Survei Dunia 2026: Israel Jadi Negara Paling Dibenci, AS Ikut Terpuruk hingga Masuk Lima Besar!
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Citra Israel di mata masyarakat dunia mengalami kemerosotan tajam. Dalam hasil Democracy Perceptions Index (DPI) 2026, Israel menempati posisi terbawah sebagai negara dengan persepsi paling negatif secara global. Bahkan, negara itu berada di bawah Korea Utara dan Afghanistan, sebuah fakta yang menunjukkan perubahan besar opini publik internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Temuan ini menjadi sorotan luas karena menggambarkan bagaimana konflik berkepanjangan dan kebijakan luar negeri dapat mempengaruhi reputasi suatu negara. Tidak hanya Israel, Amerika Serikat (AS) yang selama ini dikenal sebagai sekutu utamanya juga mengalami penurunan citra yang cukup drastis.
Skor Persepsi Global
Israel: -24
Korea Utara: -19
Afghanistan: -19
Iran: -16
Amerika Serikat: -16
Berdasarkan hasil survei tersebut, Israel memperoleh skor persepsi bersih terendah dibanding seluruh negara yang masuk dalam penilaian. Posisi itu menempatkan Israel sebagai negara yang paling tidak disukai oleh masyarakat dunia.
Di bawah Israel terdapat Korea Utara, Afghanistan, dan Iran yang selama bertahun-tahun juga menghadapi tantangan citra di tingkat internasional. Namun, anjloknya persepsi terhadap Israel menjadi perhatian khusus karena terjadi dalam waktu relatif singkat dan berkaitan erat dengan situasi geopolitik yang terus memanas.
Konflik yang berlangsung di Gaza menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi opini publik dunia. Selain itu, keterlibatan Israel dalam berbagai ketegangan regional, termasuk dengan Lebanon, Suriah, dan Iran, turut memperkuat sentimen negatif terhadap negara tersebut.
Sejak Oktober 2023, perhatian dunia tertuju pada operasi militer Israel di Gaza yang menimbulkan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Ribuan korban jiwa, kerusakan infrastruktur sipil, serta gelombang pengungsian besar-besaran menjadi isu yang terus mendapat sorotan dari berbagai organisasi internasional.
Kondisi tersebut memicu kritik luas dari masyarakat global. Sejumlah pihak menilai operasi militer yang dilakukan Israel telah menyebabkan penderitaan kemanusiaan dalam skala besar, sehingga mempengaruhi persepsi masyarakat dunia terhadap negara itu.
Tidak hanya Israel, dampak persepsi negatif juga dirasakan Amerika Serikat. Sebagai sekutu utama Israel, AS kini masuk ke dalam lima besar negara dengan persepsi paling negatif di dunia.
Hasil survei menunjukkan skor persepsi bersih AS merosot dari +22 persen pada 2024 menjadi -16 persen pada 2026. Penurunan sebesar 38 poin dalam dua tahun tersebut mencerminkan adanya perubahan signifikan terhadap cara dunia memandang kekuatan terbesar tersebut.
Banyak faktor yang disebut mempengaruhi penurunan citra AS. Selain dukungan berkelanjutan terhadap Israel, kebijakan luar negeri Washington juga menjadi sorotan. Hubungan yang kerap memanas dengan sekutu NATO, kebijakan tarif yang agresif, serta berbagai keputusan geopolitik lainnya disebut berkontribusi terhadap perubahan persepsi publik global.
Dalam survei tersebut, AS bahkan dinilai sebagai salah satu ancaman utama bagi stabilitas global, berada di bawah Rusia dan Israel dalam daftar persepsi ancaman dunia.
Temuan ini menjadi peringatan bahwa pengaruh besar di panggung internasional tidak selalu sejalan dengan tingkat penerimaan masyarakat dunia. Dukungan politik dan militer terhadap konflik yang berkepanjangan dinilai dapat memengaruhi reputasi sebuah negara secara luas.
Sementara itu, di tengah memburuknya citra Israel dan AS, sejumlah negara justru berhasil mempertahankan reputasi positif di mata dunia.
Swiss dan Kanada menjadi dua negara dengan citra terbaik secara global. Keduanya memperoleh skor persepsi bersih sebesar +36 persen, menempatkan mereka di posisi teratas.
Di bawahnya terdapat Jepang dengan skor +34 persen, disusul Swedia +33 persen, serta Italia yang juga masuk dalam kelompok negara dengan reputasi paling positif.
Dominasi negara-negara Eropa dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa stabilitas politik, kualitas hidup yang tinggi, serta pendekatan diplomasi yang moderat masih menjadi faktor penting dalam membangun citra positif sebuah negara.
Negara-negara anggota Uni Eropa secara rata-rata memperoleh skor persepsi sekitar +26 persen. Meski demikian, terdapat variasi antarnegara. Prancis dan Inggris Raya, misalnya, hanya mencatat skor sekitar +11 persen, lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya.
Persepsi positif terhadap Swiss, Kanada, Jepang, maupun Swedia tidak hanya dibentuk oleh kondisi ekonomi. Faktor seperti keterbukaan masyarakat, tata kelola pemerintahan yang baik, serta posisi diplomatik yang cenderung netral menjadi alasan mengapa negara-negara tersebut mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat dunia.
Adapun Democracy Perceptions Index 2026 merupakan salah satu survei demokrasi terbesar di dunia yang melibatkan responden dari berbagai negara. Survei ini tidak hanya mengukur tingkat demokrasi, tetapi juga menilai bagaimana masyarakat memandang negara lain berdasarkan kebijakan, peran internasional, serta pengaruhnya terhadap stabilitas global.
Hasil survei tersebut memperlihatkan bahwa citra sebuah negara kini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh bagaimana negara itu menjalankan kebijakan yang dinilai berdampak terhadap perdamaian dan kemanusiaan dunia. Di tengah perubahan geopolitik yang terus berlangsung, opini publik global menjadi faktor yang semakin menentukan posisi sebuah negara di mata internasional. (R-05)

