IHSG Melonjak 4,12 Persen, Saham Emas Jadi Mesin Penggerak Usai Kabar Damai AS-Iran
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona hijau dengan lonjakan 4,12 persen ke level 6.254,97. Penguatan tajam ini menjadi salah satu reli terbesar sepanjang tahun 2026. Kenaikan dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Kabar kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran menjadi bahan bakar utama pergerakan pasar.
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak agresif. Investor memburu saham-saham unggulan di berbagai sektor. Indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.345. Rentang perdagangan bergerak antara 6.118 hingga 6.345.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp30,14 triliun. Sebanyak 54,61 miliar saham berpindah tangan sepanjang perdagangan. Frekuensi transaksi mencapai 3,25 juta kali.
Mayoritas saham berakhir di zona hijau. Sebanyak 603 saham menguat. Sebanyak 125 saham melemah. Sebanyak 90 saham bergerak stagnan. Sektor barang baku menjadi motor utama penguatan. Sektor ini melonjak 7,26 persen. Sektor keuangan mengalami kenaikan 5,24 persen. Sektor industri menguat 4,51 persen.
Satu-satunya sektor yang terkoreksi adalah kesehatan. Sektor tersebut turun 0,67 persen. Tekanan jual masih terlihat pada beberapa emiten farmasi. Kondisi itu tidak mampu menahan laju penguatan indeks secara keseluruhan.
Saham-saham berbasis emas menjadi bintang perdagangan hari itu. Investor memborong emiten yang berkaitan dengan pertambangan emas. Lonjakan harga emas global menjadi pendorong utama.
Bumi Resources Minerals atau BRMS memimpin daftar penguatan. Saham ini melesat 24,52 persen ke posisi Rp660. Archi Indonesia atau ARCI menyusul dengan kenaikan 16,92 persen ke level Rp1.140.
Hartadinata Abadi atau HRTA naik 11,28 persen. Aneka Tambang atau ANTM melonjak 9,82 persen. Indika Energy atau INDY menguat 4,86 persen.
United Tractors atau UNTR juga mencatat kenaikan. Saham tersebut bertambah 1,11 persen. Merdeka Gold Resources atau EMAS turut bergerak positif meski kenaikannya terbatas.
Di kelompok saham unggulan, penguatan juga terlihat kuat. Sarana Menara Nusantara atau TOWR naik 13,3 persen. Darma Henwa atau DEWA menguat 12,1 persen.
Bumi Resources atau BUMI melonjak 10,1 persen. Amman Mineral Internasional atau AMMN naik 9,57 persen. Merdeka Copper Gold atau MDKA bertambah 7,87 persen.
Kenaikan besar pada saham emas sejalan dengan lonjakan harga logam mulia dunia. Pada perdagangan pasar spot, harga emas menembus US$4.338 per troy ons. Nilai tersebut melonjak 6,53 persen dalam satu hari.
Lonjakan emas terjadi setelah muncul kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Bloomberg melaporkan kedua negara dijadwalkan menandatangani perjanjian damai di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan tersebut melalui media sosial. Pernyataan itu segera direspons pasar global. Investor melihat peluang stabilitas geopolitik mulai terbentuk.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga mengonfirmasi tercapainya kesepakatan. Sementara Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan rencana untuk menghadiri acara penandatanganan.
Kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama dua bulan. Jalur pelayaran di Selat Hormuz juga akan dibuka kembali. Amerika Serikat disebut akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Kabar itu mengubah arah pasar komoditas global. Harga minyak yang sebelumnya bergerak tinggi langsung terkoreksi tajam. Minyak Brent turun sekitar 11 persen ke posisi US$82,8 per barel.
Turunnya harga minyak memberi harapan baru bagi ekonomi dunia. Risiko inflasi menjadi lebih terkendali. Bank sentral di berbagai negara mendapat ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga.
Kondisi tersebut memberi sentimen positif bagi pasar saham. Investor melihat peluang pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik. Dana investasi kembali mengalir ke aset berisiko seperti saham.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menilai penguatan IHSG mencerminkan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
"Kepercayaan investor terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia masih kuat. Stabilitas ekonomi memberi ruang bagi pasar untuk bergerak lebih positif," ujar Dony Oskaria, Senin, 15 Juni 2026.
Selain faktor global, pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Pelaku pasar memperhatikan arah kebijakan suku bunga acuan. Ekspektasi terhadap stabilitas rupiah ikut menopang optimisme perdagangan.
Analis Phintraco Sekuritas melihat penurunan harga minyak sebagai katalis penting. Biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan ekonomi. Situasi tersebut mendukung prospek pertumbuhan sektor industri dan konsumsi.
Bursa Asia juga bergerak searah dengan Indonesia. Indeks Nikkei Jepang melonjak 4,99 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,50 persen.
Indeks Shanghai menguat 1,61 persen. Indeks Strait Times Singapura bertambah 1,02 persen. Reli kawasan memperlihatkan optimisme investor terhadap perkembangan geopolitik global.
Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada agenda besar berikutnya. Penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran pada Jumat, 19 Juni 2026 menjadi fokus utama. Investor juga menunggu hasil evaluasi pasar dari MSCI serta keputusan Bank Indonesia.
Pergerakan IHSG pada Senin menunjukkan perubahan sentimen yang sangat kuat. Aliran dana kembali masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar. Sektor barang baku, keuangan, dan industri menjadi pemimpin reli.
Kondisi tersebut memberi sinyal baru bagi pasar modal Indonesia. Selama sentimen global tetap kondusif, peluang penguatan lanjutan masih terbuka. Investor tetap mencermati perkembangan geopolitik, harga komoditas, serta kebijakan moneter dalam beberapa hari mendatang. R-02

