Daya Saing Indonesia Anjlok ke Peringkat 48 Dunia, Pemerintah Mulai Bongkar Penyebab Utamanya
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News – Posisi daya saing Indonesia di tingkat global mengalami penurunan cukup tajam. Dalam laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026, Indonesia turun delapan tingkat dari posisi 40 pada tahun lalu menjadi peringkat 48 dari total 70 negara yang disurvei. Pemerintah pun langsung bergerak mencari akar persoalan yang menyebabkan merosotnya posisi Indonesia tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap hasil survei tersebut. Berbagai aspek yang menjadi penghambat daya saing nasional akan dievaluasi secara menyeluruh agar Indonesia dapat kembali meningkatkan posisinya di tingkat dunia.
"Ya nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking. Jadi kita akan lihat aja dari sana," ujar Airlangga kepada wartawan di Kementerian Koordinator Perekonomian, Rabu (24/6/2026).
Penurunan peringkat ini menjadi perhatian serius karena daya saing suatu negara sering dijadikan indikator penting bagi investor dalam menentukan tujuan investasi. Semakin tinggi daya saing, semakin besar pula kepercayaan dunia usaha untuk menanamkan modal dan memperluas bisnisnya.
Airlangga mengatakan, salah satu aspek yang menjadi perhatian pemerintah adalah sektor energi. Menurutnya, ketersediaan energi yang stabil dan berkelanjutan merupakan fondasi utama bagi tumbuhnya iklim usaha yang sehat dan kompetitif.
Ia menjelaskan, negara yang memiliki sistem energi yang kuat umumnya lebih unggul dalam menarik investasi dan mengembangkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari industri manufaktur, transportasi hingga jasa.
"Nah ya tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apapun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi, jasa. Nah itu stabil, makanya ada kriteria level 1 sampai level 4," kata Airlangga.
Meski demikian, Airlangga optimistis Indonesia masih memiliki daya tarik besar di mata investor global. Salah satu faktor pendukungnya adalah potensi energi baru dan terbarukan atau renewable energy yang semakin mendapat perhatian dunia.
Menurutnya, tren global saat ini menunjukkan banyak negara dan pelaku usaha yang mulai mengalihkan investasi mereka ke negara-negara yang memiliki sumber energi hijau dan berkelanjutan. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut.
"Nah kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy," ujarnya.
Selain energi, pemerintah juga tengah mengkaji berbagai masukan yang diperoleh dari sejumlah lembaga internasional, termasuk hasil evaluasi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Menurut Airlangga, berbagai isu yang muncul dalam evaluasi OECD tidak jauh berbeda dengan hasil survei IMD.
"Nah tentu kita akan pick and choose aja kalau yang masalah ini. Toh, ini juga kemarin dalam review termasuk juga dengan sektoral OECD maupun dengan berbagai negara lain. Nah kita mendapatkan beberapa isu yang muncul, isunya nggak terlalu beda," jelasnya.
Berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia memang menghadapi sejumlah tantangan besar yang dinilai memengaruhi daya saing nasional.
Pertama, kondisi ekonomi global yang masih bergejolak dinilai memberi tekanan terhadap keamanan energi nasional. Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global membuat banyak negara harus menyesuaikan strategi ekonominya, termasuk Indonesia.
Kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia disebut masih berada dalam kondisi yang relatif stagnan. Meski tetap tumbuh positif, laju pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk meningkatkan daya saing secara signifikan dibandingkan negara-negara lain yang bergerak lebih cepat.
Ketiga, penyesuaian alokasi anggaran pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Kebijakan fiskal yang lebih selektif dinilai mempengaruhi percepatan pembangunan di sejumlah sektor strategis.
Selain itu, IMD juga menyoroti persoalan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Infrastruktur yang belum merata serta kompetensi SDM yang masih perlu ditingkatkan menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia untuk bersaing di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Tak hanya itu, keterbatasan akses terhadap sumber pendanaan juga disebut sebagai tantangan yang perlu segera diatasi. Dunia usaha membutuhkan dukungan pembiayaan yang lebih luas agar mampu meningkatkan produktivitas dan inovasi.
Penurunan posisi Indonesia dari peringkat 40 menjadi 48 ini menjadi sinyal penting bahwa upaya memperkuat daya saing nasional harus dilakukan secara lebih agresif. Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan untuk membenahi berbagai hambatan yang selama ini menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi dan investasi.
Meski menghadapi tantangan, pemerintah tetap optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk bangkit. Dengan potensi sumber daya alam, energi terbarukan yang melimpah, serta pasar domestik yang besar, Indonesia diyakini masih mampu meningkatkan daya saingnya dan kembali menempati posisi yang lebih baik di tingkat global.
Langkah evaluasi yang kini dilakukan pemerintah diharapkan tidak hanya menemukan penyebab penurunan peringkat, tetapi juga menghasilkan kebijakan konkret yang mampu mempercepat reformasi ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan dunia. (R-05)

