Gubernur BI Kembali Tekan Tombol Darurat, Rupiah Langsung Berbalik Arah
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, kembali mengambil langkah agresif untuk menjaga rupiah. Pada Kamis, 18 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan itu langsung disambut penguatan rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Bagi pasar keuangan, keputusan tersebut bukan sekadar angka. Langkah itu menjadi sinyal kuat. Bank Indonesia menunjukkan kesiapannya menghadapi gelombang ketidakpastian yang datang dari luar negeri.
Rupiah ditutup menguat 0,16 persen. Nilainya berada di level Rp17.710 per dolar Amerika Serikat. Penguatan itu terjadi setelah hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diumumkan pada Kamis sore.
Kenaikan BI Rate kali ini memiliki arti penting. Ini merupakan kenaikan ketiga dalam kurun sekitar satu bulan. Sepanjang tahun 2026, total kenaikan suku bunga acuan telah mencapai 100 basis poin.
Di tengah dinamika ekonomi global, Perry Warjiyo memilih mengutamakan stabilitas. Langkah tersebut menjadi penegasan arah kebijakan moneter Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.
"Kenaikan ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," kata Perry Warjiyo, Kamis, 18 Juni 2026.
Pernyataan itu menjelaskan arah kebijakan Bank Indonesia saat ini. Prioritas utama bukan membuka ruang pelonggaran ekonomi. Prioritas utamanya adalah menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Pilihan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Dari Amerika Serikat, Federal Reserve masih mempertahankan sikap ketat. Meski belum menaikkan suku bunga dalam pertemuan terakhir, proyeksi terbaru menunjukkan peluang kenaikan masih terbuka.
Kondisi itu membuat dolar AS tetap kuat. Investor global masih menempatkan dana pada instrumen berbasis dolar. Arus modal menuju aset aman terus meningkat.
Akibatnya, sebagian besar mata uang Asia bergerak melemah. Ringgit Malaysia menjadi salah satu yang mengalami tekanan terbesar. Kondisi serupa terjadi pada won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, dolar Taiwan, yuan China, hingga dolar Hong Kong.
Di tengah tekanan tersebut, rupiah justru mampu mencatat penguatan. Meski begitu, perjalanan mata uang Garuda masih belum sepenuhnya aman.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, menilai kekuatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. "Saat bank sentral utama dunia mempertahankan suku bunga tinggi, dolar AS tetap menjadi tujuan utama investor global," ujar Rizal.
Menurut Rizal, pelaku pasar saat ini masih mencermati dampak lanjutan kenaikan BI Rate. Investor juga terus memantau pergerakan modal asing yang keluar dan masuk ke Indonesia.
Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Inflasi masih terkendali. Pertumbuhan ekonomi tetap berjalan. Meski begitu, tekanan eksternal membuat rupiah belum sepenuhnya lepas dari risiko.
Rizal memperkirakan pergerakan rupiah pada Jumat, 19 Juni 2026, masih akan berlangsung fluktuatif. Rentang pergerakan diperkirakan berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Peluang penguatan tetap tersedia. Sentimen positif dari pasar global dapat menjadi pendorong tambahan. Masuknya modal asing juga dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.
Akan tetapi, ruang penguatan diperkirakan tidak terlalu lebar. Investor masih memilih menunggu perkembangan kebijakan moneter global serta dinamika geopolitik internasional.
Pandangan serupa disampaikan Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange atau ICDX. "Permintaan terhadap aset safe haven masih tinggi akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global," kata Muhammad Amru Syifa.
Menurut Amru, kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang menghadapi tantangan besar. Rupiah termasuk salah satu mata uang yang harus berhadapan dengan tekanan tersebut setiap hari.
Di dalam negeri, keputusan Bank Indonesia juga memunculkan berbagai penilaian. Sebagian analis menilai bank sentral masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level sebelumnya.
Inflasi Indonesia memang masih relatif terkendali. Data Mei 2026 menunjukkan inflasi tahunan berada di level 3,08 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran pemerintah.
Meski demikian, Bank Indonesia memilih bergerak lebih cepat. Langkah antisipatif dianggap lebih penting dibanding menunggu tekanan semakin besar.
Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,75 persen, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 4,75 persen. Suku bunga lending facility meningkat menjadi 6,50 persen.
Kebijakan itu menunjukkan keseriusan bank sentral menjaga stabilitas ekonomi nasional. Fokus utama tetap berada pada nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
Di pasar keuangan, keputusan tersebut memberi pesan jelas. Bank Indonesia tidak ingin pelemahan rupiah berlangsung terlalu dalam saat ketidakpastian global masih tinggi.
Perjalanan rupiah dalam beberapa pekan mendatang masih akan dipengaruhi banyak faktor. Arah dolar AS menjadi salah satu penentu utama. Pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat juga akan menjadi perhatian investor.
Harga komoditas global ikut memberi pengaruh. Arus dana asing di pasar saham dan surat berharga negara juga berpotensi mengubah arah pergerakan rupiah setiap saat.
Di tengah berbagai tantangan itu, Perry Warjiyo memilih mengambil langkah lebih dulu. Bank Indonesia tidak menunggu tekanan semakin besar.
Keputusan menaikkan suku bunga untuk ketiga kalinya dalam sekitar satu bulan menjadi bukti arah kebijakan tersebut. Pesan yang ingin disampaikan sederhana.
Rupiah harus dijaga. Stabilitas harus dipertahankan. Kepercayaan pasar tidak boleh hilang. Di saat banyak mata uang kawasan masih berjuang menghadapi tekanan global, Bank Indonesia mencoba memastikan rupiah tetap memiliki pijakan yang kuat.
Langkah itu mungkin belum mengakhiri tekanan yang ada. Akan tetapi, langkah tersebut menunjukkan satu hal penting. Bank sentral Indonesia memilih bergerak lebih cepat sebelum badai menjadi lebih besar. R-02

