IHSG Melemah 1,29 Persen Menjelang Pengumuman Klasifikasi Pasar MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah pada sesi pertama perdagangan Selasa. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah pada sesi pertama perdagangan Selasa. Tekanan jual meningkat menjelang pengumuman hasil tinjauan klasifikasi pasar dari MSCI. Pelaku pasar memilih berhati-hati menghadapi ketidakpastian sentimen global dan domestik.
Berdasarkan data perdagangan hingga siang hari, IHSG turun 1,29 persen. Indeks berada di level 6.037,52 saat sesi pertama berakhir. Posisi tersebut mendekati level psikologis penting 6.000 yang dicermati investor.
Padahal, IHSG sempat bergerak positif pada awal perdagangan pagi ini. Indeks bahkan menyentuh level tertinggi harian di angka 6.121,77. Namun tekanan jual berangsur meningkat hingga membalikkan arah pergerakan pasar.
Aktivitas transaksi tetap berlangsung cukup tinggi sepanjang sesi pertama perdagangan. Volume transaksi mencapai 11,45 miliar saham dengan nilai Rp6,64 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat menembus 1,02 juta transaksi hingga penutupan siang.
Pelemahan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 sepanjang perdagangan. Indeks tersebut turun 0,47 persen menuju level 596,398. Sentimen negatif terlihat mendominasi mayoritas saham berkapitalisasi besar.
Data perdagangan menunjukkan 221 saham berhasil mencatat penguatan pada sesi pertama. Sebanyak 437 saham bergerak melemah sepanjang perdagangan siang hari. Sementara 152 saham lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga.
Sejumlah saham unggulan menjadi pemberat utama pergerakan IHSG hari ini. Saham PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM turun 4,39 persen. Harga saham emiten tambang pelat merah tersebut berada di Rp2.830.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk. Saham BBCA melemah 2,01 persen menuju level Rp6.100. Koreksi saham perbankan besar turut membebani pergerakan indeks secara keseluruhan.
Fokus investor kini tertuju pada pengumuman MSCI yang dijadwalkan Rabu. Pengumuman tersebut menentukan status pasar modal Indonesia dalam klasifikasi global. Indonesia berpeluang bertahan sebagai Emerging Market atau mengalami penurunan status.
Perhatian pasar meningkat setelah MSCI merilis hasil evaluasi terbaru. Lembaga tersebut menurunkan penilaian aksesibilitas arus informasi pasar Indonesia. Status kriteria information flow berubah dari positif menjadi negatif.
Meski demikian, mayoritas indikator aksesibilitas pasar masih mendapat penilaian positif. Dari 18 kriteria yang dievaluasi, hanya dua memperoleh penilaian negatif. Salah satunya terkait arus informasi dan liberalisasi pasar valuta asing.
Dalam laporan resminya, MSCI menyoroti sejumlah tantangan pasar modal Indonesia. Transparansi kepemilikan saham masih menjadi perhatian bagi investor global. Selain itu, praktik perdagangan terkoordinasi dinilai memengaruhi pembentukan harga pasar.
“Masalah terkait kelayakan investasi masih ada akibat keterbatasan transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga yang wajar,” tulis MSCI dalam laporannya.
MSCI juga menyoroti keterbatasan informasi pasar dalam bahasa Inggris. Faktor tersebut dinilai mengurangi kemudahan akses informasi bagi investor internasional. Hasil pengumuman besok diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan pasar berikutnya.(R-04)

