Rupiah Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS Dipicu Sentimen Global
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Selasa, 30 Juni 2026, setelah sehari sebelumnya sempat mencatat penguatan. Pelemahan ini terjadi saat pasar global dibayangi ketidakpastian geopolitik, penguatan dolar AS, serta ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Saat perdagangan dibuka pada Selasa pagi, rupiah berada di level Rp17.883 per dolar AS, melemah sekitar 32 poin dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.851 per dolar AS. Tekanan terus berlanjut hingga penutupan perdagangan sore hari. Berdasarkan data pasar spot, rupiah berakhir di kisaran Rp17.907 per dolar AS, turun sekitar 56 poin atau 0,31 persen.
Pergerakan tersebut memutus tren penguatan rupiah dalam beberapa hari sebelumnya. Pada Senin, mata uang Garuda sempat menguat sekitar 63 poin menuju Rp17.859 per dolar AS setelah sebelumnya ditutup di Rp17.922 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah muncul dari berbagai arah. Salah satu pemicu utama berasal dari ketidakpastian hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar semula berharap kedua negara melanjutkan pembicaraan damai setelah kesepakatan penghentian konflik pada pertengahan Juni. Harapan itu memudar setelah belum ada kepastian pertemuan lanjutan.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakjelasan agenda perundingan tersebut membuat investor kembali memilih aset yang dianggap lebih aman.
"Ketidakpastian mengenai apakah kedua negara akan bertemu kembali menunjukkan rapuhnya kesepakatan penghentian konflik yang sempat mengganggu jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz," ujar Ibrahim, Selasa, 30 Juni 2026.
Ketegangan geopolitik tersebut ikut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Saat risiko meningkat, investor global cenderung memindahkan dana menuju dolar AS dan aset safe haven lain. Arus modal keluar dari negara berkembang pun meningkat, termasuk Indonesia.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve masih menunjukkan sikap ketat terhadap inflasi. Sejumlah pejabat bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini.
Ekspektasi tersebut diperkuat menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Kamis, 2 Juli 2026. Data ketenagakerjaan itu menjadi indikator penting bagi investor dalam membaca arah kebijakan The Fed beberapa bulan ke depan.
Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar memperkirakan ekonomi Amerika Serikat akan menciptakan sekitar 114 ribu lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran bertahan di kisaran 4,3 persen. "Data tenaga kerja akan menjadi acuan penting bagi pasar dalam membaca langkah The Fed berikutnya," katanya.
Di sisi lain, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen risk-off di pasar saham domestik. Menurut Lukman, dolar AS ikut menguat setelah keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat mempertahankan independensi Federal Reserve.
Putusan tersebut meningkatkan keyakinan investor terhadap kredibilitas kebijakan bank sentral AS sehingga permintaan terhadap dolar kembali naik. "Sentimen risk off di pasar domestik membuat permintaan dolar meningkat sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan," kata Lukman.
Tekanan terhadap rupiah berjalan beriringan dengan pelemahan pasar saham Indonesia. IHSG ditutup anjlok 177,5 poin atau sekitar 3,05 persen ke level 5.643. Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 564 saham melemah, 136 saham menguat, sedangkan 99 saham bergerak stagnan.
Nilai transaksi sepanjang perdagangan mencapai sekitar Rp15 triliun dengan volume mencapai 22 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,6 juta kali, sementara kapitalisasi pasar menyusut menjadi sekitar Rp9.919 triliun.
Ibrahim Assuaibi menambahkan pasar juga merespons regulasi baru terkait instrumen obligasi investasi Danantara. Menurutnya, aturan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai tata kelola sehingga ikut memengaruhi sentimen investor.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih menunggu rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Data tersebut dipandang menjadi indikator penting dalam mengukur daya tahan ekonomi nasional menghadapi tekanan global.
Surplus perdagangan Indonesia hingga April 2026 tercatat sekitar 5,64 miliar dolar AS, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di atas 10 miliar dolar AS.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan penyusutan surplus perdagangan dapat meningkatkan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan apabila tidak diimbangi masuknya investasi asing. "Ketahanan eksternal dapat melemah apabila arus modal asing tidak mampu mengimbangi penurunan surplus perdagangan," ujarnya.
Sinyal pelemahan rupiah juga tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp17.899 per dolar AS, lebih lemah dibanding hari sebelumnya di posisi Rp17.856 per dolar AS.
Meski demikian, kondisi fiskal Indonesia masih dinilai cukup stabil. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga Mei 2026 berada di kisaran 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Defisit fiskal hingga Mei masih sekitar 0,7 persen dari PDB dan diperkirakan tetap berada di bawah tiga persen sampai akhir tahun," kata Juda.
Memasuki Rabu, 1 Juli 2026, analis memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berada pada rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS, sedangkan Lukman Leong memperkirakan pergerakan di kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Arah rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan tetap bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik global, data tenaga kerja Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, serta data ekonomi domestik yang segera dirilis. Selama ketidakpastian global masih tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan belum sepenuhnya mereda. R-02

