Trump Masih Mengancam Iran Meski Kesepakatan Swiss Tercapai, Teheran Langsung Beri Peringatan Keras!
Presiden AS, Donald Trump. Foto: Dok SM News
SWISS, SabangMerauke News – Harapan dunia terhadap meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai muncul setelah kedua negara mencapai kesepakatan teknis dalam perundingan di Swiss. Namun, optimisme itu belum sepenuhnya menghapus ancaman konflik. Presiden AS, Donald Trump, justru kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran meski jalur diplomasi telah dibuka.
Pernyataan Trump itu sontak memicu respons tegas dari Iran. Pemerintah Republik Islam menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap ancaman apa pun dan siap mengambil langkah balasan jika Amerika Serikat kembali menekan secara militer maupun politik.
Kesepakatan yang dicapai dalam perundingan di Swiss pada Senin (22/6) menjadi titik penting dalam hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan. Dalam pembicaraan tersebut, Iran dan Amerika Serikat menyepakati pembentukan empat kelompok kerja yang akan membahas isu-isu strategis.
Media pemerintah Iran melaporkan, kelompok kerja tersebut terdiri dari bidang Penghentian Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan pembentukan kelompok kerja ini merupakan langkah awal menuju penyelesaian berbagai persoalan yang selama bertahun-tahun membayangi hubungan kedua negara.
"Empat kelompok kerja akan dibentuk untuk membahas penghentian sanksi, isu nuklir, pembangunan ekonomi serta mekanisme pengawasan dan implementasi," kata Gharibabadi seperti dikutip kantor berita pemerintah Iran.
Selain isu nuklir, pembicaraan di Swiss juga menghasilkan kesepahaman mengenai jalur komunikasi guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan mendorong penghentian konflik di Lebanon.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjadi salah satu tokoh penting dalam proses tersebut, menyebut pembicaraan di Burgenstock, Swiss, menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Menurutnya, terdapat sejumlah capaian penting yang dapat membuka jalan bagi stabilitas kawasan, termasuk pembahasan mengenai Selat Hormuz, Lebanon, pengecualian minyak Iran dari sejumlah pembatasan, serta pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan.
"Menurut saya, perjalanan ini menghasilkan pencapaian yang baik, terutama mengenai diskusi tentang Selat Hormuz, Lebanon, masalah pengecualian minyak, dan pencairan dana yang dibekukan," ujar Ghalibaf.
Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz
Meski kesepakatan telah dicapai, Iran tetap menunjukkan sikap tegas terkait kepentingan strategisnya. Ghalibaf menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah pengelolaan Iran sesuai hukum internasional.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Teheran tidak akan membiarkan negara lain mencampuri urusan kawasan yang dianggap vital bagi kepentingannya.
"Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran sesuai dengan hukum internasional," tegasnya.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran penting dunia. Sebagian besar distribusi minyak global melewati wilayah tersebut sehingga setiap ketegangan di kawasan itu selalu menjadi perhatian internasional.
AS Tangguhkan Sanksi Minyak Iran
Sejalan dengan hasil pembicaraan di Swiss, Amerika Serikat juga mengambil langkah yang dianggap sebagai bentuk itikad baik.
Washington dilaporkan menangguhkan sementara sebagian sanksi terhadap minyak Iran. Langkah itu dilakukan setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan Iran bersedia kembali menerima inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Selain itu, Iran juga berpotensi memperoleh keringanan sanksi serta pencairan sebagian aset yang selama ini dibekukan.
Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa proses tersebut masih berada pada tahap awal dan membutuhkan pembicaraan lanjutan.
"Tentu saja, kita percaya bahwa kita masih berada di awal pekerjaan ini dan harus melanjutkan upaya kita," kata Ghalibaf.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menepis anggapan bahwa Teheran memberikan konsesi baru terkait program nuklirnya.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak bernegosiasi mengenai hak-haknya dalam program nuklir nasional. Hubungan dengan IAEA, kata Baghaei, tetap berjalan sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh parlemen Iran dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Trump Kembali Mengancam Iran
Di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung, Presiden Donald Trump justru kembali mengeluarkan pernyataan bernada ancaman.
Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan apabila Iran dianggap tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibangun.
"Jika Iran tidak memenuhi kesepakatan mereka, atau jika mereka tidak berperilaku baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan," kata Trump kepada wartawan pada Senin (22/6) waktu setempat.
Pernyataan itu segera memancing reaksi keras dari Iran. Ghalibaf mengingatkan bahwa ancaman Amerika Serikat tidak akan mengubah sikap Teheran.
Menurutnya, Iran telah menghadapi tekanan selama bertahun-tahun dan tidak akan gentar menghadapi ancaman baru.
"Tidakkah mereka berpikir bahwa jika ancaman mereka berpengaruh, mereka tidak akan sampai pada keadaan putus asa seperti sekarang? Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika," ujarnya.
Ghalibaf bahkan menegaskan bahwa militer Iran telah berada dalam posisi siap menghadapi segala kemungkinan.
"Sebaiknya mereka berhati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap untuk merespons mereka dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang akan bertindak," tegasnya.
Pernyataan saling mengancam tersebut menunjukkan bahwa meskipun kesepakatan teknis telah dicapai di Swiss, hubungan Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari kata stabil. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi mampu meredam ketegangan, atau justru ancaman baru akan kembali menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih besar. (R-05)

