Bukan karena Ingin Kaya, Ini Alasan Terbaru Warga RI Rajin Menabung, Ternyata Takut Biaya Hidup Makin Mahal
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News– Kebiasaan masyarakat Indonesia menabung di perbankan terus meningkat sepanjang 2026. Namun, lonjakan dana simpanan tersebut ternyata bukan menjadi tanda bahwa kondisi keuangan rumah tangga sedang membaik atau pendapatan masyarakat melonjak. Sebaliknya, banyak warga memilih menyimpan uang karena dihantui ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran biaya hidup yang terus meningkat.
Fenomena ini terutama terlihat pada kelompok nasabah dengan saldo tabungan di bawah Rp100 juta. Kelompok tersebut justru mencatat pertumbuhan simpanan paling tinggi dibandingkan kelompok nasabah dengan saldo yang lebih besar.
Temuan itu diungkap dalam laporan The Focal Point edisi 22 Juni 2026 yang diterbitkan BCA. Dalam kajian bertajuk Many Shades of Precautionary Savers, BCA menyimpulkan bahwa kenaikan tabungan lebih mencerminkan sikap berjaga-jaga masyarakat dibandingkan meningkatnya kesejahteraan.
"Perilaku berjaga-jaga di tengah tekanan rupiah yang masih berlanjut menjelaskan tertinggalnya simpanan rupiah dibandingkan simpanan valuta asing, terutama di kalangan penabung yang lebih mampu," tulis BCA dalam laporannya.
Laporan tersebut menunjukkan terdapat dua kekhawatiran utama yang membentuk perilaku masyarakat dalam mengelola uang. Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi lebih cemas terhadap pelemahan nilai tukar rupiah sehingga mulai mengalihkan dana ke valuta asing. Sementara masyarakat berpenghasilan rendah lebih khawatir menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok sehingga memilih memperbanyak tabungan sebagai dana cadangan.
Data menunjukkan simpanan dengan saldo di bawah Rp100 juta tumbuh paling tinggi. Hingga April 2026, kelompok ini mencatat pertumbuhan sebesar 5,4 persen secara tahunan.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan simpanan dengan saldo Rp100 juta hingga Rp500 juta yang hanya tumbuh 3,1 persen, serta kelompok saldo Rp500 juta hingga Rp1 miliar yang naik 2,4 persen.
Secara tahun berjalan, tabungan kelompok bawah juga masih meningkat sekitar 0,98 persen. Sepintas, kondisi ini terlihat sebagai sinyal positif bahwa masyarakat memiliki ruang keuangan lebih baik.
Namun BCA mengingatkan bahwa kesimpulan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Di sisi lain, simpanan rupiah milik kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi justru mengalami penurunan. Bahkan pada kelompok nasabah dengan dana terbesar, penurunan simpanan rupiah mencapai 2,47 persen.
Fenomena tersebut memperlihatkan adanya perubahan strategi pengelolaan aset. Kelompok masyarakat yang lebih mampu memiliki fleksibilitas untuk memindahkan dana ke instrumen lain, termasuk tabungan dalam valuta asing.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menunjukkan total simpanan perbankan Indonesia masih tumbuh besar. Hingga April 2026, total simpanan mencapai Rp10.107 triliun, meningkat sekitar 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9.076 triliun.
Meski demikian, secara bulanan jumlah simpanan justru turun sekitar 1,40 persen dibandingkan Maret 2026.
Sementara itu, data Bank Indonesia mengenai Uang Beredar memperlihatkan tren yang sama. Pada Mei 2026, tabungan rupiah memang masih tumbuh 8,7 persen menjadi Rp2.904,2 triliun.
Namun pertumbuhan tabungan valuta asing jauh lebih tinggi, yakni mencapai 29,9 persen menjadi Rp260,9 triliun.
Tidak hanya tabungan, Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam valuta asing juga meningkat 17,8 persen menjadi Rp1.585,1 triliun. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui DPK rupiah yang naik 9,6 persen menjadi Rp8.113,7 triliun.
Lonjakan simpanan valas menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mencari perlindungan terhadap pelemahan rupiah.
Bank Indonesia bahkan memperketat batas pembelian valuta asing maksimal US$10.000, yang memperlihatkan bahwa perpindahan dana ke aset valas menjadi perhatian serius.
Di sisi lain, kenaikan tabungan masyarakat bawah juga belum dapat diartikan sebagai bukti meningkatnya pendapatan.
Hal tersebut terlihat dari sektor manufaktur yang masih mengalami tekanan. Manufacturing PMI Indonesia pada Mei 2026 berada di level 49,7, atau masih berada di bawah angka 50 yang menandakan aktivitas industri masih berada di zona kontraksi.
Kondisi tersebut menunjukkan dunia usaha belum sepenuhnya pulih sehingga peluang peningkatan pendapatan masyarakat juga masih terbatas.
Ekspektasi pendapatan rumah tangga enam bulan ke depan juga mengalami pelemahan. Indeks ekspektasi pendapatan hanya berada di level 136,5, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Karena itu, meningkatnya tabungan lebih mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengatur keuangan daripada peningkatan penghasilan.
Perubahan preferensi investasi juga ikut berperan.
Survei menunjukkan masyarakat mulai kembali memilih tabungan dan deposito dibandingkan emas. Pada Mei 2026, sebanyak 42,7 persen rumah tangga memilih tabungan atau deposito sebagai instrumen investasi utama.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan peminat emas dan perhiasan yang sebesar 36,3 persen.
Padahal pada awal tahun, emas masih menjadi pilihan utama masyarakat.
Kenaikan suku bunga deposito membuat produk perbankan kembali dianggap lebih menarik dan relatif aman, sementara kenaikan harga emas mulai melambat.
Faktor paling dominan lainnya adalah kekhawatiran terhadap biaya hidup.
Masyarakat memilih memperbesar tabungan karena ingin memiliki cadangan dana apabila harga kebutuhan pokok terus meningkat.
Hal itu tercermin dari porsi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi yang masih berada di level 72,3 persen, lebih rendah dibandingkan kondisi normal sebelumnya.
Selain itu, indeks pembelian barang tahan lama juga masih berada di angka 108,3, menunjukkan masyarakat belum agresif membeli barang bernilai besar seperti kendaraan, elektronik maupun perlengkapan rumah tangga.
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pengendalian harga kebutuhan pokok juga menurun menjadi 45,2 persen, lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya yang mencapai 49,5 persen.
Kekhawatiran semakin bertambah setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi, meski pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak berubah sepanjang 2026.
Pada akhirnya, fenomena meningkatnya tabungan masyarakat Indonesia memperlihatkan dua karakter penabung.
Kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi memilih mengamankan kekayaan dengan memperbesar kepemilikan valuta asing akibat khawatir pelemahan rupiah.
Sementara masyarakat berpenghasilan rendah memilih memperbesar tabungan rupiah sebagai bantalan menghadapi ancaman kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
BCA menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian nasional. Ketika masyarakat lebih memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya, konsumsi rumah tangga berpotensi melambat, padahal konsumsi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam situasi itu, belanja pemerintah dinilai tetap memegang peranan penting untuk menjaga permintaan domestik, terutama jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan kebijakan suku bunga tinggi masih harus dipertahankan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. (R-05)

