Hasil Resmi Pembicaraan AS-Iran di Swiss Terungkap! Ada Peta Jalan 60 Hari, Dunia Kini Menanti Langkah Berikutnya
Ilustrasi Pimpinan AS dan Iran. Foto: SM News/Created by Al
SWISS, SabangMerauke News – Setelah berlangsung dalam suasana penuh ketegangan dan diwarnai ancaman politik serta gejolak konflik di Timur Tengah, pembicaraan maraton antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Danau Lucerne, Burgenstock, Swiss, akhirnya menghasilkan kemajuan penting. Kedua pihak sepakat membuka jalan menuju perjanjian baru dengan tenggat waktu 60 hari, sebuah perkembangan yang dipandang sebagai titik balik bagi stabilitas kawasan.
Meski belum menghasilkan deklarasi bersama secara resmi, para mediator menyatakan bahwa negosiasi berlangsung dalam suasana "positif dan konstruktif". Kesepakatan awal yang dicapai menjadi sinyal bahwa Washington dan Teheran masih membuka ruang diplomasi di tengah situasi yang sangat sensitif.
Pertemuan yang berlangsung hingga Minggu (21/6/2026) malam itu merupakan putaran pertama dari upaya penyelesaian konflik berdasarkan 14 poin nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani pada awal pekan.
Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner. Sementara Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Ghalibaf, serta sejumlah pejabat ekonomi dan energi strategis negara tersebut.
Sepakat Susun Peta Jalan 60 Hari
Mediator dari Pakistan dan Qatar menyampaikan bahwa kedua pihak menyetujui sebuah peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan final. Dalam periode tersebut, akan dilakukan pembicaraan teknis yang lebih mendalam mengenai isu-isu strategis yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
Selain itu, AS dan Iran juga menyepakati pembentukan jalur komunikasi khusus guna mencegah insiden di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Tidak hanya itu, sebuah Komite Tingkat Tinggi (KTT) juga dibentuk untuk mengawasi jalannya proses negosiasi. Komite ini akan membawahi sejumlah kelompok kerja yang fokus pada isu nuklir, pencabutan sanksi, implementasi kesepakatan, hingga penyelesaian sengketa.
Langkah ini dipandang sebagai terobosan diplomatik yang cukup besar, mengingat hubungan kedua negara selama beberapa tahun terakhir berada dalam titik paling rendah.
Iran Fokus pada Sanksi dan Ekspor Minyak
Dari pihak Iran, isu utama yang dibawa dalam pembicaraan adalah pencabutan sanksi ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan ekspor minyak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa pembicaraan juga mencakup upaya mengakhiri konflik yang berkaitan dengan Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Sementara itu, CEO perusahaan minyak nasional Iran, Hamid Bovard, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai ekspor minyak berlangsung secara serius.
Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, hampir setengah dari ekspor minyak bulanan Iran telah berhasil dikirim ke pasar internasional. Hal ini menunjukkan bahwa Teheran sangat berharap adanya pelonggaran sanksi yang selama ini membatasi ruang gerak ekonominya.
Bahkan, seorang anggota tim negosiasi Iran menyebut bahwa rancangan proposal mengenai keringanan sanksi sementara untuk sektor minyak dan produk turunannya telah selesai disusun.
Ancaman Trump Sempat Picu Walk Out
Namun, jalannya negosiasi tidak sepenuhnya mulus. Pada Minggu pagi, mantan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang meminta Iran mengendalikan Hizbullah di Lebanon.
Trump bahkan mengancam akan "menghantam Iran dengan sangat keras lagi" jika Teheran dianggap terus mendukung kelompok yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Ketua Parlemen Iran Mohammad Ghalibaf.
Ia menegaskan bahwa ancaman Washington tidak akan mengubah sikap Teheran.
"Jika ancaman mereka efektif, mereka tidak akan berada pada posisi seperti sekarang," ujarnya.
Sebagai bentuk protes, delegasi Iran sempat menghentikan pembicaraan selama sekitar 80 menit. Media Iran melaporkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan respons yang tepat terhadap pernyataan Trump.
Meski demikian, penghentian itu bersifat sementara dan komunikasi diplomatik tetap berjalan.
Wakil Presiden AS JD Vance menilai perundingan tersebut menghasilkan kemajuan signifikan.
Dalam konferensi pers di Burgenstock, ia mengatakan bahwa Washington mengulurkan tangan kepada rakyat Iran untuk membuka lembaran baru hubungan kedua negara.
Namun, Vance menegaskan bahwa Iran harus menunjukkan komitmen untuk menghentikan aktivitas yang dianggap memicu ketidakstabilan kawasan dan meninggalkan ambisi pengembangan senjata nuklir.
"Jika itu dilakukan, maka AS bersedia mengubah hubungan dengan Iran secara fundamental," katanya.
Trump sendiri tetap memberikan tekanan politik. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut memiliki "opsi 60 hari" dan dapat mengambil langkah apa pun setelah periode tersebut berakhir.
Situasi Lebanon Masih Membara
Sementara negosiasi berlangsung di Swiss, situasi di Lebanon masih menjadi perhatian utama.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan selama dianggap perlu.
Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, apa pun hasil diplomasi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Hizbullah menolak keberadaan pasukan Israel di Lebanon dan mengancam akan merespons setiap pelanggaran gencatan senjata.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel pada Jumat dan Sabtu menewaskan sedikitnya 105 orang dan melukai lebih dari 150 lainnya.
Meski penuh tekanan, negosiasi AS dan Iran belum berakhir. Kontak diplomatik melalui jalur belakang masih terus berlangsung.
Seorang diplomat senior AS yang terlibat dalam pembicaraan menegaskan bahwa delegasi Iran masih berada di Burgenstock dan diskusi terus dilakukan.
"Kami berharap dapat terus bekerja sepanjang malam," ujarnya.
Sumber lain juga menyebutkan bahwa pembicaraan teknis diperkirakan berlanjut sepanjang pekan ini. Fokus utamanya adalah menyusun rincian kesepakatan yang dapat diterima kedua belah pihak.
Kini, dunia menanti apakah peta jalan 60 hari yang telah disepakati benar-benar mampu mengakhiri ketegangan panjang antara AS dan Iran, atau justru kembali terganjal oleh konflik yang masih membara di Timur Tengah. (R-05)

