Viral! Satu Kompi TNI Gondol Lembu Warga, Pengakuan Dandim Malah Bikin Cerita Berubah
Potongan video bernarasi satu kompi anggota TNI dipergoki warga menggiring belasan lembu milik seorang janda di Labuhanbatu. (sumber: instagram @distrikberita)
SUMUT, SabangMerauke News - Video viral penggiringan 16 ekor lembu memicu banyak pertanyaan. Narasi media sosial berkembang sangat cepat pada peristiwa yang terjadi di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu. Kodim 0209/Labuhanbatu akhirnya memberikan penjelasan.
Dandim 0209/Labuhanbatu Letkol Kav Hanung Kaptiaji membantah tudingan tersebut. Ia memastikan tidak ada satu kompi prajurit mengambil ternak warga. "Memang ada personel militer di lapangan, dua orang," kata Hanung Kaptiaji.
Tugas mereka disebut berbeda. Kehadiran mereka sebatas pengamanan. Hanung menjelaskan situasi saat itu memanas. Sengketa terjadi antara dua kelompok warga. Potensi keributan cukup tinggi. Pengamanan dianggap diperlukan. "Tapi mereka di lokasi dalam rangka pengamanan situasi. Bukan mengambil sapi," ujar Hanung.
Pernyataan tersebut berbeda dengan narasi video. Media sosial menyebut satu kompi prajurit menggiring ternak. Kodim menolak tuduhan itu. Penelusuran internal langsung dilakukan.
Hanung mengungkapkan penyelidikan tetap berjalan. Subdenpom I/1-2 Rantauprapat menangani pemeriksaan. Peran dua prajurit masih didalami. Hasil akhirnya belum diumumkan. "Peran dari pengamanan masih didalami," ucap Hanung.
Kodim juga mengaku sudah menemui dua kubu. Sengketa berlangsung antara Martogi Sinaga dan pria berinisial J. Perselisihan berlangsung sejak Mei 2026. Jalur hukum sudah ditempuh.
Hanung memilih tidak menentukan siapa benar. Penilaian menjadi kewenangan aparat. Kodim hanya menjaga keamanan. Proses hukum tetap berjalan. "Kami mendorong fokus pada proses hukum," kata Hanung.
Di sisi lain, cerita berbeda muncul. Kuasa hukum Martogi Sinaga menyampaikan dugaan lain. Dugaan itu berkaitan dengan seorang personel TNI. Pernyataan tersebut memperpanjang polemik.
Dwi Ngai Sinaga, kuasa hukum Martogi, mengatakan kliennya menduga ada oknum TNI ikut terlibat. Dugaan muncul berdasarkan pengakuan keluarga korban. Mereka mengenali seseorang berinisial G. Pria itu disebut bertugas sebagai personel TNI. "Ya, kami menduga lembu itu dibawa sejumlah oknum TNI," kata Dwi Ngai Sinaga.
Menurut Dwi, sosok G diduga mengarahkan massa. Belasan lembu dipindahkan ke lahan lain. Hewan tersebut disebut disuntik obat bius. Keberadaannya kini belum diketahui. "Diduga si G mengarahkan orang ramai mengambil lembu," ujar Dwi.
Kuasa hukum juga mengambil langkah hukum. Laporan diajukan ke Polres Labuhanbatu. Pengaduan dikirim menuju Pomdam I/Bukit Barisan. Tujuannya meminta penelusuran menyeluruh.
Dwi berharap seluruh laporan diproses profesional. Semua bukti diharapkan diperiksa. Seluruh saksi juga dimintai keterangan. Kepastian hukum menjadi tujuan utama.
Sementara itu, video viral masih beredar. Rekaman memperlihatkan sejumlah pria berjalan malam hari. Suara warga terdengar keras. Identitas seluruh orang belum dipastikan.
Kodim meminta masyarakat berhati-hati. Narasi media sosial belum tentu sesuai fakta. Penyelidikan masih berlangsung. Kesimpulan akhir belum tersedia.
Penyelidikan kini berjalan pada beberapa jalur. Kepolisian menangani laporan sengketa kepemilikan ternak. Polisi Militer memeriksa dugaan keterlibatan prajurit. Masing-masing proses memiliki kewenangan berbeda.
Menurut Hanung, sengketa bukan muncul mendadak. Perselisihan sudah berlangsung cukup lama. Kedua kubu sama-sama memiliki klaim. Persoalan kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.
Hanung menjelaskan pria berinisial J memiliki lahan. Di kawasan itu terdapat sejumlah lembu. Keluarga Martogi Sinaga kemudian mengklaim ternak tersebut. Perselisihan akhirnya sulit dihindari. "Awal mulanya saudara J memiliki lahan. Kemudian muncul klaim dari keluarga Ibu MS," kata Hanung.
Kodim memilih tidak masuk ke pokok sengketa. Penentuan hak kepemilikan menjadi ranah penyidik. Aparat militer hanya menjaga keamanan. Pendekatan itu tetap dipertahankan. "Kami tidak menentukan siapa benar. Semua mengikuti proses hukum," ujar Hanung.
Hanung juga membantah narasi satu kompi prajurit. Ia menyebut informasi tersebut tidak sesuai hasil pengecekan. Kodim telah mengumpulkan keterangan lapangan. Hasilnya berbeda dari cerita media sosial. "Tidak ada keterlibatan satu kompi TNI mengambil lembu," tegas Hanung.
Kodim juga membuka ruang pengaduan. Setiap warga dipersilakan menyerahkan bukti. Bukti tersebut akan diperiksa. Langkah lanjutan segera dilakukan. "Jika ada bukti keterlibatan prajurit, laporkan kepada kami," kata Hanung.
Pernyataan itu menjadi penegasan penting. Dugaan tidak langsung ditolak mentah. Kodim memilih membuka proses pemeriksaan. Transparansi menjadi bagian penyelidikan.
Di sisi lain, kuasa hukum Martogi tetap bertahan. Dwi Ngai Sinaga meminta seluruh laporan diproses tuntas. Semua saksi diharapkan diperiksa. Bukti lapangan perlu diuji. "Harapan kami, laporan diproses proporsional dan profesional," ujar Dwi Ngai Sinaga, kuasa hukum Martogi Sinaga.
Kasus tersebut berkembang menjadi perhatian luas. Video singkat memicu beragam tafsir. Narasi berbeda bermunculan. Fakta lapangan masih terus dikumpulkan.
Sampai Senin, 29 Juni 2026, belum ada hasil penyelidikan akhir. Polisi belum menetapkan kesimpulan. Polisi Militer juga masih bekerja. Semua proses masih berjalan.
Perbedaan keterangan menjadi bagian penting. Kodim mengakui dua prajurit hadir. Kuasa hukum menduga ada oknum terlibat. Dugaan itu masih diperiksa.
Situasi tersebut memperlihatkan pentingnya verifikasi. Video tidak selalu menggambarkan keseluruhan peristiwa. Keterangan saksi juga perlu diuji. Bukti menjadi dasar utama.
Sengketa kepemilikan ternak akhirnya berubah besar. Konflik perdata berkembang menjadi perhatian publik. Dugaan keterlibatan aparat ikut mencuat. Penyelidikan menjadi penentu arah perkara.
Masyarakat Labuhanbatu kini menunggu kepastian. Pemilik ternak menanti kejelasan nasib lembunya. Kodim menunggu hasil pemeriksaan. Aparat penegak hukum terus bekerja. R-02
BERITA TERKAIT :
-
Pembunuhan Luis David Hutabarat
Jeritan Pilu Desy di Medan: Suami Saya Dipiting Mantan Tentara Sampai Mati!

