Terungkap! Kebiasaan Makan Pakai Sendok Plastik Saat Makanan Panas Ternyata Berisiko, Begini Cara Aman
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Kebiasaan menggunakan sendok plastik saat menyantap makanan panas ternyata tidak bisa lagi dianggap sepele. Meski terlihat praktis, murah, dan dinilai lebih higienis, penggunaan sendok plastik untuk makanan bersuhu tinggi berpotensi membawa risiko kesehatan jika dilakukan secara berulang dalam jangka panjang.
Peringatan ini menjadi perhatian di tengah masih tingginya penggunaan alat makan plastik sekali pakai oleh masyarakat, terutama saat menikmati makanan berkuah panas seperti bakso, mi kuah, soto, hingga sup. Banyak orang belum menyadari bahwa tidak semua jenis plastik dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan panas.
Edukator sekaligus Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap, mengingatkan masyarakat agar mulai lebih bijak dalam memilih alat makan. Menurutnya, suhu tinggi dapat memicu perpindahan senyawa kimia tertentu dari plastik ke makanan, terutama jika makanan tersebut juga mengandung minyak.
"Makan pakai sendok plastik itu jelas berbahaya. Selama ini kita makan pakai sendok plastik biar tangan bersih kan? Padahal, kalau sendok plastik ketemu makanan panas, berminyak, atau dipakai mengaduk terlalu lama, risikonya nggak main-main, lho," ujar Bang Sap seperti dikutip dari Okezone.
Ia menjelaskan, kombinasi antara suhu panas, kandungan lemak, dan lamanya kontak antara sendok plastik dengan makanan dapat meningkatkan potensi migrasi mikroplastik maupun senyawa kimia tertentu ke dalam makanan yang kemudian ikut dikonsumsi.
Kondisi tersebut terjadi karena setiap jenis plastik memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak semua bahan plastik mampu bertahan pada suhu tinggi sehingga sebagian berpotensi mengalami degradasi ketika digunakan untuk makanan panas.
Bang Sap mengimbau masyarakat agar tidak asal menggunakan alat makan plastik. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan kode identifikasi resin yang biasanya tercetak pada bagian belakang produk.
Menurutnya, masyarakat sebaiknya memilih produk dengan kode angka 5 atau PP (Polypropylene) yang dikenal lebih tahan terhadap panas dibandingkan jenis plastik lainnya.
"Gampangnya gini, balik sendoknya, cari kode segitiga, pilih angka lima. Nah, itu yang paling aman untuk panas. Hindari kode 6, karena lebih mudah melepas zat berbahaya saat kena panas," jelasnya.
Selain melihat kode plastik, konsumen juga disarankan memastikan adanya simbol gelas dan garpu atau tulisan food grade pada kemasan maupun produk. Tanda tersebut menunjukkan bahwa alat makan memang dirancang aman untuk bersentuhan dengan makanan.
"Kalau tidak ada logonya sama sekali, nah itu yang harus dihindari," tambahnya.
Bang Sap juga menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih sering menggunakan sendok plastik tipis sekali pakai ketika menikmati makanan panas. Menurutnya, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dikurangi demi menjaga kesehatan sekaligus mengurangi timbulan sampah plastik.
Ia menyarankan masyarakat mulai membawa alat makan pribadi berbahan stainless steel saat membeli makanan di luar rumah. Selain lebih aman terhadap suhu tinggi, penggunaan alat makan yang dapat dipakai berulang kali juga dinilai lebih ramah lingkungan.
"Intinya, jangan pakai sendok plastik tipis buat makan makanan panas atau berminyak. Atau lebih aman lagi, bawa sendok stainless steel sendiri dari rumah," katanya.
Selain memberikan manfaat bagi kesehatan, langkah sederhana tersebut juga dapat membantu mengurangi konsumsi plastik sekali pakai yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran lingkungan.
Bang Sap menegaskan bahwa alasan menggunakan sendok plastik demi menjaga kebersihan tangan sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, cara paling efektif untuk menjaga higienitas sebelum makan tetap dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
"Jangan karena nggak mau tangan kotor jadinya pakai sendok plastik terus. Lihat juga dong dari kesehatan diri dan dampaknya buat lingkungan," pungkasnya.
Pakar kesehatan juga selama ini mengingatkan pentingnya menggunakan wadah dan alat makan yang sesuai dengan fungsinya. Produk plastik yang telah dirancang sebagai food grade memang lebih aman digunakan, namun tetap memiliki batasan penggunaan, terutama jika terpapar suhu sangat tinggi atau digunakan berulang kali dalam kondisi yang tidak sesuai.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk mulai membiasakan diri menggunakan alat makan berbahan stainless steel, keramik, atau logam yang lebih tahan panas. Langkah sederhana ini dinilai dapat membantu meminimalkan risiko paparan senyawa dari plastik sekaligus mendukung gaya hidup yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Kesadaran masyarakat dalam memilih alat makan yang aman menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan keluarga. Di tengah tingginya konsumsi makanan siap saji dan makanan berkuah panas, memahami jenis plastik yang digunakan serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah kecil yang dapat memberikan manfaat besar dalam jangka panjang. (R-05)

