IHSG Terjun Bebas ke 5.643, Pasar Modal Indonesia Diguncang Aksi Jual Besar
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan terakhir semester I 2026 dengan tekanan besar. Indeks ambles 177,59 poin atau 3,05 persen ke level 5.643,19, sementara investor asing membukukan aksi jual bersih lebih dari Rp1 triliun.
Pergerakan tersebut menjadi penutup semester pertama yang berat bagi Bursa Efek Indonesia. Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan, terutama saham berbobot besar di sektor perbankan dan komoditas.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 564 saham melemah, hanya 136 saham menguat, sedangkan 99 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp15,33 triliun dengan volume perdagangan mencapai 22,7 miliar saham.
Investor asing tercatat melakukan net sell Rp1,04 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler saja, nilai jual bersih mencapai sekitar Rp1,21 triliun, sementara pasar negosiasi dan tunai masih mencatat pembelian bersih sekitar Rp162,55 miliar.
Saham perbankan menjadi sasaran utama aksi jual. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat nilai jual bersih asing sekitar Rp766 miliar. Setelah itu disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sekitar Rp225 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sekitar Rp157 miliar.
Di sisi lain, saham yang masih memperoleh pembelian bersih asing antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA), serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Tekanan tidak hanya terjadi pada saham individual. Seluruh indeks sektoral ikut tenggelam. Sektor barang baku menjadi yang paling dalam terkoreksi dengan penurunan 5,54 persen. Setelah itu disusul sektor energi 3,51 persen, barang konsumsi nonprimer 2,79 persen, properti 2,68 persen, infrastruktur 2,22 persen, dan sektor keuangan 1,89 persen.
Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia masih rendah. "Investor asing masih keluar dan tren harga saham masih menurun. Pelaku pasar memilih menunggu sampai terbentuk titik terendah sebelum kembali melakukan akumulasi," ujar Arjun, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Arjun, secara teknikal IHSG berpotensi menguji level 5.600. Jika tekanan terus berlanjut, indeks dapat bergerak menuju area 5.350 sebagai level penopang berikutnya.
Senada dengan itu, Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan tekanan pasar masih berasal dari kombinasi sentimen global dan domestik.
"Pelaku pasar masih menunggu kepastian berbagai perkembangan global. Perhatian juga tertuju pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat serta data ekonomi penting dalam negeri," kata Maximilianus Nico Demus.
Ia memperkirakan IHSG pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026 masih memiliki peluang melanjutkan koreksi dengan kisaran pergerakan 5.520 hingga 5.740.
Selain pasar saham, nilai tukar rupiah juga bergerak melemah. Mata uang Indonesia ditutup di kisaran Rp17.907 per dolar AS, sedangkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada pada level Rp17.899 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran.
"Pasar masih menunggu kepastian mengenai pembicaraan perdamaian kedua negara. Ketidakjelasan tersebut membuat investor kembali memilih aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat," ujar Ibrahim Assuaibi.
Ia menambahkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve juga memperkuat dolar AS sehingga mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Pelaku pasar saat ini juga menunggu laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit Kamis, 2 Juli 2026. Data tersebut menjadi salah satu indikator utama arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis inflasi Juni serta neraca perdagangan Indonesia. Kedua indikator tersebut diperkirakan memberi gambaran mengenai kekuatan ekonomi nasional pada pertengahan tahun.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen risk off masih mendominasi perdagangan. "Penguatan dolar AS membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk mata uang dan saham di negara berkembang," kata Lukman Leong.
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Di tengah tekanan tersebut, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto masih melihat saham BBCA memiliki fundamental yang relatif kuat dibanding emiten perbankan lain.
"Kalau memilih sektor perbankan, pilihan utama masih BBCA karena dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik menghadapi kondisi pasar saat ini," ujar Rully Arya Wisnubroto.
Walau demikian, saham-saham bank Himbara masih dibayangi sejumlah sentimen, termasuk kebijakan suku bunga kredit serta biaya dana yang berpotensi meningkat.
Selama perdagangan Selasa, saham BBCA turun 6,33 persen, BBRI melemah 3,87 persen, BMRI turun 2,28 persen, sedangkan BBNI terkoreksi 3,07 persen.
Secara keseluruhan, IHSG telah kehilangan sekitar 34,74 persen sejak awal 2026. Dalam sepekan terakhir saja, indeks sudah terkoreksi sekitar 7,5 persen, memperlihatkan tekanan masih mendominasi pasar modal Indonesia.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data ekonomi domestik, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, perkembangan geopolitik Timur Tengah, serta pergerakan rupiah. Seluruh faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu arah IHSG memasuki awal semester II 2026. R-02

