Prabowo Kaget Harga Sawit Anjlok, Amran Langsung Laporkan 274 Perusahaan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga sawit mendadak turun saat harga dunia justru naik. Kondisi itu membuat Presiden Prabowo Subianto turun tangan. Istana pun ikut menyoroti nasib jutaan petani sawit. Isu penurunan harga sawit itu akhirnya masuk meja Presiden, Kamis, 17 Juni 2026.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dipanggil ke Istana. Topik utamanya hanya satu, yakni harga TBS. TBS merupakan tandan buah segar sawit petani. Komoditas ini menjadi sumber penghasilan jutaan keluarga. Pergerakannya selalu menjadi perhatian besar.
Amran mengaku mendapat telepon langsung dari presiden. Pertanyaan yang muncul terdengar sederhana. Namun, dampaknya sangat besar bagi petani. "Pak Mentan, kenapa terjadi penurunan?" kata Amran menirukan Prabowo.
Pertanyaan itu muncul karena situasinya dianggap janggal. Harga minyak sawit mentah dunia sedang naik. Nilai tukar dolar Amerika Serikat juga menguat. Biasanya kondisi seperti itu menguntungkan petani. Harga TBS seharusnya ikut terkerek naik. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Amran menyebut situasi tersebut sebagai anomali. Istilah itu berulang kali disampaikan. Sebab pergerakannya dinilai tidak masuk akal. "Harga CPO dunia naik, dolar menguat, TBS turun," ujarnya. Fenomena itu membuat pemerintah bergerak cepat. Pelaku usaha sawit dari berbagai daerah dikumpulkan. Pertemuan besar pun digelar di Jakarta.
Sekitar 700 pelaku usaha hadir dalam forum tersebut. Mereka mewakili sekitar 1.900 pabrik kelapa sawit. Diskusi berlangsung cukup alot. Pemerintah meminta penjelasan langsung. Pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Mengapa harga sawit petani justru merosot?
Menurut Amran, tidak ada jawaban memuaskan. Tidak ada alasan kuat ditemukan saat itu. Situasi tersebut membuat pemerintah semakin curiga. "Kami tanya, tidak ada yang bisa jawab," katanya.
Di balik angka-angka itu terdapat jutaan keluarga. Petani sawit menjadi kelompok paling terdampak. Pendapatan mereka ikut tertekan. Amran mengingatkan pentingnya menjaga petani plasma. Jumlahnya diperkirakan mencapai 15 juta orang. Angka itu sangat besar.
Jika dihitung bersama anggota keluarga, jumlahnya meningkat. Totalnya bisa mencapai sekitar 30 juta jiwa. Dampaknya jelas tidak kecil. Karena itu pemerintah memilih bergerak cepat. Harga sawit tidak boleh dibiarkan jatuh lama. Petani harus mendapat perlindungan.
Amran meminta pelaku usaha berhati-hati. Jangan sampai keuntungan perusahaan mengorbankan petani. Pesan itu disampaikan secara tegas. "Jangan mengorbankan petani plasma sawit," ujarnya.
Setelah berbagai pertemuan dilakukan, hasil mulai terlihat. Banyak perusahaan mulai menaikkan harga pembelian. Kondisinya berangsur membaik. Pemerintah mencatat ada 274 perusahaan terindikasi. Mereka belum menyesuaikan harga saat masalah muncul. Nama-nama tersebut kemudian menjadi perhatian.
Langkah lanjutan segera dilakukan. Surat dikirim kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Tujuannya untuk tindak lanjut. Amran mengaku surat itu juga ditembuskan. Kapolda dan Direktorat Kriminal Khusus ikut menerima. Pengawasan diperketat di daerah.
Langkah tersebut memberi dampak cukup cepat. Sebagian besar perusahaan mulai mengikuti arahan. Harga TBS perlahan kembali bergerak. "Dari 274, sebagian besar sudah menaikkan," kata Amran.
Kini jumlah perusahaan yang belum menyesuaikan harga berkurang. Tersisa sekitar seratus lebih perusahaan. Persentasenya hanya lima hingga sepuluh persen. Menurut Amran, kondisi sudah jauh membaik. Sekitar 90 persen harga kembali normal. Pemerintah optimistis pemulihan berlanjut.
