Jenazah Novia Sihotang Siswi Latsarmil SPPI Tiba di Kampung Halaman dan Langsung Dimakamkan Malam Hari
Keluarga memakamkan Novia Rahmadhani Sihotang (25), siswa Latsarmil program SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) Koperasi Desa/Merah Putih di Kota Padangsidimpuan, Rabu, 24 Juni 2026. (sumber: kompas.com)
SUMUT, SabangMerauke News - Sirene ambulans terdengar memecah suasana sore di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Wek V, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, Rabu, 24 Juni 2026.
Kendaraan itu membawa jenazah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta Latihan Dasar Kemiliteran atau Latsarmil Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih yang meninggal dunia saat mengikuti pelatihan di Jakarta.
Sekitar pukul 17.00 WIB, ambulans berhenti di depan rumah keluarga. Sejumlah kerabat sudah berdiri menunggu sejak beberapa jam sebelumnya. Ketika pintu belakang dibuka, tangisan langsung pecah dari keluarga yang selama sehari terakhir berusaha menerima kabar duka tersebut.
Ibunda Novia, Tiur, tak kuasa menahan kesedihan. Suaranya terdengar memanggil nama anak perempuan yang beberapa hari sebelumnya masih sempat berbincang melalui telepon.
Tangis itu menjalar ke seluruh halaman rumah dan membuat suasana berubah menjadi lautan duka. "Viaaa... anakku... Oh Viaaa," teriak sang ibu sambil mendekati peti jenazah.
Peti berwarna cokelat kemudian diturunkan dari ambulans. Sejumlah warga membantu membawa jenazah masuk ke rumah duka. Di dalam peti, Novia sudah dibungkus kain kafan. Keluarga bergantian mendekat untuk memberikan penghormatan terakhir.
Adik almarhumah terlihat terus memandangi wajah kakaknya. Kalimat-kalimat pendek keluar di tengah isak tangis yang sulit dihentikan. Kehilangan itu terasa datang terlalu cepat bagi keluarga besar Sihotang. "Kak Via, kenapalah cepat kali kau pergi tinggalkan kami," ujar sang adik sambil memegang peti jenazah.
Suasana haru berlangsung selama sekitar tiga puluh menit. Kerabat berdatangan silih berganti. Banyak di antara mereka memilih diam. Sebagian lain memeluk keluarga yang masih terpukul menerima kenyataan tersebut.
Seorang alim ulama setempat kemudian mengingatkan keluarga agar proses pemakaman segera dilakukan. Waktu sudah menjelang malam dan jenazah harus segera dishalatkan sebelum dibawa ke tempat pemakaman umum.
"Mengingat waktu sudah menjelang malam, sebaiknya proses pemakaman disegerakan agar berjalan lancar," kata seorang alim ulama di lokasi.
Tak lama kemudian, jenazah dibawa menggunakan ambulans milik Serikat Tolong Menolong di lingkungan setempat menuju masjid terdekat. Warga ikut mengiringi perjalanan terakhir Novia. Barisan kendaraan bergerak perlahan melewati jalan-jalan yang mulai gelap.
Usai dishalatkan, rombongan bergerak menuju area pemakaman umum di kawasan perbukitan Kota Padangsidimpuan. Cahaya lampu sederhana menerangi lokasi pemakaman. Kondisi malam yang gelap tak mengurangi semangat warga membantu proses penguburan.
Tangisan kembali terdengar ketika peti diturunkan ke liang lahat. Ibunda dan saudara-saudara Novia tak mampu menyembunyikan kesedihan. Beberapa kali mereka memanggil nama perempuan muda yang sebelumnya berangkat dengan harapan besar mengikuti program nasional tersebut.
Di sisi lain, sang ayah, Syawaluddin Sihotang, berusaha tetap tegar. Ia terlihat memeluk anak-anaknya yang lain sembari menyaksikan proses pemakaman berlangsung. Meski wajahnya menyimpan duka mendalam, ia berusaha menguatkan keluarga.
Pemakaman berlangsung lancar hingga sekitar pukul 19.15 WIB. Setelah seluruh rangkaian selesai, keluarga dan warga meninggalkan area pemakaman untuk kembali ke rumah duka.
Kepergian Novia menyisakan cerita yang masih sulit diterima keluarganya. Perempuan berusia 25 tahun itu diketahui berangkat ke Jakarta pada Jumat, 13 Juni 2026. Ia mengikuti pendidikan dan latihan dalam Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih yang dipusatkan di lingkungan Pusat Bahasa Kodiklat TNI Angkatan Udara.
Menurut Syawaluddin Sihotang, putrinya berangkat dalam kondisi sehat. Tidak ada tanda-tanda yang membuat keluarga khawatir saat melepas keberangkatannya ke Jakarta.
Novia bahkan terlihat antusias menjalani tahapan pelatihan yang direncanakan berlangsung selama satu bulan. "Dia berangkat tanggal 13 Juni 2026. Rencananya mengikuti kegiatan selama satu bulan di sana," ujar Syawaluddin Sihotang, ayah Novia.
Novia merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Di lingkungan keluarga, ia dikenal dekat dengan saudara-saudaranya. Kehadirannya sering menjadi penghubung dalam berbagai kegiatan keluarga.
Dua hari sebelum kabar duka datang, komunikasi masih terjalin seperti biasa. Novia sempat menelepon keluarga dari lokasi pelatihan.
Percakapan itu kini menjadi kenangan terakhir yang terus diingat orang-orang terdekatnya. "Ada bertelepon dengan keluarga. Kami sama sekali tidak menyangka kabar seperti ini datang," kata Syawaluddin.
Kabar meninggalnya Novia diterima keluarga pada Selasa, 23 Juni 2026 sore. Informasi tersebut langsung membuat keluarga terkejut. Sejak saat itu rumah keluarga dipenuhi kerabat dan warga yang datang memberikan dukungan.
Duka mendalam terasa di setiap sudut rumah hingga malam pemakaman. Banyak warga mengenang Novia sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Kehadirannya selama ini meninggalkan kesan baik di lingkungan tempat tinggalnya.
Kini, perempuan muda yang berangkat membawa harapan untuk berkontribusi dalam pembangunan desa itu telah beristirahat di tanah kelahirannya. Perjalanan yang dimulai dari Padangsidimpuan menuju Jakarta berakhir di sebuah perbukitan sunyi pada Rabu malam, 24 Juni 2026.
Di bawah cahaya lampu sederhana dan iringan doa keluarga, Novia Rahmadhani Sihotang mengakhiri perjalanan hidupnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat yang mengenalnya. R-02

