Bukan Sulap Bukan Sihir, IHSG Rontok Berjemaah Saat Dolar AS Ngamuk Ugal-Ugalan
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,56 persen ke level 5.883,88 pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026. Bursa yang sempat dibuka menguat itu mendadak kehilangan tenaga hingga menembus batas psikologis 6.000.
Tekanan datang berlapis, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, pelemahan rupiah, sikap hati-hati investor global, hingga hasil evaluasi MSCI yang belum memberi angin segar bagi pasar modal Indonesia.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG ditutup melemah 217,45 poin ke posisi 5.883,88. Indeks LQ45 ikut terseret turun 20,26 poin atau 3,39 persen ke level 578,17. Padahal sejak awal sesi, pasar sempat bergerak di zona hijau dan menyentuh level 6.171 sebelum akhirnya berbalik arah.
Pergerakan itu menggambarkan suasana pasar yang sedang tidak nyaman. Investor memilih mengurangi risiko dan menahan transaksi besar. Aset-aset di negara berkembang ikut terkena imbas ketika dana global bergerak menuju instrumen yang dianggap lebih aman.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter dunia. Pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta penguatan dolar AS membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.
"Dari sisi global, investor masih melihat perkembangan suku bunga dan pergerakan yield. Situasi itu membuat aset berisiko menjadi kurang diminati," kata Elandry Pratama, Rabu, 24 Juni 2026.
Tekanan bertambah ketika nilai tukar rupiah sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu aksi ambil untung pada sejumlah saham yang sebelumnya sudah mengalami kenaikan cukup tinggi.
Di dalam negeri, pasar juga masih menunggu kepastian pelaksanaan sejumlah program ekonomi dan kebijakan fiskal pemerintah. Pelaku pasar ingin mengetahui seberapa besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, serta kondisi fiskal jangka panjang.
Situasi itu membuat dana asing belum bergerak agresif masuk ke pasar saham Indonesia. Investor institusi lebih selektif dan memilih emiten yang memiliki fundamental kuat serta likuiditas tinggi.
Elandry menilai posisi Indonesia sebenarnya masih cukup menarik dibanding beberapa negara kawasan. Valuasi saham dinilai masih kompetitif. Hanya saja, pasar membutuhkan kepastian lebih kuat terkait stabilitas ekonomi dan arah kebijakan pemerintah.
"Aliran dana asing masih cenderung memilih sikap menunggu. Mereka ingin melihat stabilitas nilai tukar dan efektivitas kebijakan ekonomi yang sedang berjalan," ujarnya.
Selain faktor global dan domestik, perhatian investor juga tertuju pada hasil Annual Market Classification Review dari MSCI. Lembaga indeks global tersebut masih menempatkan Indonesia dalam kategori Emerging Market.
Meski status itu tidak berubah, MSCI memberikan sejumlah catatan terkait transparansi kepemilikan saham, validitas free float, serta indikasi coordinated trading di pasar modal Indonesia. Catatan tersebut membuat pasar belum memperoleh sentimen positif baru.
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, mengatakan hasil evaluasi MSCI belum mampu mengangkat optimisme investor. "MSCI tetap menempatkan Indonesia sebagai Emerging Market, tetapi ada beberapa catatan yang masih menjadi perhatian pasar," kata Herditya Wicaksana, Rabu, 24 Juni 2026.
Kekhawatiran bertambah setelah muncul kemungkinan Indonesia dapat turun kelas menjadi Frontier Market jika reformasi pasar modal tidak menunjukkan perkembangan berarti hingga evaluasi berikutnya pada November 2026.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyebut pasar sedang merespons risiko tersebut dengan sangat hati-hati. "Investor masih menunggu efektivitas reformasi pasar modal yang sedang berjalan," ujar Alrich Paskalis Tambolang.
Tekanan teknikal juga terlihat cukup kuat. Setelah menembus level 6.000, indikator pergerakan menunjukkan momentum pelemahan masih mendominasi pasar. Kondisi itu membuat sebagian pelaku pasar memilih mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi.
Sepanjang perdagangan, hampir seluruh sektor bergerak di zona merah. Sektor barang baku menjadi yang paling dalam tertekan dengan penurunan 6,26 persen. Di belakangnya menyusul sektor energi yang turun 5,83 persen serta sektor infrastruktur sebesar 4,47 persen.
Deretan saham unggulan juga tidak mampu menahan tekanan jual. Mayoritas emiten berkapitalisasi besar berakhir di wilayah negatif hingga penutupan perdagangan.
Data bursa menunjukkan frekuensi transaksi mencapai lebih dari dua juta kali dengan nilai perdagangan Rp15,13 triliun. Sebanyak 646 saham melemah, hanya 103 saham menguat, sementara 210 saham bergerak stagnan.
Di tengah derasnya tekanan, beberapa saham masih mampu mencatat kenaikan harga. PTPW, BHAT, LINK, SCMA, dan BINA masuk dalam daftar penguatan terbesar. Sebaliknya, CTTH, ARKO, BABY, BIPI, dan ENRG menjadi saham dengan penurunan terdalam.
Dari kawasan Asia, pergerakan bursa juga berlangsung beragam. Indeks Nikkei ditutup melemah, sedangkan Shanghai, Kuala Lumpur, dan Strait Times masih mampu bertahan di zona hijau. Perbedaan arah tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar Indonesia datang dari kombinasi faktor domestik dan eksternal.
Meski kondisi saat ini belum sepenuhnya kondusif, sejumlah analis melihat peluang pemulihan jangka pendek masih terbuka. Harapan itu muncul jika tekanan global mulai mereda dan nilai tukar rupiah kembali stabil.
Herditya memperkirakan IHSG berpotensi mengalami technical rebound pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Area support diperkirakan berada di kisaran 5.850, sedangkan resistance berada di level 5.930.
Sementara Alrich menilai pasar masih memiliki risiko melanjutkan pelemahan menuju area 5.750 sebelum menemukan titik keseimbangan baru.
Bagi investor, beberapa hari ke depan akan menjadi periode penting. Pasar akan memantau perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah, arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta langkah reformasi pasar modal Indonesia.
Sore itu, angka 5.883 menjadi penutup perdagangan yang pahit. Dari pembukaan yang sempat hijau hingga penutupan yang tenggelam di lautan merah, IHSG memperlihatkan satu pesan sederhana. Ketika ketidakpastian datang bersamaan, pasar bergerak lebih cepat dibanding perkiraan siapa pun. R-02

