Parenting VOC Bikin Anak Lebih Mandiri? Ini Fakta Mengejutkan yang Diungkap Para Ahli
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News - Keinginan setiap orangtua untuk memiliki anak yang mandiri sering kali membuat mereka menerapkan pola asuh yang tegas, disiplin, bahkan cenderung keras. Belakangan, istilah Parenting VOC ramai diperbincangkan dan disebut-sebut mampu membentuk anak menjadi lebih tangguh serta tidak bergantung pada orang lain. Namun, apakah anggapan tersebut benar?
Faktanya, sejumlah penelitian dan pandangan para ahli justru menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu otoriter tidak selalu menghasilkan anak yang mandiri. Sebaliknya, pola pengasuhan ini dapat membuat anak kesulitan mengambil keputusan sendiri dan kurang percaya diri ketika menghadapi masalah.
Istilah Parenting VOC sendiri merupakan metafora yang diambil dari nama perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang dikenal memiliki gaya kepemimpinan keras, penuh perintah, dan menuntut kepatuhan tanpa banyak ruang untuk berdiskusi.
Dalam konteks pengasuhan, Parenting VOC merujuk pada gaya pengasuhan otoriter, yaitu pola asuh yang menempatkan orangtua sebagai pemegang kendali penuh. Anak dituntut menaati aturan yang telah ditetapkan tanpa banyak bertanya, sementara pelanggaran terhadap aturan biasanya diikuti dengan hukuman atau konsekuensi yang tegas.
Bagi sebagian orangtua, pola asuh ini dianggap efektif untuk membangun disiplin sejak dini. Anak dinilai akan terbiasa bertanggung jawab, memiliki keteraturan, dan mampu menjalankan tugasnya secara mandiri.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Berdasarkan informasi dari KinderCare, sebuah jaringan taman kanak-kanak di Amerika Serikat, anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter justru berisiko tidak mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri. Mereka cenderung hanya mengikuti instruksi dan arahan yang diberikan tanpa belajar mengeksplorasi pilihan atau mengambil keputusan berdasarkan pemikiran sendiri.
Anak mungkin terlihat patuh dan disiplin di hadapan orangtua. Akan tetapi, kepatuhan tersebut sering kali muncul karena rasa takut terhadap hukuman, bukan karena kesadaran atau pemahaman mengenai alasan di balik aturan yang diterapkan.
Kondisi ini membuat anak kurang terbiasa menghadapi persoalan secara mandiri. Ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan inisiatif atau keputusan penting, mereka dapat merasa ragu dan bergantung pada arahan orang lain.
Sementara itu, menurut Grow by WebMD, gaya pengasuhan otoriter umumnya menerapkan aturan yang kaku dan minim penjelasan. Orangtua mengharapkan anak mematuhi seluruh ketentuan tanpa banyak bertanya.
Akibatnya, hubungan antara orangtua dan anak berpotensi menjadi kurang terbuka. Anak mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, mengungkapkan emosi, maupun mendiskusikan kesalahan yang mereka lakukan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan emosional anak.
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan melalui National Library of Medicine menyebutkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter memang cenderung memiliki perilaku yang lebih tertib dan mampu mengikuti instruksi dengan baik.
Mereka juga terbiasa mematuhi aturan serta memiliki kemampuan menjalankan tugas secara terstruktur. Namun, manfaat tersebut tidak selalu sejalan dengan kemampuan anak untuk menjadi pribadi yang benar-benar mandiri.
Sebaliknya, beberapa dampak negatif juga dapat muncul, seperti meningkatnya perilaku agresif, rasa malu yang berlebihan, kesulitan menjalin hubungan sosial, hingga rendahnya kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan tekanan tinggi juga berpotensi mengalami kesulitan mengelola emosi, terutama rasa marah dan kecewa. Mereka mungkin tidak terbiasa mengekspresikan perasaan secara sehat karena lebih sering dituntut untuk patuh daripada diajak berdiskusi.
Para ahli menilai, membangun kemandirian anak tidak cukup hanya dengan menerapkan aturan dan disiplin yang ketat. Anak justru perlu diberikan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan, mencoba hal-hal baru, serta memahami konsekuensi dari pilihan yang mereka buat.
Orangtua dapat tetap menerapkan disiplin, tetapi disertai komunikasi yang hangat dan terbuka. Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua dapat menjelaskan alasan sebuah aturan dibuat, mendengarkan pendapat anak, serta membantu mereka menemukan solusi.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga memahami nilai tanggung jawab dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Kemandirian sejati lahir ketika anak merasa dipercaya, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai tahap usianya. Karena itu, Parenting VOC yang identik dengan pola asuh keras dan otoriter tidak dapat dijadikan jaminan bahwa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Sebaliknya, keseimbangan antara disiplin, kasih sayang, serta komunikasi yang sehat justru menjadi fondasi penting agar anak tumbuh percaya diri, mampu mengambil keputusan, dan siap menghadapi tantangan kehidupannya sendiri. (R-05)

