, serta menghindari kebiasaan makan berlebihan menjelang tidur. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko kambuhnya GERD sekaligus menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. (R-05)

