Rupiah Masih Dibayangi Level Rp18.000, Pasar Tunggu Sinyal Besar Pekan Ini
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) dibuka pada level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat setelah turun sekitar 0,04 persen.
Pergerakan ini terjadi saat dolar Amerika Serikat tetap bertahan kuat sehingga memberi tekanan terhadap hampir seluruh mata uang Asia, termasuk rupiah. Pada perdagangan pagi, indeks dolar Amerika Serikat berada di level 101,36. Posisi tersebut mencerminkan permintaan terhadap aset berbasis dolar masih cukup tinggi.
Penguatan mata uang Amerika Serikat ikut menyeret mata uang kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatat pelemahan paling besar di antara mata uang yang sudah diperdagangkan pada sesi pagi. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, serta yen Jepang juga bergerak di zona negatif.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Sikap investor asing terhadap Indonesia juga menjadi perhatian pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Laporan Bloomberg menyebut tiga bank asing terbesar di Indonesia, yakni Citigroup, Standard Chartered, dan HSBC, telah merepatriasi laba sekitar Rp11,5 triliun sepanjang periode 2024 hingga 2025. Nilai tersebut bahkan disebut melampaui total keuntungan yang dibukukan selama periode yang sama.
Sejumlah pelaku industri perbankan menilai langkah tersebut mencerminkan kehati-hatian investor asing dalam melihat prospek ekonomi Indonesia, terutama terkait arah kebijakan ekonomi nasional serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin selektif menempatkan dana pada aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika arus modal asing mulai berkurang, tekanan terhadap nilai tukar rupiah cenderung meningkat. Sepanjang pekan ini perhatian investor juga tertuju pada berbagai data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Data nonfarm payrolls atau penciptaan lapangan kerja diperkirakan menunjukkan perlambatan dibanding bulan sebelumnya. Meski demikian, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil sehingga memberi gambaran kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih cukup kuat.
Selain data tenaga kerja, pelaku pasar juga menunggu pernyataan para pejabat bank sentral Amerika Serikat serta bank sentral utama dunia dalam Forum Bank Sentral Eropa atau ECB. Seluruh pernyataan tersebut akan menjadi dasar bagi investor untuk memperkirakan arah suku bunga global pada semester kedua tahun 2026.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada data neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan terbit pada Selasa, 30 Juni 2026. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kekuatan sektor eksternal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.
Selain neraca perdagangan, pasar juga menunggu rilis data inflasi nasional. Angka inflasi akan menjadi salah satu pertimbangan otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakan pada bulan ini. Pelaku pasar berharap data domestik mampu memberi sentimen positif sehingga minat terhadap aset Indonesia kembali meningkat.
Di sisi lain, apabila data ekonomi tidak sesuai harapan, permintaan terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi bertambah sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut.
Memasuki kuartal ketiga tahun 2026, investor juga mulai memperhitungkan kombinasi berbagai faktor, mulai dari kebijakan pemerintah, pergerakan modal asing, hingga perkembangan ekonomi global.
Ketiga faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama persepsi risiko terhadap Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Secara teknikal, pergerakan rupiah masih memiliki peluang menguat apabila mampu bertahan di area resistance terdekat sekitar Rp17.900 per dolar Amerika Serikat.
Apabila tekanan berhasil berkurang, rupiah berpeluang bergerak menuju level Rp17.870 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat. Bahkan dalam tren perdagangan mingguan, penguatan hingga level Rp17.800 dapat membuka ruang menuju kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati level psikologis Rp17.950 per dolar Amerika Serikat. Apabila batas tersebut terlampaui, tekanan diperkirakan meningkat menuju level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Selain faktor ekonomi, perkembangan geopolitik dunia ikut menjadi sumber ketidakpastian.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian investor global. Situasi tersebut memengaruhi minat investor terhadap aset aman, termasuk dolar Amerika Serikat.
Ekspektasi suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve juga menjadi faktor lain yang menopang penguatan dolar. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari negara berkembang sehingga tekanan terhadap mata uang regional masih cukup besar dalam jangka pendek.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ariston Tjendra, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut sepanjang perdagangan Senin, 29 Juni 2026.
"Investor masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah, termasuk kabar serangan Amerika Serikat ke Iran. Inflasi Amerika Serikat juga masih tinggi sehingga peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka," kata Ariston Tjendra.
Menurut Ariston, kombinasi sentimen geopolitik dan kebijakan moneter global membuat dolar Amerika Serikat tetap menjadi pilihan utama investor. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dengan kecenderungan masih melemah.
Data hingga Kamis, 26 Juni 2026, menunjukkan rupiah telah melemah sekitar 1.151 poin atau 6,86 persen dibanding posisi akhir tahun lalu yang berada di level Rp16.771 per dolar Amerika Serikat.
Meski sempat menguat 21 poin pada penutupan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, menjadi Rp17.922 per dolar Amerika Serikat, tekanan eksternal masih membuat ruang penguatan rupiah relatif terbatas.
Pelaku pasar kini menunggu kombinasi data ekonomi domestik, arah kebijakan bank sentral dunia, serta perkembangan geopolitik internasional. Ketiga faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu arah rupiah sepanjang awal kuartal ketiga tahun 2026. R-02

