Jangan Anggap Sepele, Stres Harian Bisa Naikkan Kolesterol Jahat dan Memicu Penyakit Jantung
Ilustrasi
RIAU, SabangMerauke News – Selama ini kolesterol tinggi identik dengan kebiasaan mengonsumsi gorengan, makanan cepat saji, dan makanan tinggi lemak. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa penyebab kolesterol tinggi tidak hanya berasal dari pola makan. Stres yang berlangsung dalam waktu lama ternyata juga dapat memicu peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan risiko penyakit jantung.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal memilih makanan bergizi, tetapi juga mengelola kondisi mental agar tubuh tetap berada dalam kondisi optimal.
Para ahli menjelaskan, ketika seseorang mengalami stres, tubuh secara alami melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kedua hormon tersebut berfungsi membantu tubuh menghadapi tekanan atau situasi darurat dengan meningkatkan detak jantung, tekanan darah, hingga kewaspadaan.
Namun, jika stres berlangsung terus-menerus atau menjadi stres kronis, kadar kortisol yang tinggi justru dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan, termasuk memengaruhi metabolisme tubuh dan meningkatkan kadar kolesterol.
Dikutip dari WebMD, stres berkepanjangan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung karena memengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Kondisi ini membuat kadar kolesterol jahat atau LDL meningkat, sementara kolesterol baik (HDL) yang berfungsi membersihkan LDL dari pembuluh darah justru menurun.
Akibatnya, kolesterol jahat dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Penumpukan tersebut lama-kelamaan mempersempit arteri sehingga meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Erta Priadi Wirawijaya, SpJP, FIHA, menjelaskan bahwa hormon kortisol memiliki pengaruh besar terhadap metabolisme tubuh.
"Kortisol dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan menyebabkan peningkatan kadar gula darah, yang dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah," jelasnya.
Selain memicu perubahan hormon, stres juga sering kali membuat seseorang menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Banyak orang memilih makanan tinggi lemak dan gula sebagai pelampiasan, mengurangi aktivitas fisik, merokok lebih banyak, atau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
Kombinasi berbagai kebiasaan tersebut akhirnya memperbesar peluang terjadinya kolesterol tinggi.
Sejumlah penelitian juga memperkuat hubungan antara stres dan peningkatan kadar kolesterol.
Salah satu penelitian berskala besar yang melibatkan lebih dari 91 ribu orang dewasa dari berbagai profesi menemukan bahwa stres akibat pekerjaan berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol LDL dan menurunnya HDL. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja dengan tingkat stres tinggi lebih banyak menggunakan obat penurun kolesterol dibandingkan kelompok lainnya.
Penelitian lain terhadap petugas penegak hukum di Iowa menemukan bahwa petugas perempuan cenderung mengalami tingkat stres lebih tinggi dibandingkan petugas laki-laki. Kondisi tersebut turut diikuti dengan tingginya angka kolesterol serta kecenderungan mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.
Sementara itu, studi terhadap 439 pengemudi bus, truk, dan taksi juga memperlihatkan hasil serupa. Mereka yang mengalami tekanan kerja tinggi memiliki kadar kolesterol LDL dan trigliserida yang lebih tinggi, kadar HDL yang lebih rendah, serta tekanan darah yang cenderung meningkat.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak stres tidak hanya dirasakan secara psikologis, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik yang berisiko menimbulkan penyakit serius.
Karena itu, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kesehatan mental sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.
Mengelola stres dapat dilakukan melalui berbagai cara sederhana. Salah satunya adalah menjaga komunikasi dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja. Berbagi cerita dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan membuat seseorang merasa lebih tenang.
Menulis jurnal atau catatan harian juga menjadi salah satu metode yang banyak direkomendasikan. Dengan menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan, seseorang dapat mengurangi beban mental yang selama ini dipendam.
Selain itu, mendengarkan musik dengan tempo yang menenangkan terbukti mampu membantu tubuh menjadi lebih rileks. Sementara musik dengan tempo lebih cepat dapat meningkatkan semangat ketika tubuh mulai merasa lelah akibat tekanan pekerjaan.
Cara yang tidak kalah penting adalah rutin berolahraga. Aktivitas fisik dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang dikenal sebagai hormon kebahagiaan. Endorfin membantu memperbaiki suasana hati sekaligus mengurangi tingkat stres.
Di sisi lain, olahraga juga membantu menjaga berat badan ideal, meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), serta menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), sehingga manfaatnya sangat besar bagi kesehatan jantung.
Selain berolahraga, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian, ikan, serta membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans. Tidur yang cukup dan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko kolesterol tinggi sejak dini.
Dengan demikian, menjaga kadar kolesterol tidak cukup hanya menghindari gorengan atau makanan berlemak. Mengendalikan stres melalui pola hidup sehat, aktivitas fisik yang rutin, serta menjaga keseimbangan mental merupakan bagian penting dalam mencegah kolesterol tinggi dan berbagai penyakit kardiovaskular yang mengintai. (R-05)

