IHSG Lompat ke 6.010 Saat Bursa Asia Berdarah, Apa yang Sedang Terjadi?
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, dengan langkah positif. Indeks Bursa Efek Indonesia naik 11,3 poin atau 0,19 persen ke level 6.010, berlawanan arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona merah.
Penguatan ini memperlihatkan pasar domestik masih memiliki tenaga meski tekanan global belum sepenuhnya mereda. Sejak bel pembukaan berbunyi, saham sektor keuangan menjadi motor utama penguatan. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar ikut mengangkat indeks.
BBCA dan BBRI tampil sebagai penopang utama, disusul sektor properti, industri, energi, serta teknologi. Pergerakan tersebut menjadi lanjutan penguatan sehari sebelumnya. Pada Kamis, 25 Juni 2026, IHSG melesat 115,16 poin atau 1,96 persen hingga ditutup di level 5.999,04.
Meski indeks menguat, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih senilai Rp299 miliar. Saham BMRI menjadi emiten dengan nilai net sell terbesar mencapai Rp224,17 miliar. Disusul BBRI sebesar Rp93,23 miliar dan KLBF sekitar Rp77,31 miliar.
Kondisi itu memperlihatkan penguatan IHSG masih ditopang aksi beli investor domestik. Arus modal asing belum sepenuhnya kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, menilai peluang penguatan masih terbuka pada perdagangan terakhir pekan ini. "Hari ini IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan terbatas," kata Muhammad Lutfi Permana dalam riset harian, Jumat, 26 Juni 2026.
Menurut dia, area support berada pada kisaran 5.960 hingga 5.920. Sementara level resistance berada di rentang 6.060 sampai 6.120. Di saat pasar Indonesia bergerak naik, kondisi berbeda terlihat pada sebagian besar bursa Asia. Sentimen global masih dipengaruhi pergerakan Wall Street serta dinamika sektor teknologi dunia.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks utama Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average naik 0,14 persen. S&P 500 turun tipis 0,01 persen. Nasdaq Composite melemah 0,46 persen akibat tekanan saham-saham teknologi.
Salah satu perhatian investor tertuju pada Apple. Saham perusahaan tersebut turun lebih dari enam persen setelah menaikkan harga produk iPad serta MacBook sebagai respons meningkatnya biaya komponen.
Di sisi lain, optimisme masih muncul dari sektor semikonduktor. Micron mengumumkan komitmen pembelian chip memori senilai 22 miliar dolar Amerika Serikat. Qualcomm juga memproyeksikan pendapatan bisnis pusat data mencapai 15 miliar dolar Amerika Serikat pada 2029.
Sentimen global tersebut ikut memengaruhi strategi investor di Bursa Efek Indonesia. Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak mendatar dengan kecenderungan menguat. "IHSG diperkirakan bergerak sideways pada kisaran 5.850 hingga 6.100," tulis analis Phintraco Sekuritas dalam riset kepada investor.
Menurut analis tersebut, turunnya harga minyak dunia menuju kisaran 70 dolar Amerika Serikat per barel memberi ruang positif bagi pasar saham Indonesia. Efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis juga dinilai menjadi tambahan sentimen positif.
Pandangan serupa datang dari CGS International Sekuritas. Lembaga riset itu menilai tekanan jual investor asing masih menjadi faktor penghambat penguatan indeks. "IHSG diprediksi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Support berada di 5.885 dan 5.770, sedangkan resistance pada 6.115 hingga 6.230," tulis analis CGS International Sekuritas.
BRI Danareksa Sekuritas ikut mengingatkan investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Core PCE Price Index menjadi indikator penting yang sedang diamati pasar global.
Inflasi inti Amerika Serikat naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka tersebut memperkuat perkiraan pasar mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
"Data tersebut memperkuat ekspektasi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sehingga volatilitas pasar masih perlu dicermati," tulis analis BRI Danareksa Sekuritas.
Selain pergerakan indeks, sejumlah saham mencatat lonjakan harga cukup tinggi pada awal perdagangan. YUPI memimpin kenaikan setelah melesat 24,77 persen menjadi Rp2.040 per saham. PEGE naik 15,24 persen ke level Rp121. Saham SEMA bertambah 7,53 persen menjadi Rp100.
Sehari sebelumnya, saham RBMS melonjak hampir 34 persen. Disusul YUPI, KONI, FUTR, ZONE, serta RGAS yang sama-sama mencatat kenaikan dua digit. Aktivitas transaksi juga menunjukkan minat beli cukup tinggi. Volume perdagangan mencapai lebih dari 22 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp13,64 triliun.
Sebanyak 537 saham bergerak naik. Sebanyak 135 saham melemah. Sisanya bergerak datar tanpa perubahan berarti. Di tengah fluktuasi pasar, Bursa Efek Indonesia masih bersiap menyambut enam perusahaan baru yang akan melaksanakan penawaran umum perdana saham atau IPO pada awal Juli 2026.
Calon emiten tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai industri, kesehatan, consumer non-cyclicals hingga consumer cyclicals. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kondisi pasar yang masih berubah cepat tidak selalu menjadi alasan perusahaan menunda IPO. "Kualitas fundamental perusahaan tetap menjadi pertimbangan utama investor jangka panjang," ujar Nafan.
Menurut dia, perusahaan tetap memiliki peluang memperoleh dana segar selama valuasi saham ditetapkan secara realistis. Nafan menjelaskan underwriter biasanya menyarankan harga penawaran lebih kompetitif saat kondisi pasar berfluktuasi.
Strategi tersebut memberi ruang lebih besar bagi investor sekaligus meningkatkan peluang penyerapan saham pada hari pertama perdagangan.
Selain memperoleh tambahan modal ekspansi, perusahaan juga mendapatkan manfaat lain setelah menjadi emiten terbuka. Status tersebut meningkatkan transparansi tata kelola perusahaan sekaligus memperkuat citra bisnis di mata investor.
Perdagangan Jumat menjadi ujian berikutnya bagi IHSG setelah kembali mendekati level psikologis 6.000. Selama sentimen global tidak berubah drastis dan arus beli domestik tetap bertahan, indeks masih memiliki peluang menjaga tren positif hingga penutupan pekan. R-02

