Bursa Efek Merah Membara, IHSG Terjun ke 6.172 Setelah BI Naikkan Suku Bunga
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali masuk ruang perawatan, Kamis, 18 Juni 2026. Pasar saham Indonesia ditutup merah. Tekanan datang dari dalam dan luar negeri. Investor memilih bermain aman sepanjang perdagangan.
Indeks Harga Saham Gabungan berakhir di 6.172,34. Angka itu turun 48,40 poin. Persentasenya melemah 0,78 persen. Bursa sempat lebih dalam sebelum sedikit bangkit.
Sepanjang hari indeks bergerak liar. Level tertinggi mencapai 6.197,17. Posisi terendah menyentuh 6.073,72. Jarak keduanya menunjukkan pasar sedang gelisah.
Mayoritas saham ikut terseret turun. Sebanyak 419 saham melemah. Hanya 258 saham menguat. Sebanyak 137 saham bergerak datar.
Aktivitas perdagangan tetap ramai. Nilai transaksi mencapai Rp17,95 triliun. Volume perdagangan menembus 25 miliar saham. Frekuensi transaksi mendekati dua juta kali.
Tekanan terbesar datang dari sektor keuangan. Infrastruktur ikut tertekan. Sektor kesehatan juga tak mampu bertahan. Ketiganya menjadi pemberat utama indeks.
Sektor infrastruktur memimpin penurunan. Koreksinya mencapai 1,96 persen. Sektor keuangan turun 1,32 persen. Sektor kesehatan melemah 1,07 persen.
Namun, tidak semua sektor terluka. Sektor bahan baku justru bersinar. Kenaikannya mencapai 2,49 persen. Sektor transportasi dan teknologi ikut menghijau.
Pelaku pasar sedang menimbang banyak risiko. Salah satunya adalah keputusan Bank Indonesia. Bank sentral menaikkan suku bunga acuan. Kenaikannya sebesar 25 basis poin.
Kini BI Rate berada di 5,75 persen. Kebijakan itu bertujuan menjaga stabilitas. Namun, pasar saham merespons negatif. Investor khawatir biaya dana semakin mahal.
Tekanan juga datang dari luar negeri. Sikap hawkish bank sentral Amerika menjadi perhatian. Pasar global ikut bergerak hati-hati. Dana asing cenderung menunggu kepastian.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, melihat kombinasi sentimen besar. Menurutnya, pasar sedang menghadapi tekanan berlapis. Faktor global dan domestik datang bersamaan. "IHSG sempat turun cukup dalam," kata Muhammad Wafi.
Muhammad Wafi menyebut beberapa pemicu utama. Ada sikap hawkish The Fed. Ada tekanan terhadap rupiah. Ada pula penantian hasil review MSCI. "Belum ada sinyal reversal," ujarnya.
Menurut Muhammad Wafi, tren teknikal masih menurun. Support berada di area 6.170. Resistance terlihat di kisaran 6.400. Pasar membutuhkan katalis kuat untuk berbalik.
Pergerakan rupiah ikut menjadi sorotan. Mata uang Garuda ditutup melemah. Nilainya berada di sekitar Rp17.794 per dolar AS. Kondisi ini menambah kekhawatiran investor.
Pelemahan rupiah terjadi setelah keputusan BI. Kenaikan suku bunga belum mampu mengangkat sentimen. Pasar justru fokus pada risiko ekonomi. Arah dana asing masih belum jelas.
Di kelompok saham unggulan, tekanan terlihat jelas. Saham bank besar menjadi sasaran jual. Beberapa emiten berkapitalisasi jumbo terkoreksi tajam. Kondisi ini menyeret indeks lebih dalam.
Saham Bank Central Asia atau BBCA turun. Bank Rakyat Indonesia atau BBRI ikut melemah. Bank Mandiri atau BMRI juga tertekan. Ketiganya memiliki bobot besar terhadap indeks.
Di sisi lain ada beberapa bintang. Saham AMMN memimpin penguatan LQ45. Kenaikannya mencapai lebih dari tujuh persen. BRPT dan DEWA ikut mencuri perhatian.
Daftar saham paling bersinar juga menarik. CBUT melesat hampir 25 persen. JECC dan ZONE ikut melonjak. Investor memburu saham tertentu secara selektif.
Sebaliknya, beberapa saham terjerembab. KOTA masuk daftar pelemahan terdalam. DKFT ikut terkoreksi tajam. ISAT menjadi salah satu sorotan pasar.
Dari sisi transaksi, saham TPIA paling ramai. Nilai perdagangannya mencapai Rp1,5 triliun. BBCA berada di posisi berikutnya. BBRI melengkapi daftar teratas.
Volume perdagangan terbesar dicatat oleh BUMI. DEWA berada di urutan kedua. DSSA dan GOTO ikut aktif diperdagangkan. Aktivitas tinggi menunjukkan pasar belum sepi.
Meski indeks turun, minat investor belum hilang. Banyak pelaku pasar memanfaatkan koreksi. Sebagian melakukan akumulasi. Sebagian lainnya memilih mengambil untung.
Kondisi ini membuat pasar terlihat dinamis. Tekanan jual memang dominan. Namun, aksi beli tetap muncul. Terutama saat indeks menyentuh area bawah.
Fenomena itu terlihat ketika IHSG sempat menyentuh 6.073. Setelahnya, muncul pembelian selektif. Indeks perlahan naik kembali. Meski akhirnya tetap ditutup merah.
Pasar kini menunggu hasil review MSCI. Faktor ini diperkirakan menjadi penentu berikutnya. Investor memilih menahan langkah. Semua menanti arah baru.
Muhammad Wafi melihat peluang rebound. Namun, syaratnya cukup berat. Hasil MSCI harus lebih baik daripada perkiraan pasar. Jika tidak, tekanan bisa berlanjut. "Jika hasil MSCI lebih baik, ada potensi rebound," katanya.
Sebaliknya, risiko masih terbuka lebar. Area 6.000 hingga 6.100 menjadi perhatian. Jika sentimen memburuk, indeks bisa menguji wilayah tersebut. Pelaku pasar mulai menghitung skenario terburuk.
Meski demikian, peluang tetap ada. Saham-saham unggulan mulai dilirik. Harga yang turun dianggap menarik. Investor jangka panjang mulai mengamati.
Perdagangan Kamis menunjukkan satu hal penting. Pasar sedang berhati-hati. Tekanan memang besar. Namun, likuiditas tetap terjaga.
IHSG memang melemah. Namun, aktivitas transaksi masih tinggi. Itu menandakan pasar belum kehilangan napas. Investor hanya sedang menunggu alasan kuat untuk kembali menyerang. R-02

