Rupiah Melemah ke Rp17.747 per Dolar AS Jelang Keputusan The Fed
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Mata uang Garuda dibuka turun ke level Rp17.738 per dolar AS sebelum bergerak ke Rp17.747 per dolar AS.
Pelemahan ini mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama lima hari perdagangan berturut-turut. Pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Pergerakan rupiah menjadi perhatian pelaku pasar sejak awal perdagangan. Setelah sempat menunjukkan pemulihan cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, tekanan kembali muncul. Dolar AS mendapatkan dukungan dari sikap investor yang cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter global.
Sebelumnya, rupiah menikmati periode penguatan yang cukup impresif. Dalam lima hari perdagangan terakhir, mata uang Indonesia menguat sekitar 1,41 persen. Kinerja tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia.
Penguatan tersebut berjalan seiring membaiknya sentimen pasar global. Ketegangan geopolitik yang sempat memicu kekhawatiran mulai mereda. Harga minyak dunia juga kembali turun ke bawah level 80 dolar AS per barel sehingga memberi ruang bernapas bagi pasar negara berkembang.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga sempat datang dari arah kebijakan fiskal. Pelaku pasar menyambut baik berbagai sinyal pemerintah terkait pengelolaan anggaran negara. Penyesuaian belanja sejumlah program prioritas dianggap membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal.
Situasi berubah saat pasar mulai fokus pada agenda bank sentral Amerika Serikat. Investor global memilih mengurangi aktivitas transaksi berisiko tinggi. Langkah tersebut terlihat pada sejumlah pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.
Rabu pagi, rupiah dibuka melemah sekitar 0,25 persen ke level Rp17.735 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah pasar keuangan domestik libur memperingati Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Aktivitas perdagangan kembali berlangsung dengan tekanan yang cukup terasa.
Meski rupiah melemah, indeks dolar AS atau DXY sebenarnya masih bergerak relatif stabil. Pada pukul 09.00 WIB, indeks tersebut berada di kisaran 99,5. Angka itu menunjukkan dolar belum mengalami lonjakan besar, meski tetap cukup kuat untuk menekan sebagian mata uang Asia.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung beragam. Yen Jepang mencatat penguatan tipis. Yuan China juga bergerak positif. Dolar Singapura ikut menguat meski dalam kisaran terbatas.
Sebaliknya, rupiah dan won Korea Selatan mengalami tekanan lebih besar dibanding mata uang kawasan lainnya. Won tercatat melemah sekitar 0,27 persen. Rupiah bahkan sempat menjadi mata uang dengan pelemahan harian terbesar di Asia.
Data perdagangan menunjukkan rupiah turun hingga 0,37 persen ke level Rp17.755 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya yang berada di sekitar Rp17.690 per dolar AS. Angka itu memperlihatkan tekanan masih membayangi pasar valuta asing domestik.
Bila melihat kinerja sepanjang tahun berjalan, posisi rupiah bahkan lebih menantang. Sejak awal 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,11 persen. Angka tersebut menjadi pelemahan terdalam dibanding mayoritas mata uang Asia lainnya.
Won Korea Selatan mengalami pelemahan sekitar 4,86 persen. Rupee India terkoreksi sekitar 4,96 persen. Baht Thailand melemah sekitar 3,31 persen.
Sementara itu, yuan China justru mampu mencatat penguatan sekitar 3,42 persen sepanjang tahun ini. Dolar Singapura juga masih berada di zona positif. Ringgit Malaysia bergerak relatif stabil dibanding mata uang lain di kawasan.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Faktor eksternal menjadi salah satu penyebab utama. Penguatan dolar AS dan perubahan arus modal global terus memengaruhi pasar domestik.
Fokus utama investor saat ini tertuju pada keputusan The Fed. Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen. Meski demikian, pasar lebih tertarik pada pernyataan lanjutan dan proyeksi ekonomi yang akan disampaikan.
Para ekonom memperkirakan The Fed akan menaikkan proyeksi inflasi. Ekspektasi pemangkasan suku bunga juga diperkirakan bergeser lebih lambat dibanding perkiraan sebelumnya. Situasi tersebut membuat investor memilih bersikap konservatif.
Selain keputusan suku bunga, pasar juga menunggu pembaruan dot plot. Dokumen tersebut berisi pandangan para pejabat The Fed mengenai arah suku bunga ke depan. Setiap perubahan dapat memengaruhi arus dana global.
Jika sinyal yang muncul cenderung ketat, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut. Kondisi tersebut dapat memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang. Rupiah menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen tersebut.
Di Korea Selatan, investor asing juga melakukan aksi jual cukup besar. Tercatat penjualan bersih saham mencapai sekitar 652 juta dolar AS dalam satu sesi perdagangan. Pergerakan itu ikut memberi tekanan terhadap won.
Indonesia menghadapi situasi yang hampir serupa. Pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, investor asing mencatat penjualan saham domestik sekitar 6 juta dolar AS secara harian. Dalam sepekan, nilai jual bersih mencapai hampir 750 juta dolar AS.
Arus keluar modal tersebut ikut memengaruhi nilai tukar rupiah. Ketika investor menjual aset domestik, permintaan dolar AS cenderung meningkat. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar.
Selain The Fed, perhatian pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 17 hingga 18 Juni 2026. Agenda ini dinilai penting karena BI sebelumnya mengambil langkah cukup agresif dalam menjaga stabilitas rupiah.
Pada awal Juni, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin melalui rapat mingguan. Sebelumnya, BI juga menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada rapat bulanan. Langkah tersebut menjadi sinyal kuat mengenai komitmen menjaga stabilitas nilai tukar.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan berikutnya. Sebagian besar analis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Fokus utama diperkirakan tetap tertuju pada stabilitas pasar keuangan dan pengendalian inflasi.
Meski ruang kenaikan suku bunga mulai terbatas, BI diperkirakan tetap mempertahankan nada kebijakan yang ketat. Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga kepercayaan investor. Stabilitas rupiah masih menjadi prioritas utama.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir. Ketidakpastian ekonomi global masih cukup tinggi. Arus modal internasional juga bergerak sangat cepat mengikuti perubahan kebijakan bank sentral utama dunia.
Rabu, 17 Juni 2026, menjadi hari yang penting bagi pasar keuangan global. Keputusan The Fed dan arah kebijakan Bank Indonesia akan menjadi penentu sentimen dalam beberapa pekan mendatang. Rupiah saat ini berada di persimpangan penting.
Setelah sempat menunjukkan penguatan selama lima hari berturut-turut, mata uang Garuda kembali menghadapi ujian. Investor menunggu kepastian. Pasar mencari arah baru. Rupiah pun kembali menjadi pusat perhatian dalam dinamika ekonomi kawasan Asia. R-02