Ia memperkirakan perbaikan selesai dalam waktu dekat. Satu minggu menjadi target yang disampaikan. Harapan besar disematkan kepada pasar. "Kami yakin satu minggu pulih," ujarnya. Masalah harga sawit sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Keluhan datang dari berbagai daerah. Petani dan asosiasi mulai bersuara.
Mereka mengadu kepada Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Pertemuan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026. Keluhan utama berkaitan dengan harga. Saat itu harga TBS turun cukup dalam. Bahkan melewati batas bawah di beberapa daerah. Petani mulai cemas.
Situasi tersebut muncul setelah pengumuman tertentu. Pemerintah memperkenalkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Perusahaan itu disiapkan untuk ekspor satu pintu. Kebijakan tersebut memicu reaksi pasar. Banyak pelaku usaha menunggu kepastian mekanisme. Ketidakjelasan memunculkan kekhawatiran.
Sudaryono atau Mas Dar melihat dampak psikologis. Pelaku pasar menjadi ragu mengambil langkah. Akibatnya harga ikut terguncang. "Ada kekhawatiran dan ketidakpastian," kata Sudaryono.
Efek psikologis itu kemudian menyebar cepat. Pasar menjadi lebih hati-hati. Aktivitas pembelian melambat. Dalam dunia komoditas, sentimen sangat berpengaruh. Kadang harga bergerak sebelum kebijakan diterapkan. Persepsi menjadi faktor penting.
Meski demikian pemerintah mencoba meredam gejolak. Komunikasi dengan pelaku usaha terus dilakukan. Tujuannya mengembalikan kepercayaan pasar. Di tengah situasi tersebut, Prabowo ikut memberi perhatian. Isu sawit dianggap penting bagi ekonomi rakyat. Terutama di daerah sentra perkebunan.
Riau menjadi salah satu wilayah utama. Sumatera Utara juga sangat bergantung pada sawit. Begitu pula Kalimantan dan daerah lainnya. Ketika harga turun, efeknya langsung terasa. Aktivitas ekonomi desa ikut melambat. Daya beli masyarakat berkurang.
Karena itu perhatian Presiden menjadi penting. Pemerintah ingin memastikan harga tetap sehat. Petani tidak boleh menjadi korban. Amran menegaskan harga saat ini membaik. Sebagian besar perusahaan kembali membeli normal. Situasinya jauh lebih stabil.
Namun pengawasan tetap berjalan. Pemerintah masih memantau perusahaan tersisa. Evaluasi dilakukan setiap hari. Selain membahas sawit, Amran juga menyinggung pangan. Kondisi stok nasional menjadi perhatian. Hilirisasi pertanian ikut dibicarakan.
Program hilirisasi dianggap penting ke depan. Nilai tambah harus dinikmati dalam negeri. Petani diharapkan mendapat manfaat lebih besar. Untuk sektor sawit, harapan tertuju pada DSI. Skema ekspor satu pintu diyakini memberi manfaat. Kebocoran sistem diharapkan berkurang.
Amran optimistis kebijakan itu membantu petani. Kesejahteraan mereka menjadi tujuan utama. Pemerintah ingin rantai perdagangan lebih sehat. "Satu pintu bisa mengangkat kesejahteraan petani," katanya.
Meski demikian, pekerjaan belum selesai. Harga sawit masih terus dipantau. Stabilitas pasar menjadi target utama. Bagi jutaan petani, harga TBS bukan sekadar angka. Di balik angka itu ada biaya sekolah. Ada kebutuhan rumah tangga.
Ada pula harapan untuk masa depan keluarga. Karena itulah gejolak harga selalu menjadi perhatian. Terutama di daerah penghasil sawit. Kini pemerintah memastikan pemulihan berjalan. Mayoritas perusahaan telah mengikuti arahan. Harga mulai mendekati kondisi normal.
Namun, cerita ini memberi pelajaran penting. Pasar sawit sangat sensitif terhadap kebijakan. Komunikasi menjadi kunci utama. Saat harga dunia naik tetapi petani merugi, pertanyaan pasti muncul. Pertanyaan itulah yang akhirnya sampai ke Istana. Dan dari sanalah perhatian terhadap nasib petani sawit kembali menjadi sorotan nasional. R-02

