BNN Minta Tambahan Rp5,05 Triliun, Ancaman Narkoba dan Etomidate Jadi Sorotan
Badan Narkotika Nasional mengusulkan tambahan anggaran Rp5,05 triliun untuk tahun 2027. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Badan Narkotika Nasional mengusulkan tambahan anggaran Rp5,05 triliun untuk tahun 2027. Usulan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI. Tambahan dana diarahkan memperkuat pencegahan, pemberdayaan masyarakat, serta pemberantasan narkotika.
Kepala BNN, Suyudi Ario Seto, menjelaskan pagu indikatif lembaganya mencapai Rp1,44 triliun. BNN menilai anggaran tersebut belum mencukupi kebutuhan program nasional. Karena itu, tambahan anggaran diajukan untuk mendukung prioritas pemerintah.
“Untuk mendukung Asta Cita dan program prioritas Presiden, BNN mengusulkan tambahan anggaran tahun 2027 sebesar Rp5,05 triliun,” kata Suyudi. Usulan tersebut terdiri dari pembiayaan luar negeri Rp3,54 triliun. Sementara dana rupiah murni mencapai Rp1,51 triliun.
Jika disetujui, total anggaran BNN pada 2027 mencapai Rp6,49 triliun. Sebagian dana dialokasikan untuk memperkuat pencegahan penyalahgunaan narkotika nasional. Program tersebut menyasar keluarga, desa, sekolah, serta kelompok remaja.
Anggaran pencegahan mencapai Rp157,35 miliar dalam usulan tambahan tersebut. Dana digunakan memperkuat ketahanan keluarga dan desa bersih narkotika. Program lain mencakup penyebaran informasi serta integrasi kurikulum antinarkotika.
BNN juga mengalokasikan Rp112,77 miliar untuk pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan. Program tersebut menyasar wilayah peredaran gelap narkotika serta tanaman terlarang. Fokus kegiatan meliputi pelatihan keterampilan dan pengembangan ekonomi alternatif.
Salah satu program unggulan berupa Grand Design Alternative Development atau GDAD. Program ini mendorong masyarakat beralih ke komoditas produktif bernilai ekonomi. BNN mencontohkan transformasi petani ganja menjadi petani kopi di Aceh.
“Masyarakat diberdayakan untuk membudidayakan komoditas alternatif yang berkelanjutan dan memiliki nilai tambah ekonomi,” ujar Suyudi. Menurutnya, pendekatan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Strategi itu juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap tanaman terlarang.
Dalam sektor penegakan hukum, BNN mengusulkan anggaran Rp579,27 miliar. Dana tersebut digunakan memperkuat penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika. Operasi penangkapan buronan narkoba juga masuk dalam prioritas lembaga.
BNN turut menyoroti peningkatan penggunaan zat etomidate di tengah masyarakat. Lembaga tersebut mengaku belum memiliki alat deteksi cepat untuk zat tersebut. Kondisi itu dinilai menghambat proses identifikasi pengguna di lapangan.
“Kita juga dihadapkan pada munculnya tren zat seperti etomidate yang mengalami peningkatan signifikan,” kata Suyudi. Tambahan anggaran akan digunakan mengadakan rapid test serta tes urine khusus. Pengadaan alat tersebut dinilai mendesak untuk mempercepat penanganan kasus.
“Alat deteksi ini sangat kami perlukan untuk penindakan di lapangan, sementara saat ini BNN belum memilikinya sama sekali,” tegas Suyudi. Pemeriksaan saat ini masih bergantung pada laboratorium narkotika BNN. Proses tersebut memerlukan waktu lebih panjang dibanding deteksi cepat.
BNN menilai ketersediaan alat deteksi etomidate akan meningkatkan efektivitas penindakan. Identifikasi pengguna dapat dilakukan lebih cepat dan akurat di lapangan. Langkah tersebut sekaligus memperkuat upaya penyelamatan korban penyalahgunaan narkotika.(R-03)

